Dr.Anil Dawan


Salah satu upaya untuk melakukan Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) adalah dengan meningkatkan minat baca. Meningkatkan minat baca merupakan upaya strategis untuk meningkatkan kualitas peradaban suatu keluarga dan perguruan tinggi bahkan suatu bangsa.

Budaya membaca sangat terkait erat dengan tingkat kemajuan sebuah bangsa, misalnya: makin tinggi budaya baca pada sebuah negara, semakin maju pula negara tersebut. Dalam sebuah penelitian terungkap bahwa minat baca siswa sekolah dasar di Indonesia berada pada peringkat 26 (duapuluh enam) di antara 27 (duapuluh tujuh) negara yang diteliti.

Hasil penelitian ini menunjukan betapa rendahnya minat baca siswa SD (sekolah Dasar) di Indonesia juga sekaligus menunjukkan rendahnya perhatian berbagai pihak (pemerintah sekolah, dan orang tua) tentang pentingnya membaca. Sebagai pembanding ambilah contoh Jepang dan negara-negara maju lainnya adalah bukti nyata mengenai pentingnya budaya membaca sejak usia dini.

Indeks kegemaran membaca masyarakat Indonesa antara tahun 2016-2020 memang cenderung ada peningkatan, namun secara nasional masih pada kisaran angka 37,32 (yang artinya pada indeks minat membaca yang rendah). Indeks baca ini mencakup berbagai dimensi yaitu dimensi kecakapan, akses, alternative dan budaya (Kompas, 4 April 2021).

Provinsi dengan minat baca tertinggi adalah DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Kepulauan Riau dan seterusnya. Bisa dibayangkan jika hanya 15 (lima belas) provinsi yang ada diatas rata-rata indeks baca nasional yang tergolong rendah, berarti ada sekitar 19 provinsi yang indeks baca di bawah nasional.

Jika dicermati pada hakikatnya membaca dapat memberikan pengetahuan, memperluas wawasan bahkan menstimulasi kreatifitas serta mengasah kemampuan fokus dan berpikir kritis. Membaca dapat merangsang lahirnya inovasi-inovasi baru untuk berkreasi dan berprestasi. Kemajuan sebuah bangsa dapat diukur dari parameter tinggi atau rendah minat baca masyarakatnya.

Meningkatkan minat baca tentunya bukan hanya tanggung jawab satu pihak, misalnya penerbit buku, namun jelas menjadi tanggung jawab semua pihak. Dalam hal ini yang utama adalah pemerintah sebagai pemangku kepentingan meningkatkan kecerdasan bangsa sepatutnya bertindak sebagai pemandu gerakan menumbuhkan minta baca masyarakat.

Selanjutnya lembaga pendidikan disegala segmen usia (termasuk perguruan tinggi), penerbit buku, serta orang tua serta keluarga menjadi komunitas dan support system yang mendukung peningkatan minat baca tersebut. Akan tetapi disadari benar bahwa meningkatkan minat baca bukanlah perkara mudah. Ada berbagai kendala yang menantang.

Kendala pertama adalah kendala kultural. Masyarakat Indonesia pada umumnya cenderung menyukai bahasa oral (percakapan) dari pada membaca. Budaya ngerumpi, dan gibah (membicarakan keburukan orang lain), obrolan ala warung kopi lebih populer dan familiar dibandingkan dengan membaca. Bahkan dalam pilihan aktivitas, masyarakat lebih cenderung menonton TV daripada membaca buku.

Ini jelas menjadi tantangan yang tidak ringan untuk diedukasi dan ditransformasi. Menumbuhkan minat baca secara strategis memberikan edukasi, khususnya membaca buku-buku ilmu pengetahuan akan menjadi pilihan aktivitas yang konstruktif.

Maraknya kenakalan remaja, meningkatnya penderita HIV dan AIDS, hingga tingginya angka kriminalitas salah satunya disebabkan oleh tidak adanya pilihan masyarakat untuk melakukan kegiatan konstruktif yang membekali diri untuk menambah wawasan.

Hiburan-hiburan TV sekarangpun juga banyak dijejali oleh sinetron-sinetron yang hanya menjual roman percintaan dan mengaduk-aduk perasaan penontonnya. Gaya hidup instan juga digambarkan dalam pola kehidupan yang konsumtif dengan dandanan yang glamour.

Pertengkaran keluarga, hingga konflik domestik rumah tangga diungkapkan dalam acara-acara infotaiment menjadi konsumsi publik seolah tidak ada nilai-nilai dan kaidah-kaidah moral ataupun etis yang dijaga sama sekali. Maka perspektif isi dan kualitasnya, bisa dibuktikan bahwa membaca buku merupakan aktifitas yang lebih edukatif daripada menonton TV atau ngobrol dan ngerumpi.

