Agar Kathleen tertarik makan dan tidak GTM, Melisa Kusnadi menyediakan alat makan favoritnya. Pemberian susu hanya melengkapi, sumber gizi utama tetap dari makanan. (Guslan Gumilang/Jawa Pos)


Gerakan tutup mulut alias GTM adalah musuh para orang tua. Terutama bagi ayah dan ibu dengan buah hati yang belajar makan. Kekhawatiran pun bermunculan.

MENURUT dr Fatimah Hidayati SpA, menutup mulut atau menolak makan –dari menyembur, mengemut, hingga melepeh makanan– pada anak adalah hal alami. ”Itu adalah bentuk insting melindungi diri dari sesuatu yang dianggap asing,” ungkapnya. Namun, spesialis anak RSIA Bina Medika Bintaro tersebut menyatakan, GTM perlu dilawan. Dengan demikian, kebutuhan gizi terpenuhi dan tumbuh kembang baik. Berikut tip dari dokter alumnus Universitas Indonesia itu dalam menangani GTM.

Saat dikenalkan makanan padat, anak melepeh makanan. Makannya pun lama. Akhirnya, saya berikan lagi bubur lembut. Apakah boleh dilakukan?

Mengenalkan tekstur adalah salah satu bagian ”belajar makan” yang penting. Tingkatan lunak–padat makanan disesuaikan dengan usia anak. Dimulai puree, bubur saring, nasi tim, hingga makanan keluarga. Ragam bahan makanan bisa diujicobakan, dengan catatan anak tak alergi terhadap bahan tersebut.

Jika anak terbiasa dengan menu lunak, mereka akan enggan mengunyah. Kekuatan rahang dan gerak otot mulut pun tak terlatih. Hal itu memengaruhi kemampuan mereka dalam mulai berbicara. Di sisi lain, variasi menu anak terbatas karena mereka hanya mengonsumsi makanan yang bertekstur lunak.

Karena GTM, saya berikan susu untuk pengganti makan utama. Kandungannya lengkap kok. Berarti, kebutuhan gizinya terpenuhi kan?

Sumber gizi paling utama tetap berasal dari makanan. Vitamin dan susu hanya melengkapi, tidak memenuhi kebutuhan nutrisi. Porsinya pun tak boleh berlebihan. Idealnya, konsumsi susu anak usia 2 tahun atau lebih adalah 500–700 ml per hari. Jika berlebihan, si kecil akan kenyang sehingga menolak makan.

Kandungan kalsium pada susu juga bisa menghambat penyerapan zat besi dari makanan. Jika anak mengonsumsi susu soya, ada kandungan serat yang berpengaruh pada penyerapan makanan. Targetnya tidak hanya mengejar kebutuhan kalori, tetapi juga kebutuhan gizi makro –terutama karbohidrat, protein, dan lemak– serta mikro. Plus, penambahan bobot.

Anak saya suka ngemut, bahkan melepeh makanan. Kenapa ya?

Orang tua perlu mengecek, apakah anak sedang tumbuh gigi sehingga nyeri dan malas mengunyah? Atau, bisa jadi mereka masih terlalu kenyang dari jam makan atau selingan sebelumnya. Terkait melepeh maupun menyemburkan makanan, amat mungkin karena anak tak familier dengan rasa maupun tekstur makanan. Itu adalah insting anak melindungi diri dari benda ”asing”. Agar anak tidak menolak makanan, kenalkan perlahan dengan menyisipkan bahan makanan baru di menu favorit si kecil.

Pengalaman GTM juga pernah dialami Melisa Kusnadi, ibunda Kathleen Renee. Dalam sepekan, setidaknya ada satu momen putrinya rewel saat makan. “Biasanya, kalau kuahnya sedikit atau kurang berbumbu,” ujarnya. Kathleen pun ogah buka mulut.

Beragam cara dicoba, mulai disuapi sambil bermain hingga membuatkan nasi atau mi goreng kesukaan Kathleen. Namun, yang paling ampuh justru membiarkan anak makan sendiri. “Dia malah lebih lahap. Jadi, saya belikan peralatan makan beragam. Dan, nyoba finger food biar tinggal hap, hap,” imbuhnya.

Penolakan menu baru adalah hal wajar. Ayah dan ibu perlu bersabar ya. Jangan keburu melabeli anak picky eater. Sebab, umumnya anak baru menerima makanan baru di ”percobaan” ke-10 hingga ke-15. (*)

WASPADA BENDERA MERAH!

– Berat badan anak tetap atau justru turun selama 1–2 bulan berturut-turut tanpa disertai sakit.

– Jika diukur di grafik tumbuh kembang IDAI atau WHO, anak ada di bawah garis hijau (standar tumbuh kembang ideal).

– Muntah atau gumoh berulang.

– Diare berulang, kronis (lebih dari 14 hari), atau berdarah.

Terlihat kesakitan ketika disuapi atau makan.

– Sesak ketika diberi minum.

– Muncul batuk lebih dari tiga minggu dan demam lebih dari dua minggu yang penyebabnya tak diketahui.

AYO, BENTUK KEBIASAAN MAKAN YANG BAIK!

JADWAL

– Pemberian makan terjadwal. Ada waktu makan utama dan selingan.

– Batasi durasi makan maksimal 30 menit.

LINGKUNGAN

– Ada interaksi antara orang tua dan anak. Terutama bila anak masih disuapi.

– Hindari makan sambil diselingi menonton TV/gawai dan berjalan-jalan.

– Orang tua perlu memberi contoh sikap baik saat makan (tak sambil diselingi kegiatan lain, tak pilih-pilih makan).

PROSEDUR

– Berikan makanan dalam porsi kecil yang ditambah perlahan.

– Dorong anak untuk makan sendiri dengan menyediakan alat makan. Terutama jika mereka mampu memegang benda.

– Tawarkan makan lebih dulu. Jika anak masih menolak setelah 10–15 menit, jangan paksa.

– Orang tua bisa ”memancing” anak dengan lebih dulu mencicipi makanan.

Editor :iha
Reporter : jpc/prokalteng