Kapolresta Palangka Raya Kombes Pol Dwi Tunggal Jaladri didampingi Danramil 1016-01/Phd Mayor Infanteri Heru Widodo, Kabagops Kompol Hemat Siburian dan Kabid dari Satol PP yang tergabung dalam Korlap Satgas Covid-19 Gantar. (Foto: Ardo)


PALANGKA RAYA, KALTENGPOS.CO - Sejumlah mahasiswa mengurungkan niatnya untuk melakukan aksi unjuk rasa karena tak mau di rapid test.

Puluhan mahasiswa asal Kota Palangka Raya membubarkan diri ketika hendak di rapid test oleh Satgas Covid-19 sebelum demo di Kantor DPRD Kalteng, Kamis (22/10) sore sekitar pukul 15.30 WIB.

Kapolresta Palangka Raya Kombes Pol Dwi Tunggal Jaladri menuturkan demo mahasiswa dan aliansi pemuda serta masyarakat Kota Palangka Raya itu mundur dari jamnya yang seharusnya dilaksanakan pada jam 14.00 WIB.

Dijelaskan oleh Jaladri, sehubungan dengan adanya pandemi Covid-19, peserta aksi demo wajib dilakukan rapid test.  Pengajuan permintaan izin dari pendemo juga sudah ditolak dengan beberapa alasan.

"Walau ditolak (izin), mereka tetap berniat melaksanakan aksinya. Namun dengan ketentuan mereka harus mengikuti ketentuan dari kami," kata Jaladri.

Alih-alih mengikuti arahan petugas yang ada di halaman Kantor Koni Kalteng dan ikut rapid test. Para pengunjuk rasa yang diperkirakan hanya berjumlah 30 orang ini malah enggan dan menolak di rapid test.

"Dalam pelaksanaannya, ada sejumlah norma yang harus dipatuhi sesuai dengan Undang-Undang 98 pasal 6 dalam pelaksaan unjuk rasa," ungkapnya.

Rombongan mahasiswa tersebut kemudian membubarkan diri dan kembali ke titik awal. "Itu hak mereka. Intinya kami sudah melakasanakan kewajiban," pungkasnya.

1

Editor : nto
Reporter : ard