Implan traumatik titanium yang diluncurkan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) di Jakarta (27/10). (Hilmi Setiawan/Jawa Pos)


PROKALTENG.CO – Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Soni Solistia Wirawan mengatakan inovasi implan tulang traumatik stainless mereka sudah masuk tahap proses hilirisasi. Mereka menggandeng PT Zenith Allmart Precisindo untuk produksi masal.

Soni menuturkan saat ini produk implan tulang traumatic stainless steel 316L sudah masuk dalam e-Katalog milik LKPP. ’’Selain itu juga telah dipakai di sejumlah rumah sakit,’’ kata Soni di sela kegiatan rapat kerja nasional (Rakernas) BPPT Junat (5/3) kemarin.

Dia menjelaskan sampai saat ini produk implan traumatik yang beredar di dalam negeri masih didominasi produk impor. Soni memperkirakan produk implan tulang impor yang beredar di Indonesia proporsinya mencapai 94 persen. Selain itu harga produk impor tersebut juga tidak murah.

Kondisi tersebut menurut dia menjadi salah satu penyumbang defisit BPJS Kesehatan setiap tahunnya. Melihat fenomena banyaknya produk impor tersebut, BPPT berupaya menghadirkan inovasi implan tulang secara lokal.

Selain itu BPPT saat ini ditunjuk sebagai Koordinator Program Prioritas Nasional (PRN) Implan Tulang dan Koordinator PRN Implan Gigi. Untuk menjalankannya BPPT menggandeng perguruan tinggi, kementerian lembaga, dan industri serta asosiasi profesi.

Sementara itu Kepala BPPT Hammam Riza mengatakan mereka fokus peningkatan penggunaan produksi dalam negeri (P3DN). Upaya tersebut utamanya untuk melindungi UMKM serta membasmi praktik predatory pricing. Menurut dia praktik predatory pricing mematikan usaha yang dijalankan rakyat. ’’Presiden Jokowi juga mengatakan perlu ada upaya untuk terus menggaungkan kampanye cinta produk Indonesia,’’ paparnya.

Hammam menuturkan kampanye cinta produk Indonesia bertujuan supaya masyarakat lokal terhadap hasil karya anak negeri. Menurutnya sudah banyak inovasi yang dihasilkan SDM di BPPT. Inovasi tersebut juga sudah banyak yang masuk tahap hilirisasi atau komersialisasi.

Menurut Hammam BPPT sebagai lembaga penyelenggara iptek sangat berkepentingan dalam penerapan P3DN. Dia berharap pelaksanaan P3DN dapat berjalan optimal. ’’Kita harus memiliki semangat dalam P3DN ini,’’ tuturnya. Saat ini regulasi P3DN sudah lengkap. Tinggal inovasi dalam penerapannya. Baginya inovasi tidak hanya pada produk teknologi. Tetapi juga inovasi pelaksanaan P3DN supaya semakin banyak penggunaan produk dalam negeri. Hilmi Setiawan (wan/JPC)

1

Editor : iha
Reporter : jpc/prokalteng