Andrie Elia


EKS proyek lahan gambut (PLG) memang perlu mendapat perhatian dari Pemerintah untuk digunakan menjadi area yang produktif. Perlu diubah dari sumber bencana, menjadi sumber berkah.

Selama ini yang telah banyak menggunakan area dimaksud adalah Perkebunan Kelapa Sawit. Hal ini kurang selaras dengan tujuan awal dari proyek PLG yaitu untuk pengembangan sawah sebagai substitusi dari banyaknya area sawah di pulau Jawa yang beralih fungsi menjadi bukan lagi sawah.

Produksi beras harus terus ditingkatkan mengingat perkembangan jumlah penduduk yang semakin meningkat. Issue terkini, dengan warning dari FAO, Covid-19 juga akan berdampak kepada ketahanan pangan dunia dan negara-negara, disamping karena ancaman perubahan iklim, juga disebabkan adanya kebijakan larangan ekspor negara-negara pengekspor pangan terutama beras untuk kasus Indonesia. Diketahui bahwa kita selalu mengimpor beras, dan untuk itu harus ada upaya terobosan untuk ketahanan pangan Nasional, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang, menuju kepada kedaulatan pangan nasional.

Eks PLG adalah sebuah pilihan tepat karena masih banyaknya area yang bisa dimanfaatkan untuk Pengembangan Produksi Pangan, dan pangan tersebut terutama adalah berupa padi/beras.  Penggunaan area ini untuk pangan cukup menjanjikan namun juga dalam pengembangannya perlu kehati-hatian karena akan mempunyai dampak lingkungan, baik secara biofisik (terutama air dan tanah) dan juga aspek sosial humaniora.

Aspek Biofisik

Pada kesempatan ini yang menjadi sorotan utama kami untuk aspek Biofisik adalah aspek kecukupan air tawar untuk irigasi dan juga perubahan fisik kimia tanah.

Aspek kecukupan air sangat penting untuk keberlanjutan sawah mengingat adanya contoh area Transmigrasi Basarang Kabupaten Kapuas Kalimantan Tengah (ditempati pada tahun 1969) yang dulunya adalah area sawah, sekarang berubah menjadi area tanah yang tinggi (pematang). Sehingga memicu perubahan fungsi kawasan menjadi area perkebunan.  Harus diperhitungkan dengan seksama kecukupan air tawar dari sungai utama sumber air tawar untuk mengairi area sawah yang dikembangkan.

Hal ini penting sekali untuk memastikan bahwa air tawar masuk ke area sawah, bukan malah sebaliknya mengeluarkan air dari kawasan kubah gambut atau air tanah, sehingga tanah sawah berubah menjadi pematang.

Desain irigasi menjadi kunci untuk aspek ini. Survei dan analisis keairan sangat dibutuhkan untuk dilakukan dengan super teliti, karena inilah kunci keberlanjutan, yaitu ketersediaan air.

Aspek tanah juga sangat perlu menjadi perhatian mengingat adanya unsur pirit (Ferum Sulfida) yang hampir selalu ada diarea lahan yang punya jejak gambut yang diketahui menjadi momok utama dalam pengembangan sawah. Oleh karenanya harus direncanakan dengan seksama bahwa pirit bisa dikendalikan dengan berbagai teknik baik melalui pengembangan jaringan irigasi dan juga olah tanah, misalnya yang umum adalah dengan memberikan kapur.

Dalam menjaga keberlanjutan sangat diharapkan dapat ditemukan atau dikembangkan bahan lain non kimiawi untuk mengatasi masalah pirit ini. Pupuk kimiawi juga perlu menjadi perhatian untuk dialihkan kepada pupuk ramah lingkungan, mengingat adanya pengalaman pahit dari revolusi hijau yang menyebabkan tanah menjadi kering karena kelebihan unsur kimiawi dari pupuk. Jangan mengulangi kesalahan yang sama dengan alasan peningkatan produktivitas dengan mengabaikan keberlanjutan.

Aspek Sosial Humaniora

Aspek sosial humaniora yang perlu menjadi perhatian adalah aspek Tenurial/Pertanahan, Tenaga Kerja dan Kemitraan antara petani dengan lembaga bisnis, misalnya BUMN yang akan menjadi mitra petani dalam pengembangan usahanya.

