Konten dari halaman ini Inilah Sejarah Pita Merah di Peringatan Hari AIDS Sedunia - Prokalteng

Inilah Sejarah Pita Merah di Peringatan Hari AIDS Sedunia

- Advertisement -

PROKALTENG.CO – Tanggal 1 Desember diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia. Peringatan ini untuk menumbuhkan kesadaran bahaya penyakit AIDS, sekaligus memberi dukungan kepada orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

Pada tahun ini, hari AIDS menyerukan akses kesehatan yang merata untuk orang dengan HIV/AIDS (ODHA). WHO dan mitranya menyoroti ketidaksetaraan yang berkembang soal akses kesehatan yang harusnya bisa didapat ODHA.

Dilansir dari laman resmi World Health Organization (WHO), pada 2020 saja, sekitar 37, 7 juta orang di seluruh dunia hidup dengan HIV, sekitar 680 ribu orang meninggal akibat HIV dan 1,5 juta orang dinyatakan terinfeksi HIV di tahun yang sama.

Setiap tahunnya, orang yang terjangkit HIV terus meningkat, sementara akses kesehatan justru tak mengalami peningkatan. Diskriminasi hingga cemooh juga masih menyerang ODHA. Hal ini juga semakin diperburuk dengan pandemi Covid-19.

Di Indonesia, Kementerian Kesehatan mencatat hingga Maret 2021 lalu, jumlah orang dengan HIV mencapai 427.201 orang dan jumlah orang dengan AIDS mencapai 131.417.

Simbol AIDS Pita Merah

Seperti diketahui, peringatan Hari AIDS Sedunia identik dengan simbol pita merah. Simbol AIDS ini telah ada sejak 33 tahun.

Sejarah pita merah bermula ada tahun 1988. Dilansir laman UNAIDS, pada masa itu, sebuah kelompok bernama Visual AIDS didirikan para profesional seni sebagai tanggapan terhadap dampak AIDS pada komunitas seni dan sebagai cara untuk mengorganisir seniman, lembaga seni dan penonton seni untuk aksi langsung terhadap AIDS.

Tiga tahun kemudian, pada tahun 1991, beberapa seniman Visual AIDS berkumpul untuk merancang simbol visual untuk menunjukkan belas kasih bagi orang yang hidup dengan HIV dan pemberi perawatan mereka.

Insiprasi Pita Merah

Pita merah sebagi simbol AIDS terinspirasi dari pita kuning untuk menghormati tentara Amerika yang bertugas di perang Teluk. Kala itu, para seniman memilih untuk membuat pita merah untuk melambangkan dukungan dan solidaritas bagi orang yang hidup dengan HIV.

Pita merah juga untuk mengingat mereka yang telah meninggal karena penyakit terkait AIDS. Warna merah dipilih karena, hubungan dengan darah dan ide gairah, tidak hanya kemarahan, tapi cinta, seperti valentine.

Dalam kampanye spontan pada tahun 1991, relawan Proyek Pita Merah mengirim surat dan pita merah kepada semua pengunjung di Tony Awards di Amerika Serikat. Saat itu, aktor Jeremy Irons tampil di televisi nasional dengan pita merah yang disematkan mencolok di kerahnya.

Pita merah masuk ke Eropa dalam skala massal pada acara Senin Paskah tahun 1992, ketika lebih dari 100 ribu pita merah dibagikan selama Konser Penghargaan Kesadaran AIDS Freddie Mercury di stadion Wembley.

Lebih dari satu miliar orang di lebih dari 70 negara di seluruh dunia menonton acara tersebut di televisi.

- Advertisement -
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HUKUM KRIMINAL

Recent Comments