Ilustrasi. (foto: net)


KAPAN pandemi Covid-19 berakhir? Tak bisa ditebak. Apa hal-hal yang bisa terjadi jika pernikahan ditunda-tunda? Tak bisa ditebak juga. Maka itu, bagi sejoli yang sudah ngedot sekali menikah di masa pandemi ini, sebaiknya segeralah menikah. Karena, ya, itu tadi. Jika menunggu pandemi berakhir, tak ada yang tahu kapan pandemi usai.

Di sisi lain, tak ada juga yang bisa menebak-nebak apa yang mungkin bisa terjadi jika upacara pawiwahan ditunda-tunda di tengah dewasa ayu yang datang dan pergi silih-berganti.

Saya ingat pada awal-awal masa pandemi. Pada April atau Mei, usai masa uncal balung, usai Hari Galungan dan Kuningan, terdapat banyak dewasa ayu untuk menikah. Saya sempat menghitung, setidaknya terdapat lima dewasa ayu, dewasa paling baik, yang bisa jadi pilihan bagi pasangan teruna-teruni Bali yang saling mencinta untuk menikah.

Salah satunya, 10 April 2020. Pada hari itu, Jumat atau Sukra, Umanis, Beteng, Wuku Merakih, Ingkel Buku, Sasih Kadasa, pangelong 3. Menurut para tetua, hari itu termasuk dewasa ayu terbaik di bulan April, sehingga hari itu jadi rebutan bagi pasangan pengantin untuk dijadikan hari penting demi bisa memulai hidup baru mereka. Jika tak bisa mendapatkan dewasa ayu pada 10 April, maka pernikahan bisa diundur sepuluh hari lagi menjadi, Senin 20 April. Hari itu termasuk dewasa yang ayu juga. Kombinasinya adalah Soma, Umanis, Kajeng, Wuku Medangkungan, Ingkel Sato, Sasih Kadasa, pangelong 13. Selain dua jenis hari yang dianggap baik itu, sampai Mei setidaknya ada tiga lagi hari baik untuk menikah.

Jauh-jauh hari pasangan calon pengantin sudah berebut untuk memilih hari-hari yang dianggap baik itu, agar pernikahan mereka benar-benar legitimate secara skala maupun niskala. Jika hari pernikahan sudah baik secara tradisi, budaya, apalagi agama, maka malam pertama pun terasa sangat resmi dan sah, juga sangat sakral, meski misalnya ranjang dan kasur sesungguhnya sudah tak baru lagi, alias sudah sampai lepek akibat berkali-kali digunakan.

Hari baik tetapkan hari baik. Sebelum pandemi melanda, para pasangan pengantin, terutama para orang tua mereka yang paham dan sangat percaya soal-soal hari baik, dewasa ayu yang paling ayu pastilah jadi rebutan. Dalam satu desa adat, biasa terdapat tiga pasangan yang menikah. Pada hari baik, seseorang biasanya mendapatkan lebih dari lima lembar undangan dengan tempat upacara yang berbeda-beda dan berjauhan.

Ya, itu kalau hari-hari aman. Pada hari-hari aman dan makmur, jalanan akan macet pada hari-hari yang bertepatan dengan lima dewasa ayu itu. Sejumlah jalan ditutup dengan tulisan besar: Upacara Adat”. Persimpangan-persimpangan akan krodit, karena banyak para undangan harus mencari jalan alternatif. Yang dari Gianyar kundangan ke Tabanan, yang dari Jembrana kundangan ke Klungkung, yang dari Denpasar ke Singaraja, yang dari Tabanan ke Badung, pokoknya pastilah para undangan sliwar-sliwer di jalanan. Apalagi kalau satu orang atau satu keluarga atau satu rombongan dapat undangan lima dalam sehari.

Warga desa adat pun sibuk masepuk. Jika dalam satu desat adat terdapat tiga saja upacara pernikahan, maka jalan-jalan desa itu akan jadi ramai. Warga adat yang ngayah, warga adat yang ngejot, dan tamu undangan bisa berbaur jadi satu. Pecalang pun sibuk ngatur parkir tamu undangan yang rata-rata membawa mobil mewah.

