Ketua Tim Ventilator UI Dr Basari ST M.Eng memaparkan kinerja ventilator Convent-20 di Graha BNPB (23/6). (Dok Universitas Indonesia untuk Jawa Pos)


Setelah dikebut selama 95 hari, ventilator bikinan Universitas Indonesia (UI) akhirnya selesai juga. Siap dimanfaatkan untuk membantu penanganan pasien Covid-19. Kendati jauh lebih murah, kualitas dan fungsinya tak kalah dengan produk luar negeri.

M. HILMI SETIAWAN, Jakarta

AWAL proyek pembuatan ventilator, Basari benar-benar harus meluangkan waktunya. Pada Sabtu dan Minggu sekalipun, dia tetap pergi ke kampus untuk mengerjakan ventilator itu. ”Dari jam 9 pagi sampai jam 12 malam. Saya tinggal di Depok, ke kampus sekitar 15–20 menit,” kata pria yang menjadi ketua tim ventilator UI itu, Jumat (26/6).

Basari menceritakan, pembuatan ventilator dimulai 20 Maret lalu. Saat itu ada tantangan atau permintaan dari pimpinan UI. ”Sumbangsih apa yang bisa diberikan untuk (penanganan, red) Covid-19,” ujar Basari mengulang tantangan yang dia terima saat itu. Akhirnya jajaran Fakultas Teknik (FT) UI menyambut tantangan tersebut. Mereka bertekad membuat alat kesehatan yang dapat mendukung penanganan Covid-19.

Kemudian, tim mengkaji dan memilih alat apa yang bakal mereka garap. Setelah melalui beberapa kajian, mereka memutuskan akan membuat ventilator. Pertimbangannya, ventilator adalah alat kesehatan yang sangat dibutuhkan untuk penanganan pandemi Covid-19.

Basari mulai mengumpulkan anggota tim. Tidak hanya dari FT UI, tetapi juga dari rumpun ilmu lainnya. Termasuk dari kalangan dokter di Fakultas Kedokteran (FK) UI. Dalam waktu dua pekan pertama, mereka fokus membuat rancang bangun ventilator. Masuk pekan ketiga, mereka berhasil menyelesaikan prototipe ventilator dengan bentuk yang cukup bagus. Dimensinya 340 x 280 x 180 mm dengan bobot sekitar 3,5 kg.

Basari mengisahkan, ventilator beragam jenisnya. Ada ventilator untuk kondisi darurat yang ditempatkan di ICU rumah sakit (RS). Ventilator jenis itu umumnya dilengkapi peralatan yang kompleks. Harganya mahal, bahkan sampai miliaran rupiah per unit.

Kemudian, ada ventilator transport darurat. Ventilator jenis ini dipakai untuk membantu pernapasan pasien ketika berada di mobil ambulans. Misalnya saat dijemput dari rumah ke RS. Atau dari RS ke RS rujukan. Bisa juga dimiliki sendiri untuk home care. Ventilator jenis inilah yang akan dibuat Basari bersama timnya.

Pria kelahiran Tegal, November 1979 itu menjelaskan, setelah prototipe jadi, masuk proses uji produk di Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Proses tersebut dimulai 20 April sampai 29 April. ”Pada 29 April itu lolos uji. Meskipun secara legalnya 4 Mei,” terang ketua Prodi Teknik Biomedik FT UI tersebut.

Sebelum menjalani uji produk, ada pendampingan dari tim Kemenkes. Karena itu, saat uji produk, tidak ada revisi atau perbaikan yang mendasar. Meskipun begitu, ada sejumlah masukan agar ventilator tersebut memiliki hasil optimal.

Ventilator karya UI itu memiliki dua fungsi atau multimode. Pertama, fungsi continuous positive airway pressure (CPAP). Fungsi tersebut biasanya bermanfaat bagi pasien yang masih sadar. Gunanya untuk membantu mengalirkan oksigen ke paru-paru.

Fungsi kedua adalah mode continuous mandatory ventilation (CMV). Mode itu digunakan pada pasien pneumonia berat yang tidak dapat mengatur pernapasannya sendiri, sehingga perlu dikontrol dengan mode CMV. ”Napasnya diambil alih oleh mesin (ventilator, red),” ucapnya. Pengujian dua mode tersebut tidak bisa paralel. Harus dilakukan satu per satu.