Masalah tenurial sangat penting untuk diselesaikan dengan seksama, mengingat beberapa area sangat mungkin sudah mempunyai klaim kepemilikan sah secara hukum (nasional maupun adat), karena dulunya sudah ada transmigran atau merupakan area kelola masyarakat adat.

Untuk itu, maka setelah semua ini selesai dilakukan, sangat perlu untuk menetapkan kawasan ini menjadi area untuk Kawasan Pangan Berkelanjutan. Sehingga Indonesia mempunyai area yang permanen untuk pangan. Misalnya, dengan menjadikannya sebagai kawasan Vital Nasional (objek vital nasional) atau kawasan Strategis Nasional atau nama lainnya sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku.

Hal lainnya adalah berhubungan dengan tenaga kerja. Petani perlu regenerasi, para pemuda lokal Kalimantan harus diberdayakan untuk menjadi petani baru dengan melalui pelatihan. Sangat diharapkan bahwa dalam pengembangan sawah ini, diaplikasikan teknologi mekanisasi pertanian, sehingga setiap petani bisa mengolah lahan hingga 5 (lima) hektare atau lebih seperti di negara-negara yang sudah menerapkan mekanisasi pertanian  (untuk mencapai skala keekonomian).

Kawasan ini harus dijadikan contoh pertanian modern dengan produktivitas tinggi untuk menjadi kebanggan Nasional Petani Indonesia dari generasi baru Petani Muda Indonesia.

Untuk menjamin pasokan pupuk, obat-obatan, dan penjualan hasil panen, hendaknya usaha sawah/pangan ini dapat dikawal dengan membentuk kemitraan. Adalah sebuah langkah maju apabila BUMN dapat menjadi mitra utama para petani dengan pola kemitraan yang mengutamakan kesamaan hak dan keuntungan bersama.

Pola kemitraan ini juga harus dapat menjadi contoh Nasionalisme Indonesia untuk mengatasi berbagai problem yang dihadapi para petani, seperti kelangkaan pupuk dan obat-obatan serta harga panen yang dipermainkan oleh para tengkulak. Mari jadikan proyek sawah atau ketahanan pangan  ini, menjadi contoh nasional Indonesia untuk membuat petani dan sektor pertanian adalah pondasi utama kestabilan perekonomian dan kekokohan rasa kebangsaan serta penghormatan akan jasa para Petani Indonesia. Tak ada Negara Kuat Tanpa Petani yang Kuat Sejahtera. Tak ada Ekonomi dan Politik Stabil tanpa Ketahanan Pangan.

Pertanian pangan yang berkelanjutan, secara ekologi dan ekonomi sangat perlu dimiliki Indonesia sebagai sebuah bukti kemajuan sebuah negara. Berdaulat secara pangan akan menjadi pondasi kokoh untuk NKRI yang kuat baik secara Ekonomi dan Politik. Tingkat pengetahuan dan teknologi yang diterapkan oleh para petani dalam sebuah negara, adalah salah satu gambaran kemajuan sebuah bangsa. Indonesia yang mengklaim sebagai negara agraris, harus mampu menunjukan bahwa petaninya adalah petani moderen yang paham kerberlanjutan secara Ekologi dan Ekonomi.

Mari tunjukan itu kepada dunia cara kita bekerja untuk sukses, maka berbagai kritik bahkan penolakan akan hilang bersamaan dengan kesuksesan yang diraih.

Karena hanya cerita sukses yang mampu untuk meredam dan menghilangkan kritik bahkan penolakan para pihak. Mari bersama bekerja; Universitas Palangka Raya yang merupakan gudang para pakar Gambut baik biofisik maupun sosial humaniora  siap mendukung dan bekerjasama.

Mari jadikan kegagalan masa lalu untuk meraih sukses gilang- gemilang dengan kerja Cerdas, Kerja Tuntas dan Kerja Iklas. (*)

(Penulis adalah Rektor Universitas Palangka Raya. Tulisan adalah presentasi pada acara Pertemuan Video conference  Pembahasan Tinjauan Keilmuan Dalam Pengembangan Ketahanan Pangan Berkelanjutan di Lahan Eks PLG Proinsi Kalimantan Tengah, diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Republik Indonesia,  18 Juni 2020)

1 2

Editor : Jony
Reporter :

You Might Also Like