Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kotim Heriyanto menyerahkan bibit ikan pada kelompok pembudidaya, beberapa waktu lalu. (HERIYANTO UNTUK KALTENGPOS)


SAMPIT, PROKALTENG.CO- Menangkap ikan dengan cara mudah dan cepat terutama menggunakan alat setrum atau ilegal fishing masih sering terjadi di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Memang menguntungkan bagi warga yang diduga menangkap dengan cara, tetapi kalau dilakukan terus-menerus tentu akan berdampak pada biota ikan di sungai.

Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kotim Heriyanto mengatakan, dia tidak menampik hal tersebut terjadi di Kotim, tetapi yang perlu diperhatikan dampak yang ditimbulkan, apalagi terhadap biota dan ekosistem sungai.

“Kita tahu kalau dengan cara setrum, bukan ikan besar saja yang mati. tetapi ikan ukuran kecil juga. Hal ini harus diperhatikan para pelaku iLlegal fishing," ujar Heriyanto, Senin (22/2).

Dia menjelaskan, ikan kecil itu merupakan bibit atau generasi penerus ikan di sungai. Kalau disetrum, maka regenerasi tersebut tentu akan punah dan yang dirugikan adalah masyarakat.

Dia meminta warga bisa menjaga lingkungan terutama kelestarian air sungai. Jangan sampai menangkap ikan dengan cara salah seperti illegal fishing.

“Kami sudah menerima laporan masyarakat terkait illegal fishing dengan cara disetrum, diracun dan sejenisnya. Hal ini akan menjadi bahan kami untuk menindaklanjutinya terkait laporan tersebut, agar mereka tidak lagi  menangkap ikan dengan cara tersebut,” ucap Heriyanto.

Dia mengimbau, pelaku ilegal fishing agar tidak melakukannya, karena bukan hanya nelayan kita yang rugi, melainkan biota ikan di sungai pasti akan terganggu bahkan bisa mati dan merusak habitat, serta ekosistem ikan.

"Marilah kita mencari ikan dengan cara yang benar jangan sampai ada dengan cara menyetrum, menggunakan bahan peledak atau bahan kimia lainnya, karena dapat dikenai sanksi bahkan terancam pidana," tutupnya.

1

Editor : dar
Reporter : bah