Dokter Spesialis Penyakit Dalam Rumah Sakit Doris Sylvanus, dr. Dayang Nurbayati (kiri) bersama stafnya. (Foto ist)


PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO - Rekam jejak medis menjelaskan seorang yang melebihi umur 40 tahun bisa berpotensi besar terdiagnosa penyakit gagal ginjal.  Ya, penyakit ini akan terdeteksi di umur lebih dari 40 tahun. Di umur seperti itu, seseorang harus waspada dengan melakukan check up rutin.

 

Karena apabila divonis gagal ginjal stadium lanjut (stadium 5), pasien tidak ada pilihan lain selain melakukan Hemodiliasis atau biasa disebut cuci darah.

 

"Bagi pengidapnya, memang harus kontrol rutin. Bagi pengidap diabetes dan hipertensi kemungkinan kecil tidak bisa sembuh. Namun bisa di kontrol dengan cara check up secara rutin," kata Dokter Spesialis Penyakit Dalam Rumah Sakit Doris Sylvanus, Dr. Dayang Nurbayati.

 

Menurutnya, diabetes dan hipertensi sangat berpengaruh. Sebagian besar seseorang yang mengidap dua penyakit tersebut akan mengalami gangguan pada ginjalnya.

 

Sementara pada umur 40 ke atas, fungsi organ pada manusia terutama ginjal akan sedikit menurun. Terlebih jika terlalu banyak mengomsumsi makanan dan minuman yang dapat berdampak buruk pada organ dalam.

 

Pengidap penyakit gagal ginjal ini sendiri harus melakukan hemodialisis (cuci darah). Mesin cuci darah itu sebagai mesin pengganti dari ginjal yang tidak lagi berfungsi. Secara singkatnya, proses ini akan mengambil darah manusia yang kotor, mesin akan berperan sebagai penyaring. Setelah itu limbahnya akan dikeluarkan. Kemudian darah yang telah disaring akan dimasukkan ke tubuh pasien lagi. Idealnya cuci darah dilakukan tiga kali seminggu. Satu fase cuci darah dapat memakan waktu 4 sampai 5 jam sehari.

 

Di Kalimantan Tengah sendiri khususnya Rumah Sakit Doris Sylvanus memiliki 16 dialisis (alat cuci darah). Secara rutin dipakai oleh pasien pengidap gagal ginjal.  Memang, kata-kata cuci darah ialah hal yang menakutkan di mata masyarakat.  Namun itu adalah jalan satu-satunya pengidap gagal ginjal akut tetap bisa hidup. Oleh karena itu pihak medis juga terus memberi edukasi kepada masyarakat agar diabetes dan hipertensi tetap dikontrol.

 

Sementara, makanan yang harus dihindari yaitu makanan yang terlalu tinggi garam. Natrium tinggi akan membuat Ginjal kesulitan untuk melakukan fungsinya. Protein tinggi juga berpengaruh.

 

Kalau garam terlalu berlebihan, ginjal akan berat membuang.  Jadi akhirnya natrium tertahan tidak bisa dibuang dan akhirnya menjadi hipertensi. Makanan yang mengandung natrium tinggi itu seperti halnya kornet sosis, makanan yang protein tinggi seperti daging, seafood dan sebagainya

 

Sedangkan minuman yang berpengaruh juga Vitamin C dosis tinggi, minuman berenergi, minuman keras atau minuman yang mengandung toxic yang tinggi.  

123

Editor :hen
Reporter : ard