Ilustrasi rambut rontok. Para penyintas Covid-19 masih mengeluhkan gejala berkepanjangan setelah sembuh. Mulai dari sesak, rambut rontok hingga sakit kepala. (pixabay)


PROKALTENG.CO – Para penyintas Covid-19 masih mengeluhkan gejala berkepanjangan sembuh. Padahal hasil tes mereka sudah negatif Covid-19 sejak lama, namun keluhannya masih tersisa berbulan-bulan kemudian.

Kepada JawaPos.com, Jumat (5/3), sejumlah penyintas mengeluh berbagai keluhan. Salah satunya gadis asal Kalimantan Timur, mengeluhkan ibunya juga terinfeksi Covid-19 bersama dirinya pada September 2020 lalu. Setelah itu, keluhannya masih sering sakit kepala. Dan ibunya juga mengalami kerontokan rambut.

“Kalau yang rambutnya rontok ibu saya sih. Malah dia sampai potong rambut karena rontok parah banget. Kebetulan yang kena saya sama orang tua saya,” katanya.

Pasien Covid-19 lainnya, seorang perempuan juga terkena Covid-19 pada pertengahan Juli 2020. Lalu dinyatakan negatif pada awal September 2020. Namun dirinya masih sering kelelahan dan napas terengah-engah.

“Gejala yang masih dirasa sampai sekarang tuh cepat capek, ngos-ngosan. Padahal sebelum Covid-19 bisa olahraga sampai 3 jam. Dan sejak bulan 9 itu saya sering cium bau yang sebenarnya tuh enggak ada,” katanya.

Dalam laman Health, Pakar Dermatologi dr. Ester Freeman dalam penelitian Dermatology Covid-19 Registry menyebutkan, 1.000 kasus dari 38 negara, para pasien sembuh mengalami rambut rontok. Menurut dr Ester, kini semakin banyak orang yang pulih dari virus Korona yang melaporkan rambutnya rontok setelah sakit.

Ahli Penyakit Menular Amesh A. Adalja, MD, peneliti senior di Johns Hopkins Center for Health Security di Maryland, mengatakan kondisi ini disebabkan oleh mekanisme yang disebut telogen effluvium. Setelah mengalami stres fisiologis, ada suatu kondisi yang memengaruhi siklus pertumbuhan folikel rambut.

“Ini disebut telogen effluvium, dan dapat dilihat setelah sembuh dari berbagai jenis penyakit, termasuk malaria dan tuberkulosis,” kata dr. Adalja.

Telogen effluvium biasanya terjadi sekitar tiga bulan setelah kejadian yang membuat stres. Dokter kulit Angelo Landriscina, MD, mengatakan kepada Health bahwa jenis kerontokan rambut ini dapat terjadi setelah peristiwa kehidupan yang penuh tekanan.

Tidak hanya penyakit parah tetapi juga pembedahan atau penyebab stres psikologis yang serius. Seperti kehilangan orang yang dicintai. Untuk memahami telogen effluvium, ada baiknya memahami siklus pertumbuhan rambut.

12

Editor : iha
Reporter : jpc/prokalteng