Petugas memberikan masker dan handsanitizer kepada penumpang kereta api Argo Parahyangan di Stasiun Gambir, Jakarta. (MIFTAHULHAYAT/JAWA POS)


Vaksin untuk mengatasi pandemi virus Korona masih menjadi penelitian di berbagai negara dan dalam tahap uji coba. Salah satu kebijakan yang ampuh dilakukan untuk menekan angka penularan adalah dengan pembatasan fisik atau yang sering disebut dengan physical distancing atau menjaga jarak aman. Sayangnya, kondisinya sulit jika dilakukan saat naik transportasi umum yang biasanya berdesakan.

Jaga jarak aman yang dianjurkan adalah 2 meter. Selain itu, masyarakat juga diimbau memakai masker dan menerapkan protokol kesehatan lain seperti mencuci tangan pakai sabun.

Menurut Pemerhati Kesehatan dari Gerakan Mencegah Daripada Mengobati di Jakarta Timur, Michele Agnesia Tambayong physical distancing atau pembatasan fisik antara individu semakin gencar dilakukan pada kendaraan umum. Hal ini dikarenakan pada kendaraan umum seperti di TransJakarta, kereta, pesawat, individu sangat rentan untuk melakukan kontak fisik dengan berdekatan.

Faktor pendukungnya adalah dikarenakan ruang didalam angkutan umum sangat minim dengan sirkulasi udara yang terbatas. Sehingga masyarakat harus bersinggungan satu sama lain dengan penumpang lain.

“Sehingga physical distancing merupakan pola baru yang harus diterapkan selama pendemi berlangsung. Masyarakat harus bersedia menerima pola baru yang termasuk kedalam era new normal,” katanya kepada JawaPos.com, Jumat (16/10).

Menurutnya, pola physical distancing merupakan pola kehidupan yang baru, di mana masyarakat yang sudah terbiasa melakukan interaksi secara fisik terhadap orang lain kemudian harus membiasakan diri untuk tidak berinteraksi secara fisik. Hal ini, kata Michelle, membutuhkan adaptasi dan pola pendekatan yang baik, dikarenakan apabila masyarakat dipaksa untuk melakukan pola physical distancing tanpa dibarengi dengan cara beradaptasi maka akan mengganggu kesehatan mental masyarakat secara global.

Menurutnya, faktor yang menyebabkan belum terlaksananya physical distancing pada angkutan umum adalah faktor ekonomi. Sebab apabila dilakukan pembatasan, artinya mengurangi kapasitas muatan. Pengurangan kapasitas muatan ini artinya akan berdampak pada pendapatan atau ekonomi angkutan umum dan menyebabkan terganggunya pendapatan masyarakat yang berperan sebagai sopir angkutan umum.

Sehingga untuk menerapkan physical distancing pemerintah harus bekerja sama dengan pihak angkutan umum untuk melakukan pembatasan fisik dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Michelle memberikan 3 tips yang dapat dilakukan dalam menerapkan jaga jarak saat naik transportasi umum.

1. Utamakan Masker

Patuh pada protokol kesehatan. Tetap menggunakan masker, atau face shield, menyemprotkan cairan pembersih seperti hand sanitizer.

2. Patuhi Tanda

Memastikan penumpang menempati tempat yang sudah disediakan. Artinya tidak duduk ditempat yang sudah diberikan tanda dilarang duduk.

3. Patuhi Cek Suhu

Kooperatif saat suhu tubuh penumpang dicek. Sehingga yang memiliki keluhan sakit seperti flu, demam, atau batuk tidak dibenarkan menaiki kendaraan umum.

4. Tambah Armada

Selain itu, penerapan physical distancing juga dapat dilakukan dengan menambah armada angkutan. Pemerintah daerah dengan perusahaan penyedia armada saling bahu membahu untuk menambah armada sehingga penumpang tetap diberikan pelayanan dengan tingkat keselamatan yang baik.

5. Adaptasi

Memang tak mudah. Harus tanamkan pada diri sendiri bahwa saat ini sudah eranya Adaptasi Kebiasaan Baru.

Artinya untuk menerapkan physical distancing dibutuhkan pemahaman yang baik oleh masyarakat.

123

Editor :iha
Reporter : jpc/kpc