Namun,April dan Mei, adalah bulan-bulan paling panik di masa pandemi. Rasa cemas dan takut bercampur dengan ketidaktahuan. Muncul banyak wacana, diksi, dan kata-kata seperti gumam tak jelas. Muncul imbauan, tapi nadanya terdengar seperti perintah. Banyak ada saran, tapi nadanya terdengar seperti ancaman.

Maka, menikah pada saat itu, bukanlah pilihan yang aman. Apalagi, di Bali, menikah bukan sekadar pertemuan seorang lelaki dewasa dan perempuan dewasa, melainkan juga pertemuan antara keluarga, teman, sahabat dan warga adat, yang jumlahnya bisa ratusan, bahkan ribuan orang.

Untuk itulah, di awal-awal masa pandemi, keramaian di jalan yang biasa terjadi pada hari-hari aman dan makmur, misalnya jalanan macet pada hari-hari yang bertepatan dengan dewasa ayu pernikahan, tidak terlihat lagi. Tak ada jalan ditutup dengan tulisan besar: Upacara Adat”. Persimpangan-persimpangan tak krodit, karena tak banyak orang Tabanan kondangan ke Jembrana, tak ada warga Buleleng kundangan ke Nusa Dua.

Akibat penerapan protokol jaga jarak pada masa-masa awal merebaknya Covid-19 alias virus korona, pernikahan dengan upacara besar-besaran, apalagi dengan resepsi yang menghadirkan ratusan atau ribuan undangan harus dihindari, siapa pun calon pengantinnya, anak pejabat, orang biasa, atau orang super kaya. 

Pada akhir bulan Oktober dan masa-masa November 2020 ini, mungkin juga untuk bulan-bulan berikutnya, dewasa ayu untuk menikah tampaknya tak perlu disia-siakan lagi. Mobil pengantin dengan hiasan tebu dan kain tipis menjuantai di spion kiri-kanan sudah tampak berseliweran di jalan. Itu artinya, jadwal pernikahan sudah lancar, tak perlu ditunda lagi, terutama untuk teruna dengan usia rawan yang sudah sejak bertahun-tahun melakukan penundaan.

Seorang teman, usianya sudah mau 30 tahun. Ia berkali-kali menunda pernikahan. Salah satu sebab, ya, itu, memang susah dapat pacar. Beberapa bulan lalu, ia dapat pacar. Bukan sekadar pacar, tapi pacar yang siap menikah luar-dalam. Maka, saat pacar sudah ada, tak ada lagi yang bisa menghalangi jalan dia untuk melenggang ke pelaminan, bahkan pandemi pun bukan lagi halangan. Sebab, jika ditunda-tunda, usia bakal terus bertambah seperti pelajaran berhitung di SD kelas satu; 30, 31, 32, apalagi sampai 40. Jika sudah sampai 40, tak ada yang bisa menjamin sang pacar tidak akan berubah pikiran.

Ngomong-ngomong, ternyata si teman sudah sempat menunda hari bahagia di awal-awal masa pandemi, April lalu. Saat itu, menikah memang tak dilarang, namun diimbau untuk tak menggelar resepsi, apalagi mengundang banyak orang. Akibatnya, si teman putuskan menunda. “Menikah hanya sekali, jika tak disaksikan banyak orang, sungguh sangat hampa rasanya!” kata si teman saat itu. Ia memang orang yang amat romantis dan sentimentil.

Akhir Oktober ini ia putuskan menikah, meskipun tetap tak mengundang banyak teman. “Jika misalnya ada yang bisa memastikan pandemi berakhir Oktober 2021, saya akan tunda menikah sampai Oktober 2021, meski harus setahun menahan malam pertama yang resmi dan sah!” ujarnya sambil tertawa. “Jika pandemi belum pasti, hidup kita harus dirancang dengan pasti,” lanjutnya, masih dengan tertawa.

Mari kutip kalimat si teman dengan sedikit variasi; Jika pandemi belum pasti, peraturan untuk membantu warga dan jumlah bantuan kepada warga haruslah pasti. Artinya, harus pasti bisa membantu warga, bukan hanya seakan-akan membantu warga.

123

Editor : nto
Reporter : bx/man/man/JPR