Sementara di keluarga kita saksikan secara kasat mata, kegiatan yang berhubungan dengan pembelajaran dan membaca buku tidak menjadi habitus atau kebiasaan. Banyak keluarga yang tidak mengarahkan anggota keluarganya untuk membaca sebagai bagian dari sarana membangun peradaban keluarga sebagai cikal bakal membangun peradaban bangsa. Tak terkecuali perpustakaan dan taman baca kadang sepi pengunjung dan kehadiran orang-orang yang enggan membaca.

 

Murah dan Berkualitas

Kendala kedua meningkatkan minat baca adalah kendala finansial. Sejauh yang penulis ketahui, bahwa buku-buku sekarang kebanyakan adalah buku-buku tentang pengetahuan, novel, psikologi dan motivasi, politik, fiksi dan lain-lain. Dari sekian banyak jenis buku tersebut rata-rata harganya masih cukup mahal.

Rendahnya minat baca bisa disebabkan salah satunya oleh mahalnya harga buku. Masyarakat yang sudah sadar akan pentingnya pengetahuan akan membeli buku, meskipun buku itu harganya mahal. Namun bagi masyarakat kalangan ekonomi menengah kebawah, buku bisa dianggap barang yang istimewa karena mahal harganya. Buku dianggap bukan kebutuhan, karena ada kebutuhan lain yang perlu didahulukan. Kebutuhan sandang, pangan dan papan masih jadi prioritas. Sedangkan pengetahuan dan pendidikan menjadi urutan prioritas nomor kesekian.

Oleh karenanya menumbuhkan minat baca tidak hanya bisa dilakukan dengan mengadakan pameran buku. Cara lain yang bisa dilakukan yaitu memperbanyak pelayanan perpustakaan keliling ke taman-taman kota juga bisa menjadi pilihan sehingga masyarakat bisa membaca sambil menikmati pemandangan taman serta udara yang segar.

Sebagai contoh di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, kini sudah ada beberapa taman kota dan RPTRA telah dibangun dengan kualitas yang cukup baik. Bahkan di beberapa wilayah pedesaan sudah tersedia perpusatakaan keliling. Jika taman-taman tersebut dimanfaatkan juga untuk menjadi sarana pendukung meningkatkan minat baca masyarakat pastilah sangat efektif. Artinya pemerintah membuka perpustakaan keliling di taman-taman kota tersebut sebagai langkah strategis meningkatkan minat baca warga, melalui metode jemput bola.

Sikap Proaktif

Dengan demikian membangkitkan minat baca juga perlu dilakukan secara proaktif dan mempertimbangkan aspek sarana dan prasarana ruang publik masyarakat yang mendukung tumbuhnya minat baca. Selain itu semua kalangan diantaranya adalah pemerintah, penerbit buku, para orang tua, lembaga-lembaga pendidikan, para akademisi Perguruan Tinggi perlu aktif dan bekerjasama mengadakan kampanye gemar membaca.

Masyarakat dari berbagai kalangan dan lapisan perlu diajak dan disadarkan bahwa membaca adalah bagian dari pendidikan. Pendidikan yang dimaksudkan adalah instrumen yang bisa dilakukan tidak hanya berada dalam ruang kelas.

 

Selain itu kualitas pelayanan dan fasilitas perpustakaan daerah juga harus ditingkatkan. Menambah jumlah buku-buku baru, memperbaiki fasilitas perpusatakan, serta memperbaiki sistem peminjaman dan pengembalian buku kepada para anggota.

Komunitas anak-anak muda bisa diajak melakukan pengabdian masyarakat dengan turun ke daerah slum area (daerah perkambungan kumuh) berupaya membuat rumah singgah untuk membaca, belajar dan mendampingi anak-anak kaum marjinal yang bermain ataupun yang kleleran tanpa pengawasan orang tua.

Khusus bagi Perguruan Tinggi sebagai komunitas akademis juga harus meningkatkan minat baca para mahasiswanya. Membaca jurnal dan buku-buku, yang mampu menstimulir pertumbuhan budaya kritis dan meningkatkan kapasitas serta pengembangan pengetahuan dan keterampilan.

Perpustakaan Perguruan Tinggi mestinya juga bisa menjadi tempat rujukan meningkatkan minat baca bagi dosen dan mahasiswa. Harapan melalui upaya-upaya tersebut niscaya makin meningkatkan minat baca yang tumbuh sebagai sarana untuk mengedukasi dan mentransformasi.

Dengan cara menyediakan berbagai sarana dan prasarana yang menjadi keuntungan bagi semua pihak diharapkan minat baca masyarakat akan tumbuh, seiring dengan pertumbuhan kecerdasan, pengetahuan, hingga pada akhirnya mampu meningkatkan daya ungkit literasi.

 

(*) Dosen Prodi Manajemen Universitas Pembangunan Jaya

Editor : dar
Reporter :