Ilustrasi melihat posisi hilal (bulan sabit muda) menggunakan teropong untuk menentukan 1 Ramadan. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)


PENENTUAN awal waktu puasa Ramadan sering terjadi perbedaan. Di negara dengan mayoritas muslim seperti Indonesia, hal ini sangat lumrah. Lalu, bagaimana sebenarnya penentuan awal waktu puasa? Mengapa ada perbedaan waktu tersebut?

Akhmad Mukarrom, dosen Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya menjelaskan, ilmu falak bisa menjawab pertanyaan tersebut. Menurut dia, perbedaan penentuan awal waktu puasa dipengaruhi metode yang digunakan. Yakni, rukyatul hilal dan hisab (perhitungan).

Rukyatul hilal, lanjut dia, merupakan kegiatan mengamati bulan sabit pada saat matahari terbenam ketika memasuki awal bulan menurut kalender hijriah. Menurut Mukarrom, rukyat dapat diamati di ketinggian tertentu. ”Ketinggiannya rata-rata 2 derajat, jarak sudut matahari ke bulan 3 derajat, dan 8 jam saat bumi dan bulan berada di posisi bujur yang sama,” ujar Akhmad Mukarrom, pria kelahiran Pamekasan tersebut.

Berdasarkan sejarahnya, menurut dia, rukyatul hilal merupakan metode yang digunakan rasul. ”Karena saat itu ilmu astronomi belum ditemukan. Metode ini sangat dipengaruhi faktor alam, seperti polusi dan badai pasir,” jelas Akhmad Mukarrom.

Sementara itu, hisab adalah perhitungan astronomis untuk mengetahui posisi bulan sebagai dasar dalam menentukan awal bulan pada kalender hijriah. Akhmad Mukarrom menjelaskan, metode hisab sebenarnya sangat cocok untuk negara Indonesia. Sebab, posisi Indonesia dekat dengan garis ekuator (khatulistiwa), sehingga menyulitkan melakukan metode rukyat.

”Garis ekuator selain berpengaruh pada penentuan awal waktu puasa, juga berpengaruh pada lamanya waktu puasa,” tutur Akhmad Mukarrom.

Di negara yang jauh dari garis ekuator, waktu puasanya akan lebih lama dari rata-rata waktu berpuasa. Indonesia normalnya berpuasa 12–13 jam. Sedangkan, negara seperti Inggris atau Australia bisa sampai 18 jam. Bahkan beberapa tahun lalu, umat Islam di Kota London berpuasa sampai 22 jam.

Namun, Mukarram mengungkapkan, hal tersebut bukan berarti masyarakat di kota tersebut harus berpuasa selama 22 jam. Dalam sebagian penjelasan, masyarakat di sana cukup mengikuti waktu puasa di Mesir atau Arab Saudi.

”Karena di kota tersebut mengalami siang yang lebih panjang. Jadi ketika Arab Saudi sudah berbuka mereka bisa ikut,” ucap Akhmad Mukarrom.

12

Editor : dar
Reporter : adil