Pembukaan pelatihan jurnalistik yang digagas Himpunan Pemuda Katingan (HAPAKAT) bekerjasama dengan PWI Kabupaten Katingan, Rabu (28/10/2020). (Foto: Ist)


PEMUDA, banyak orang menyebut mereka generasi penerus bangsa, ada juga yang mengatakan pemuda adalah aset besar negara. Bahkan, sampai ada juga yang menyatakan bahwa pemuda memiliki andil besar terhadap pembangunan. Pun ada pula yang paling ekstrem menyatakan, pemuda pun dapat 'menghancurkan' negara.

Konotasi tersebut merupakan segelintir anggapan yang lazim dan umum sering didengar dan dibicarakan masyarakat, baik obrolan di tingkat warung kopi, rumah makan, resto, meja legislatif hingga eksekutif.

Mengapa pemuda dikaitkan erat dengan frasa positif juga negatif? Wajar demikian, karena pemuda memiliki peran vital sebagai tongkat estafet kepemimpinan. Jika pemuda sudah dibina dengan baik dan benar, tentu mereka akan menjadi pengganti nahkoda kepemimpinan yang baik. Sebaliknya andaikan pemuda diabaikan, maka akan memberikan dampak penurunan pembangunan bahkan 'kehancuran'.

Usia pemuda tentunya tidaklah serasi lagi dikatakan usia emas, seperti apa yang disematkan untuk anak-anak di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Pemuda adalah berlian. Pemuda adalah permata paling berharga. Namun, permata akan kehilangan pesonanya jika hanya disimpan dalam kotak kecil tertutup nan terkunci rapat. Malahan permata itu tidak akan terlihat keindahannya kalau tertutup debu.

Ruang! Ya, itulah salah satu kunci utamanya. Pemuda harus diberikan wadah untuk berekspresi, berinovasi dan berinteraksi dalam berbagai bidang. Baik itu seni, budaya, pariwisata, pendidikan, keagamaan dan bidang-bidang lainnya.

Mengenai ruang ini, sudah banyak organisasi-organisasi kepemudaan yang menyediakan wadah pemuda untuk berkumpul. Itu dalam upaya membina pemuda. Namun, sudah maksimalkah jika hanya menyediakan ruang! Jawabannya tentu tidak.

Mari mengimajinasikan analogi seorang pelajar di sebuah sekolah. Jika saat tiba di ruang kelas kemudian duduk, diam, mendengarkan lalu pulang tanpa diberikan kesempatan menulis, kesempatan bertanya bahkan kesempatan menyerap ilmu oleh  gurunya.  Dalam kondisi tersebut semua orang bisa menyimpulkan kemungkinan besar yang akan menjadi bias.

Karena itulah, dalam standar mengajar seorang guru selalu meminta kepada peserta didik untuk aktif bertanya, menulis dengan baik. Sehingga dapat memperoleh ilmu dengan baik dan benar. Menarik inti dari analogi itu, selain adanya ruang juga harus ada kebebasan gerak bagi pemuda.

Strategi itulah yang dilakukan organisasi kepemudaan Himpunan Pemuda Katingan (Hapakat). Organisasi lokal Bumi Penyang Hinje Simpei ini memprioritaskan fasilitasi ruang dan gerak bagi pemuda untuk beraksi dan berkreasi.

Sejumlah kegiatan telah dilaksanakan Hapakat sebagai upaya stimulasi bagi pemuda untuk mengasah kemampuan diri. Satu diantaranya kegiatan Pelatihan Jurnalistik Milenial tahun 2020 dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-92 yang diselenggarakan di Aula Kantor PWI Kabupaten Katingan, Rabu (28/10).

Ketua Divisi Pendidikan dan Olahraga Hapakat, Hairul Saleh mengatakan, inisiasi menggiat pelatihan jurnalistik dilatarbelakangi dari pengamatan perkembangan kemajuan informasi teknologi yang semakin pesat. Sekarang ini, berbagai macam informasi ada di dunia maya. Ada yang bermanfaat, ada yang menjadi tidak berguna bahkan menjadi mudarat.

"Peserta yang mengikuti kegiatan pelatihan jurnalistik adalah para pemuda, khususnya kalangan pelajar tingkat SMA Sederajat dan perguruan tinggi," ujar Hairul Saleh,

Alasan utama memilih generasi muda dari kalangan pelajar dan mahasiswa sebagai peserta adalah untuk memberikan ilmu tulis menulis yang baik dan benar dalam dunia jurnalistik. Modal pemuda untuk beraksi di dunia jurnalistik yaitu dengan diberikan ilmu dasar-dasar jurnalistik. Dan untuk kreasi mereka adalah dengan menulis konten-konten yang bermanfaat.

"Dengan artian pelatihan jurnalistik adalah sebagai wadah atau ruangnya," imbuh putra Desa Samba Bakumpai, Kecamatan Katingan Tengah ini.

Lantas bagaimana dengan ruang kreasinya? Menurut pria yang pernah memegang gelar juara I cabang olahraga bulutangkis ganda putra, kategori pelajar SMP tahun 2006 silam pada even olimpiade pelajar tingkat Kabupaten Katingan ini, langkah-langkah yang diambil adalah dengan membentuk komunitas Jurnalisme Pemuda Katingan.

Dalam komunitas itulah pemuda dilatih secara maksimal setelah mendapatkan modal ilmu dasar-dasar jurnalistik. Aksinya adalah pemuda diarahkan menulis karya jurnalistik yang berdampak positif untuk pembangunan daerah.

"Dalam kreativitas kita fokuskan pemuda untuk menuliskan keindahan, potensi dan ragam objek wisata di Kabupaten Katingan. Kami yakin cara ini memberi dampak positif membantu Pemerintah Daerah dalam menggenjot dunia bisnis pariwisata. Yang menjadi tugas besar kita adalah menjaga komitmen dan konsistensi," lugas dia.

Upaya yang dilakukan Hapakat mungkin bukan berskala besar dan dapat menampung pemuda dalam bilangan angka yang banyak, dan juga hanya terlihat seperti memberikan seulas tali harapan bagi pemuda. Namun itulah salah satu itikad memperjuangkan eksistensi dan kapasitas pemuda.

Organisasi Hapakat dengan segenap kemampuan nya berupaya mencipta pemuda  sebagai permata yang bernilai dan berkilau, meskipun permata itu hanya sedikit. Gerakan  Hapakat patut diapresiasi.

Yang tidak diinginkan dan ironis jika ada banyak permata yang ditampung dalam peti besar tanpa ada yang melihat kilauannya. Berikanlah ruang dan berikanlah kebebasan bergerak menuju hal positif bagi kaum pemuda.

Mari semua organisasi yang pro pemuda, mari bersama kita membina dan melatih pemuda kita menuju generasi penerus bangsa yang handal. Selamat Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2020 "Pemuda Maju".

(Penulis adalah jurnalis di Kabupaten Katingan dan pengurus HAPAKAT)

123

Editor : Jony
Reporter :