ILUSTRASI/NET


PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO - Menurut medis, penanganan bagi penhidap penyakit gagal ginjal dikategorikan menjadi beberapa jenis. Yang pertama yakni, Hemodialisis atau biasa dikenal dengan cuci darah atau proses pembersihan darah dari zat-zat sampah, melalui proses penyaringan di luar tubuh. Hemodialisis menggunakan ginjal buatan berupa mesin dialisis.

Menurut Dokter Spesialis Penyakit Dalam Doris Sylvanus, Dr. Nurbayanti, proses cuci darah meliputi pemasangan infus atau selang dialiser. Pada saat prosesnya pasien masih dalam keadaan sadar, bisa makan, bicara, bahkan menonton televisi.

"Cuci darah sama seperti terapi atau obat, agar dapat tertolong dari komplikasi ginjal yang lebih berat, seperti kejang, tidak sadarkan diri, dan sesak nafas," katanya.

Kemudian ada continuous ambulatory peritoneal dialysis (CAPD), yakni memasukkan cairan tertentu dimasukkan ke rongga perut pasien yang sudah ditanami alat. Ini memanfaatkan selaput dalam rongga perut (peritoneum) yang memiliki permukaan luas dan banyak jaringan pembuluh darah sebagai filter alami ketika dilewati oleh zat sisa.

"Pasien akan diajarkan memakai atau mencuci sendiri. Sekitar 1,5 sampai 2 liter cairan dimasukkan ke perut tiap harinya. Setelah itu pasien bisa berkatifitas seperti biasanya. 4 hingga 5 jam cairan didalam perut dikeluarkan. Cairan diganti 4 sampai 5 kali sehari," katanya.

Dengan catatan, lanjutnya, pasien tidak boleh telat mengeluarkan cairan yang sudah diisikan. "Jika terlambat membuang akan membuat gangguan di tubuh (infeksi). Untuk mengganti cairan dan membuang cairan hanya memakan waktu kurang lebih 30 menit," katanya.

Tujuan CAPD ini untuk pasien yang masih aktif bekerja. Atau pasien yang jaraknya jauh dari rumah sakit. Cairan didapat di rumah sakit dengan ditanggung oleh BPJS.  Menurutnya, saat mengisi cairan tersebut, pasien CAPD harus punya kamar khusus dan steril, tangan harus bersih dan harus pakai masker saat mengganti cairannya.

"Jadi kamar sendiri tidak perlu kamar yang mewah yang penting berventilasi dan kamar itu bersih. Kita kan memasukkan sesuatu ke dalam Perut kalau ada infeksi sedikit dibiarkan 4 sampai 5 jam akan mengganggu usus dan infeksi diamana-mana," jelasnya.

Dan ketiga yakni transplatasi ginjal. Itu mengganti ginjal dengan ginjal yang sehat. Hanya dilakukan di rumah sakit besar dan luar negeri.

Sementara transplatasi ginjal di Kalteng masih belum ada. Cuci darah pun dilakukan hanya 2 kali seminggu yang pada normalnya seharunya 3 kali seminggu karena keterbatasan alat cuci darah yang hanya 16 buah di Doris Sylvanus.

Dari sekian banyak pasien, pasien muda kategori umur 18-30 tahun memiliki tingkat kesembuhan yang tinggi. Biasanya gejala awal karena infeksi di filtrasi, karena minuman yang mengandung racun tubuh.

"Ada paling muda umur 18 tahun dikarenakan meminum-minuman berenergi atau vitamin dengan dosis tinggi. Ini juga Edukasi juga buat masyarakat minuman terlalu banyak warnanya bisa dikurangi jangan terlalu sering," tambahnya.

Untuk menghindari terjadinya gangguan filtrasi (penyaring ginjal), seseorang harus menghindari makanan dan minuman yang dapat menyebabkan fungsi ginjal terganggu.  

12

Editor :dar
Reporter : ard