ILUSTRASI: Petugas melakukan penyuntikkan uji coba vaksin covid-19. (Straits Times)


JAKARTA,PROKALTENG.CO-Persiapan vaksinasi Covid-19 hampir rampung. Pemerintah akan melatih 23 ribu petugas untuk menjadi vaksinator. Merekalah yang akan menyuntikkan vaksin kepada warga. Selain itu, puluhan ribu tenaga medis disiapkan untuk mendukung proses imunisasi tersebut.

Vaksinolog dan dokter spesialis penyakit dalam Dirga Sakti Rambe mengungkapkan, Indonesia memiliki pengalaman puluhan tahun dalam pengelolaan rantai dingin (cold chain) pasokan vaksin.

Mulai di tempat produksi sampai ke fasilitas-fasilitas kesehatan di seluruh Indonesia. ”Vaksin itu produk biologis, jadi dia mesti disimpan dengan cara-cara yang khusus,” katanya. Sebab, vaksin sangat sensitif pada suhu. Mayoritas vaksin akan disimpan pada suhu 2 hingga 8 derajat Celsius. ”Kecuali vaksin polio di suhu minus 20 derajat Celsius,” imbuhnya kemarin (20/11).

Dirga menyebutkan, selama ini sistem cold chain di Indonesia sudah berjalan 97 persen. Mulai saat di pabrik sampai ketika diterima di puskesmas. ”Baik di Aceh maupun Papua semua sudah siap. Ada petugas di pabrik, nanti ada driver-nya sampai disuntikkan di tenaga kesehatan. Itu dijamin oleh sistem yang sudah berjalan bertahun-tahun di Indonesia,” paparnya.

Berdasar standar dari WHO, vaksin diangkut dengan carrier untuk memastikan suhunya terjaga 2 sampai 8 derajat. Di luar kemasan vaksin, ada indikator bernama vaccine vial monitor (VVM). Alat itu akan menunjukkan apakah kondisi vaksin terjaga selama proses transportasi. ”Jika indikator VVM ini berubah, akan diketahui vaksin ini sudah berada pada suhu yang di luar seharusnya, jadi tidak akan digunakan,” jelasnya.

Saat ini, terang Dirga, sudah ada 440 ribuan tenaga kesehatan yang terdiri atas dokter umum, spesialis, perawat, dan bidan yang akan bergotong royong melakukan program imunisasi tersebut. Jumlah itu akan mendukung 23 ribu vaksinator yang disiapkan pemerintah. Dengan demikian, secara keseluruhan terdapat 463 ribu orang yang bakal dilibatkan dalam vaksinasi masal. Hingga kemarin pelatihan vaksinator terus berlangsung di Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Saat ini ada 7 ribu vaksinator yang telah terlatih. Dalam beberapa hari ke depan, diharapkan 23 ribu orang tersebut selesai dilatih.

Dirga menambahkan, vaksin yang sudah mendapat izin BPOM pasti telah terjamin kualitas dan efektivitasnya. Memang, pasti ada satu atau dua vaksin dalam paket yang suhunya tidak sesuai. Namun, masyarakat tidak perlu khawatir karena vaksin tersebut tidak akan digunakan.

Sementara itu, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengungkapkan, bibit vaksin Merah Putih dapat diserahkan kepada PT Bio Farma pada 2021. Selanjutnya, Bio Farma akan melakukan uji klinis tahap I sampai III. ”Jika seluruh tahapan berjalan dengan baik, izin edar diproyeksikan diperoleh pada akhir 2021 dan akan didistribusikan pada awal 2022,” katanya.

Pada bagian lain, kasus positif pada kerumunan acara maulid dan pernikahan yang digelar Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Muhammad Rizieq Syihab mulai muncul. Ketua Satgas Covid-19 Doni Monardo mengatakan, siapa pun yang terlibat acara, mulai penjemputan Rizieq hingga acara maulid di Petamburan, diimbau memeriksakan diri ke puskesmas terdekat.

Berdasar data yang diterima satgas per Kamis sore (19/11), ada tujuh orang yang positif Covid-19 dari 15 orang yang dites swab. Termasuk lurah Petamburan. Sedangkan data hingga Jumat sore (20/11), terdapat 20 orang yang positif Covid-19 dari klaster Megamendung. Data itu diperoleh setelah petugas memeriksa 559 orang dengan swab antigen. Laporan lain, terdapat 50 orang positif yang mayoritas berdomisili di sekitar Tebet.

WHO: Hentikan Penggunaan Remdesivir

Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan rekomendasi baru. Isinya adalah anjuran agar tak lagi menggunakan remdesivir untuk mengobati pasien Covid-19. Baik itu untuk pasien yang bergejala ringan maupun dalam kondisi parah. Sebab, obat yang dikembangkan perusahaan farmasi Gilead Sciences tersebut tidak berdampak apa pun pada pasien Covid-19.

Dilansir The Guardian, anjuran itu berdasar hasil uji coba Solidarity di beberapa negara. Solidarity adalah uji coba klinis internasional untuk membantu mencari pengobatan yang efektif pada pasien Covid-19. Ia diluncurkan WHO. Mereka menganalisis hasil penggunaan remdesivir pada lebih dari 7 ribu pasien dewasa.

’’Kami menyimpulkan bahwa remdesivir tidak memiliki efek berarti pada kematian atau hal penting lainnya pada pasien,’’ bunyi pernyataan WHO Guideline Development Group seperti yang diunggah jurnal The BMJ kemarin (20/11). Mereka adalah panel pakar internasional yang memberikan saran kepada WHO.

Obat yang dipromosikan Presiden AS Donald Trump tersebut bukan hanya tidak bisa menekan angka kematian. Ia juga tidak bisa memperbaiki kondisi pasien yang kritis. Kondisi pasien bahkan mungkin lebih baik jika tidak diberi remdesivir.

Rekomendasi terbaru WHO itu menjadi kabar baik. Sebab, remdesivir adalah obat yang mahal dan harus diberikan lewat intravena selama 5–10 hari. Profesor di bidang penyakit menular dan kesehatan global di Nuffield Department of Medicine, University of Oxford, Peter Horby menegaskan, penghentian penggunaan remdesivir bakal menghemat pengeluaran dan sumber daya kesehatan lainnya.

Obat-obat yang jauh lebih murah terbukti menunjukkan hasil dibandingkan remdesivir. Misalnya, dexamethasone yang secara penelitian menunjukkan mampu menyelamatkan 1 di antara 8 nyawa pasien Covid-19 yang sakit parah di rumah sakit.


123

Editor :lham Safutra
Reporter : tau/sha/c9/c7/oni/JPC