Penari perempuan sedang beraksi di atas panggung pertujukan sendratari garapan Pakat Dayak 2020 yang dilaksanakan di Gedung UPT taman Budaya Kalteng, Jumat (25/9) lalu. (DENAR/KALTENG POS)


PALANGKA RAYA,KALTENGPOS.CO- Diawali alunan lahap atau pekikan khas suku Dayak dari para penyanyi latar yang disengaja dibuat pelan, lalu muncul asap mengepul memenuhi panggung pertunjukan.

Usai lantunan suara lahap berakhir dan asap yang muncul tersebut hilang, tiba tiba hentakan pukulan suara drum yang bertubi-tubi dan petikan suara gitar dicampur dengan suara alat musik tradisional yang memperdengarkan musik khas suku Dayak, mengiringi kemunculan enam orang penari perempuan ke atas panggung.

Dengan gerakan mereka yang serba dinamis, keenam orang penari ini berhasil  menggambarkan isi narasi yang dibacakan seorang narator pada awal pertujukan tentang kondisi kesengsaraan suku Dayak ketika terbelenggu di masa  penjajahan kolonial Belanda.

Seiring berubahnya suara musik, kemunculan deretan penari berbaju kuning itu  kemudian terganti dengan munculnya delapan orang penari. Kali ini bajunya identic warna merah. Menarikan tarian yang berisi gambaran munculnya kesadaran masyarakat suku Dayak khususnya para pemuda Dayak untuk bangkit melawan penjajah Belanda.

Tepuk tangan dari penonton pun ramai terdengar ketika akhirnya muncul puluhan orang  penari dengan  berpakaian khas Dayak ke atas panggung pertunjukan. Kemunculan puluhan penari yang berpakaian khas Dayak ini  menggambarkan semua  pemuda pemudi Dayak  yang digambarkan sepakat bersatu melawan penjajahan Belanda.

Sambil membawa mandau dan talawang, para penari ini terlihat kompak bergerak seirama  dengan suara musik yang terdengar semakin bertempo cepat dan menghentak- hentak hasil garapan Riduansyah.

Tidak saja berada di atas panggung, bahkan sebagian dari para  penari ini juga ada yang menari hingga turun di depan halaman panggung pertunjukan.

Demikianlah suasana pertujukan sendratari garapan Pakat Dayak 2020 yang dilaksanakan di Gedung UPT taman Budaya Kalteng, Jalan Temenggung Tilung, Palangka Raya, Jumat ( 25/9) lalu.

Adapun sendratari kolosal  garapan Pakat Dayak 2020 ini  berdurasi hampir satu jam,  digarap oleh duet pimpinan produksi Marini dan sutradara M Saifullah. Pertunjukan sendratari tari kolosal ini sendiri  memang menampilkan kisah perjuangan pemuda suku Dayak tempo dulu ketika masa penjajahan hingga muncul kesadaran suku Dayak untuk bersatu menghadapi penjajahan Belanda.

Menurut Marini,  pertujukan sendratari ini sendiri adalah perpaduan antara seni pertunjukan teater, musik dan tari. “Ini merupakan kolaborasi dari pertunjukan seni teater, tarian khas Dayak dan musik,” ucapnya kepada Kalteng Pos (Grup Kaltengpos.co).

Marini menyebutkan  jumlah seniman tari dan musik  yang terlibat dalam kegiatan pertujukan sendratari Pakat Dayak 2020 ini sendiri berjumlah 65 orang dari perwakilan dari 21 sanggar tari atau  komunitas musik serta budaya yang ada di kota Palangka Raya.

12

Editor :dar
Reporter : sja/ram