Oleh M. ZAINUDDIN


RAMADAN telah memasuki hari ke-17. Hari ketika umat Islam memperingati diturunkannya kitab suci Alquran atau Nuzulul Quran. Mengingatkan kembali bahwa intelektual muslim memiliki potensi membaca kitab sucinya dengan menangkap isyarat atau makna yang terkandung di dalamnya.

Secara implisit, nabi mengingatkan kepada orang Islam untuk membaca secara benar, baik secara lisan maupun intelektual. Sebagaimana yang beliau sampaikan: ”Banyak orang membaca Alquran, tetapi justru Alquran melaknatinya”. Kenapa? Karena mereka tidak menjadikan Alquran sebagai pegangan hidup dan akhlaknya.

Logikanya, orang yang terdidik (intelektual) amat potensial untuk mendekatkan diri (takwa) kepada Allah. Sebab, ia berpotensi mampu membaca dan mengkaji maknanya. Inilah manusia yang disebut dalam Alquran sebagai ulul-ilmi, ahl al-zikri dan ulul albab.

Alquran adalah petunjuk bagi manusia, baik yang menyangkut informasi ilmiah maupun yang terkait dengan norma-norma hukum dan akhlak. Terkait dengan informasi ilmiah, tidak sedikit para akademisi, baik akademisi Timur maupun Barat, yang mengakui kemukjizatan Alquran. Tidak sedikit pula kalangan mereka yang kemudian menjadi muslim. Bahkan, yang tidak muslim pun bisa mendapatkan informasi ilmiah dari Alquran sebagaimana yang dialami para orientalis.

Jika para orientalis yang tidak percaya pada Alquran mau mempelajari secara serius untuk memperoleh informasi ilmiah, mengapa yang muslim tidak? Mengapa selama ini orang-orang Islam mengetahui informasi ilmiah justru lewat orang Barat yang sekuler?

Contoh, orang Islam tahu bahwa matahari berputar pada porosnya, bahwa asal muasal alam ini ”air”, adalah dari ilmuwan Barat atau Thales, seorang filsuf Yunani. Bukan dari Alquran yang dibacanya setiap hari. Misalnya, dalam surah Yasin dan Al Anbiya Allah berfirman: ”Dan matahari berputar pada porosnya. Itulah ketetapan (takdir) Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui” (QS Yasin: 38). ”Dan telah Kami jadikan segala sesuatu yang hidup ini berasal dari air” (QS Al Anbiya: 30).

 

Alquran dan Sains

Seorang filsuf Prancis, Al-Kiss Luazon, menegaskan bahwa Alquran adalah kitab suci. Tidak ada satu pun masalah ilmiah yang terkuak di zaman modern ini yang bertentangan dengan dasar-dasar Islam.

Dr Rene Ginon, setelah masuk Islam dan berganti nama menjadi Abdul Wahid Yahya, juga bercerita tentang pengalamannya mempelajari Alquran. Dia menemukan ayat-ayat yang relevan dan kompatibel dengan ilmu pengetahuan modern. ”Seandainya para pakar dan ilmuwan dunia itu mau mengkaji ayat-ayat Alquran secara serius yang terkait dengan apa yang mereka pelajari, seperti yang saya lakukan, niscaya mereka akan menjadi muslim tanpa ragu –jika memang mereka berpikir objektif– katanya” (Abdul Muta’al, 1980: 8).

Karena itu, orang terpelajar (intelektual muslim) memiliki potensi besar dalam mendekatkan diri kepada Allah (takwa) karena mereka banyak mengetahui informasi ilmiah melalui jagat raya ini. Semakin seseorang banyak mengetahui rahasia alam ciptaan Allah, semakin sadar akan kebesaran-Nya. Sebaliknya, jika seseorang tidak banyak tahu tentang rahasia alam ciptaan-Nya, ia melihat kehidupan ini biasa-biasa saja, tidak ada kekaguman, bahkan yang terjadi malah memitoskan alam tersebut.

Suatu misal, seorang terpelajar akan memahami gerhana bulan atau matahari dan silih bergantinya siang-malam itu sebagai fenomena alam yang sangat sistematis dan by design. Bukan by accident. Tidak mungkin tidak dirancang oleh Sang Kuasa Allah Rab Al Alamin.

Dengan melihat fenomena alam seperti itu, orang terpelajar itu akan merasa kecil di hadapan Ilahi Rabbi. Lalu ia bersyukur, tunduk, dan khusyuk dengan melakukan salat khusyuf al-Qamar dan kusuf al-Syams. Seraya mengucapkan rabbana ma khalaqta haza bathila subhanaka fa qina azab al-nar. Tentu ini tidak dilakukan orang awam yang tidak memahami rahasia alam ciptaan-Nya.

Maka, Alquran selalu mendorong manusia untuk belajar dan menambah bekal ilmu pengetahuan dan menggunakan akalnya secara maksimal. Dengan kemampuan akal itu diharapkan mampu melihat Allah SWT melalui perenungan dan pengamatan akan ciptaan-Nya.

Agama Islam selalu menyeru dan mendorong umatnya untuk senantiasa mencari dan menggali ilmu. Karena itu, ilmuwan mendapatkan perlakuan yang lebih dari Islam, yang berupa kehormatan dan kemuliaan. Alquran dan As-Sunnah mengajak kaum muslimin untuk mencari dan mengembangkan ilmu serta menempatkan mereka pada posisi yang luhur.

Sebagaimana diidentifikasi Al-Qardhawi (1986: 1-2) bahwa kata ilm dan kata jadiannya disebutkan dalam Alquran mencapai sekitar 800 kali. Al-Qardhawi dalam penelitiannya terhadap kitab Al-Mu’jam al-Mufahras li al-fazh al-Qur’an al-Karim melaporkan, kata ilm (ilmu) dalam Alquran, baik dalam bentuknya yang definitif (makrifat) maupun indefinitif (nakirah) terdapat 80 kali. Sedangkan kata yang berkait dengan itu, seperti kata allama (mengajarkan), ya’lamun (mereka menegetahui), alim (sangat tahu), dan seterusnya, disebutkan beratus-ratus kali.

Selain itu, jika ditelaah kitab-kitab hadis, semuanya penuh dengan kata-kata ilm tersebut. Dalam kitab al-Jami’ al-Shahih karya Al-Bukhari kita dapati 102 hadis. Dalam Shahhih Muslim dan yang lain seperti al-Muwatha’, Sunan al-Tirmizi, Sunan Abu Daud, al-Nasai, Ibn Majah terdapat pula bab ilmu. Belum lagi kitab-kitab yang lain. Alquran menjadi pegangan hidup muslim bagi menata kehidupan di dunia untuk bekal di akhirat. Maka, ia harus dikaji, dihayati maknanya, dan diamalkan.

Alquran juga memberikan syafaat di hari kiamat dan menjadi penerang di rumah dan di tengah-tengah keluarga. Namun, mereka yang jauh dari Alquran ibarat rumah kosong tanpa penghuni. Demikian pesan-pesan yang dibawakan Nabi Muhammad SAW. (*)

 

*) M. Zainuddin, Guru besar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

123

Editor : dar
Reporter :