Rivaldi Yohandi Putra (24) (kanan) dan Adiknya Wiliam (21) saat memperlihatkan produk lokal atau olahan snack Tabantal yang terus mereka kembangkan. (FOTO : EDY/PROKALTENG.CO)


Berawal dari kegabutan di masa Pandemi Covid-19, siapa sangka kakak beradik Rivaldi Yohandi Putra (24) dan Wiliam (21) ini malah berhasil membuat  makanan ringan atau snack dari bahan dasar sayur Tabantal. Penasaran apa itu Snack Tabantal, berikut ulasannya? 


BAHTIAR EDY FAISAL, PROKALTENG.CO

--------------------------------------------------------

TABANTAL, mungkin sudah banyak orang yang tahu atau bahkan sebaliknya tidak tahu. Sayur yang tumbuh di Hutan Kalimantan ini, hanya bisa dijumpai di daerah hulu, karena sayur ini hanya dikonsumsi mereka yang tinggal di daerah tertentu.

Wiliam mengatakan, untuk membuat olahan snack Tabantal memang tidak semudah yang dibayangkan, bahkan sempat tiga kali gagal. Karena untuk olahan snack ini, mereka tetap harus mempertahankan rasa dan ciri khas dari sayur Tabantal itu sendiri.

"Sebelumnya olahan snack kami masih agak keras, terus kami coba lagi dan akhirnya ketemu resep yang pas dan gurih, tanpa menghilangkan rasa asli dari sayur ini," ucap Wiliam yang sering disapa Wili, Minggu (21/1).

Ditemani kakaknya Rivaldi Yohandi Putra, ia pun lebih jauh menceritakan kepada prokalteng.co terkait asal mulanya hingga mereka bisa memiliki ide untuk membuat snack Tabantal tersebut. 

Anak bungsu dari Bapak Yadi Mihel (56) ini menceritakan, kalau ide itu muncul saat dirinya tinggal di kediaman pamannya di daerah Tumbang Talaken, Kabupaten Gunung Mas. 

Kala itu Wili ikut bekerja sebagai kuli bangunan. Dan sempat beberapa hari tidak bekerja karena istirahat, ia pun ngumpul bersama teman-temannya atau pemuda di daerah setempat. Merasa gabut atau tak ada kerjaan ia pun berinisiatif untuk mengajak temannya berwirausaha dengan memanfaatkan potensi yang dimiliki daerah setempat, salah satunya Tabantal.

"Awalnya saya merasa gabut atau bosan, akhirnya saya tanya teman-teman katanya di sana banyak Tabantal. Lalu kami buat olahan snack. Mereka pun sempat ragu, katanya masa Tabantal bisa dibuat snack. Setelah dicoba membuatnya lumayan rasanya, warga sekitar yang tahu tentang Tabantal sempat heran saat mengetahui Tabantal yang biasa jadi sayur tapi ini malah dibuat olahan snack, dan katanya enak," jelas Wili.

Kembali ke kampung halamannya di Kelurahan Sei Gohong, Kecamatan Bukit Batu Kota Palangka Raya, Wili dan kakaknya akhirnya mencoba mengembangkan olahan snack tersebut. Meski hanya produksi rumahan ternyata olahan mereka cukup diminati, bahkan produk lokal olahan snack Tabantal mereka pernah di kirim ke luar daerah, yaitu ke Kota Palu dan Sulawesi Tengah.

"Kalau di tempat kita sini orang-orang sebagian banyak tidak tahu Tabantal ini apa, karena Tabantal memang tidak ada tumbuh di sini. Untuk bahan dasar Tabantal ini kami mengambil dari daerah Tumbang Talaken, karena di sana Tabantal ini sudah tidak umum lagi bagi mereka. Terakhir kemarin, kami sempat kirim ke teman di Sulawesi Tengah, katanya enak dan dia pesan lagi untuk dijual kembali," ujarnya.

Disampaikan Wili, jika sayur Tabantal ini menurut informasi yang diketahui memang sudah dikenal dari zaman nenek moyang dahulu sebagai sayur yang kaya akan khasiat dan baik bagi tubuh.

Rivaldi Yohandi Putra yang kerap disapa Yohan ini menambahkan, untuk modal awal memulai usaha ini hanya Rp400 ribu. Saat itu kemasan snack Tabantal masih menggunakan kemasan biasa, hingga akhirnya mereka berinovasi untuk konsisten dalam mengembangkan usaha yang baru berjalan sekitar dua bulan tersebut.

"Usaha ini baru berjalan dua bulan lebih, kalau modal awal saat itu sekitar Rp400 ribu, sekarang sudah dengan kemasan yang kekinian. Kalau dari awal sampai sekarang sekitar 600 bungkus snack yang terjual. Satu bungkus kami jual cuman Rp11 ribu. Baru ada dua rasa saja yang kami buat, rasa Balado Pedas, dan Sapi Panggang," katanya.

Yohan pun merasa, di awal-awal memang sampai sekarang sulit untuk memasarkan olahan snack tersebut. Mengingat masih banyak yang belum tahu untuk Tabantal bahan dasar snack mereka. Tidak patah arang, mengingat di tempat tinggalnya saat ini termasuk kawasan wisata yang cukup ramai dikunjungi wisatawan. Snack mereka pun dititip di tempat pedagang yang ada di kawasan Wisata Sungai Batu.

Pria kelahiran tahun 1996 ini juga mengakui, masih ada berapa kendala yang dihadapi termasuk pemasaran, produksi yang masih dilakukan secara manual, maupun sosialisasi yang juga masih gencar dilakukan mereka.

Termasuk hingga saat ini dirinya pun berharap, agar nantinya produk olahan lokal ini bisa berkembang, hingga bisa terdaftar di BPOM maupun bisa mendapatkan sertifikat halal. Mengingat, karena perdana untuk memulai usaha ini, ia pun terus terang cukup kesulitan untuk mengurusnya alias bingung.

"Yang menjadi tantangan kami saat ini yaitu bagaimana cara untuk mensosialisasikan olahan snack ini kepada masyarakat banyak. Kedua kami ingin produk ini bisa berkembang lagi kedepannya, karena saat ini kami kurang berani publikasi lantaran tok halal belum ada dan untuk terdaftar di BPOM belum juga. Makanya kami jual hanya sebatas sekitar kediamannya, sambil mengurus persyaratan lainnya," beber Yohan. 

123

Editor : pri
Reporter :