Tahap berikutnya adalah uji ke hewan. Hewan yang digunakan adalah babi. Diambil paru-parunya saja. Diuji apakah alat tersebut bisa memompa atau mengembangkempiskan paru-paru babi. Babi dipilih karena paru-parunya mendekati manusia. Baik dari sisi volume maupun struktur. Pengujian pada babi ini cukup satu hari.

Setelah itu baru diuji pada manusia. Tempat pengujiannya di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) dan RS UI di Depok. Proses pengujian pada manusia ini digelar Mei dan Juni. ”Baru selesai 15 Juni lalu,” katanya. Prosesnya cukup lama. Sebab, Basari dan tim harus mencari pasien yang kondisinya sesuai dengan indikator pada penelitian. Hasil uji itu lalu dipresentasikan ke tim uji klinis Kemenkes. Karya Basari dan tim dinyatakan lolos.

Saat uji klinis itu, ada tiga unit ventilator yang digunakan. Syarat dari Kemenkes saat itu, pasien cukup lima orang saja. Pada 19 Juni Basari sudah mengantongi izin edar. Kini tinggal masuk pada tahap produksi. Untuk merealisasikannya, UI menggandeng PT Graha Teknomedika, PT Enesers Mitra Berkah, dan PT Pindad.

Ventilator bernama Covent-20 itu dibanderol dengan harga Rp25 juta. Basari mengatakan, harga tersebut sudah mempertimbangkan biaya produksi dan ongkos pengiriman ke RS. Harga itu sebenarnya termasuk skema donasi. ”Kalau skema komersial, perhitungannya berbeda lagi,” ujarnya.

Namun, sampai sekarang skema yang digunakan masih skema donasi. Harga tersebut jauh lebih murah daripada ventilator sejenis yang beredar di pasaran. Biasanya harga pasaran berkisar Rp100 juta sampai Rp150 juta. Untuk ventilator yang digunakan di ICU, ungkap Basari, harganya bisa lebih dari Rp500 juta per unit.

 

Meskipun mulai diproduksi massal, ventilator itu belum dipasarkan secara bebas. Pemasarannya berbasis pemesanan melalui skema donasi. Uangnya dikelola Ikatan Alumni (Iluni) UI. Jadi, dana dari para donatur atau lembaga masuk ke Iluni UI dahulu. ”Targetnya 300 unit (sampai akhir Juni, red),” katanya.

Basari menambahkan, sudah ada sekitar 180 RS yang meminta ventilator buatan UI tersebut. Rencananya, ventilator itu akan disebar ke seluruh Indonesia, sesuai pesanan. Namun, dia mengakui bahwa kebutuhan terbanyak ada di Pulau Jawa.

Tim ventilator UI juga memberikan layanan training pengoperasian. Biasanya dilakukan setiap Sabtu dan Minggu. Dilakukan secara online maupun tatap muka langsung oleh tim khusus. Dari perangkat ventilator itu, sudah didaftarkan empat paten dan hak cipta ke Kementerian Hukum dan HAM.

Rabu (24/6) lalu, secara simbolis keluarga besar UI menyerahkan ventilator itu ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang Brodjonegoro menyampaikan apresiasi kepada tim ventilator UI. ”Covent-20 merupakan bukti kerja keras peneliti dan inovator UI,” pujinya. Dalam tempo tiga bulan terakhir, berhasil membuat inovasi ventilator sekaligus produksinya. Dia juga menjelaskan, saat ini sudah ada lima ventilator yang memiliki izin edar dari Kemenkes.

Bambang mengatakan, yang dikerjakan tim UI itu tidak bisa dibayangkan sebelumnya. Dia menegaskan kembali, dalam waktu yang relatif singkat, mampu menghasilkan ventilator. Apalagi, selama ini belum pernah ada pembuatan ventilator dari dalam negeri.

Bambang juga menyambut baik kandungan lokal komponen Covent-20 yang mencapai 70 persen. Sistem pemasaran yang melibatkan alumni sekaligus pada filantropi, menurut Bambang, adalah skema kolaborasi yang bagus. Dia berharap dengan metode crowd funding tersebut, ventilator karya UI itu bisa menyebar ke segenap penjuru tanah air.

Rektor UI Prof Ari Kuncoro menuturkan, pandemi Covid-19 memerlukan mitigasi dan adaptasi lintas ilmu untuk mencari solusinya. Inovasi Covent-20 adalah contoh nyata penerapan kolaborasi yang dinamis melibatkan dua fakultas di UI, yakni fakultas teknik dan fakultas kedokteran.

1 2

Editor :dar
Reporter : */c9/ce/oni

You Might Also Like