OSIALISASI: Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) menggelar dialog produktif bertajuk “Memaksimalkan Pengelolaan Kesehatan Lewat Vaksinasi” yang disiarkan secara live melalui akun YouTube; Lawan Covid-19. (Istimewa)


PROKALTENG.CO-Membiasakan dan mewajibkan diri untuk mematuhi protokol kesehatan merupakan salah satu kunci agar pandemi Covid-19 dapat ditekan penyebarannya. Namun, perilaku disiplin dari dari sendiri, juga sangat perlu dilakukan secara kolektif dengan penuh kesadaran.

Oleh karena itu, guna memutus mata rantai penyebaran wabah virus korona, pemerintah secara serius berupaya memberikan perlindungan kesehatan terhadap masyarakat. Salah satu yang terus digaungkan pemerintah adalah dengan mengajak masyarakat untuk secara disiplin menerapkan perilaku hidup sehat dengan melakukan langkah 3M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak/menghindari kerumunan) sebagai langkah pencegahan.

Pemerintah pun saat ini secara serius berupaya menangani pandemi Covid-19 dengan mempertimbangkan sisi kesehatan dan perekonomian secara bersamaan. Dari sisi ekonomi, pemerintah mengambil langkah 3T (Tracing, Testing, Treatment), sebagai pendekatan protokol kesehatan.

’’Perlindungan terhadap Kesehatan masyarakat menjadi prioritas, dan pemerintah terus melakukan upaya 3T serta edukasi 3M guna menekan penularan Covid-19,’’ terang Hasbullah Thabrany, guru besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, dalam Dialog Produktif bertema Memaksimalkan Pengelolaan Kesehatan Lewat Vaksinasi yang dihehat Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) melalui tayangan virtual, dari Jakarta belum lama ini.

Menurut Hasbullah, apabila masyarakat bisa disipilin menjalankan protokol kesehatan 3M dan pemerintah aktif menjalankan 3T, maka Indonesia dapat menghemat kerugian negara yang lebih besar lagi. ’’Atau bahkan dapat menghemat sampai Rp 500 Triliun, dan menggunakannya untuk membangun ekonomi Indonesia,’’ tuturnya.

Selain itu, kata Hasbullah, pemerintah juga memastikan perawatan rumah sakit bagi pasien Covid-19 ditanggung sepenuhnya melalui anggaran Kementerian Kesehatan. Namun demikian, ia meminta kepada masyarakat agar memahami dampak yang ditimbulkan Covid-19.

Selain biaya yang besar masyarakat yang terdampak Covid-19 tidak bisa bekerja secara produktif sehingga menurunkan pendapatan. Belum lagi kerugian apabila ada warga negara yang meninggal di usia produktif, beban biaya keluarga yang ditinggalkan pasien.

Meski ditanggung negara, Hasbullah mengingatkan masyarakat jangan merasa nyaman dan tidak peduli menjalankan protokol Kesehatan. Hasbullah menyampaikan, berdasarkan hasil survei menunjukkan rata-rata biaya perawatan yang dikeluarkan Rp 184 juta per orang. Dengan biaya yang sebesar itu, menurutnya, masyarakat yang terdampak Covid-19 tidak bisa bekerja secara produktif sehingga menurunkan pendapatan mereka.

’’Belum lagi kerugian apabila ada warga negara yang meninggal di usia produktif, beban biaya keluarga yang ditinggalkan pasien. Saat ini pemerintah memang menanggung biaya rumah sakit. Saya kira kalau dirawat lebih dari 30 hari apalagi harus masuk ICU, biayanya bisa sehari Rp15 juta, jika dikalkulasikan pengeluarannya bisa lebih dari seratus juta per bulan,’’ paparnya.

Dalam perbincangan itu, Hasbullah menyatakan, cara terbaik agar masyarakat dan negara tidak merugi lebih besar lagi adalah dengan mencegah, jangan sampai terkena Covid-19. Oleh karena itu, ia menyarankan untuk disiplin menjalani protokol kesehatan 3M.

‘’’Kalau nanti sudah ada vaksin, kita tambah dengan vaksin. Meskipun harga vaksin belum keluar nilainya, tapi misalnya harganya nanti katakanlah Rp 200.000, investasi ini akan memberikan kita peluang lebih aman daripada berisiko besar terinfeksi dan memerlukan pengobatan,’’ terangnya.

Menyambung penyataannya, Hasbullah meningatkan kepada masyarakat untuk senantiasa selalu menjaga diri dan orang lain di sekitar kita agar tidak tertular Covid-19. Ia juga meminta masyarakat untuk berpifikir positif, selektif, dan cerdas dalam menerima informasi.

Tidak hanya merugikan secara ekonomi, penyakit ini sangat serius seperti diungkap Icha Atmadi, salah seorang penyintas Covid-19, Dari pengalamannya, Icha membenarkan pernyataan Hasbullah tersebut.

’’Semua pasien Covid-19 baik yang gejalanya ringan, sedang, maupun berat, mengalami titik terendah sehingga membuat kita lebih introspeksi. Ayah saya sampai mendapatkan beberapa suntikan infus, belum lagi ditambahkan alat bantu pernafasan, serta alat pendukung dan tindakan medis lainnya. Jadi benar-benar mencemaskan waktu itu,’’ jelasnya.

Icha mengungkapkan, bagi penyintas seperti dirinya, gejala paling ringan pun bisa terasa sakit baik bagi fisik maupun mental. Apalagi bagi mereka yang mengalami gejala berat, seperti yang dialami ayahnya kala itu yang memerlukan alat bantu pernafasan. ’’Timbulnya perasaan cemas yang dirasakan setiap hari itu, jika tak diatasi maka akan menghadapi kematian,’’ ujarnya.

Lebih lanjut, setelah dinyatakan sembuh, Icha mengatakan bahwa ia dan keluarga kini lebih memperketat lagi aturan protokol kesehatan Covid-19. Pengalaman yang ia alami ini dibagikan kepada masyarkat agar tidak mengalami hal serupa. Menurutnya, sebagai warga negara sudah sepatutnya harus menyadari bahwa mencegah penularan Covid-19 sangat besar manfaatnya bagi diri sendiri serta orang lain. 

12

Editor :hen
Reporter : jpc