Ilustrasi (Budiono/Jawa Pos)


Saya masih kelas enam sekolah dasar. Tiap pagi saya bersepeda sejauh tiga kilometer ke sekolah tersebut. Lumayan jauh, gara-gara keluarga saya pindah agak ke tengah kota dan sudah terlalu tanggung untuk pindah sekolah.

SATU hari, tak jauh dari sekolah, saya lihat pengumuman turnamen sepak bola anak. Meskipun tiap klub harus membayar uang pendaftaran, hadiah juara pertamanya sangat lumayan. Saya punya teman-teman yang jago bermain sepak bola dan merasa yakin bisa memenanginya.

Kebetulan lingkungan rumah kami yang baru dekat lapangan bola dan anak-anak tetangga saya bermain bola setiap sore.

Teman-teman saya agak ogah-ogahan mengikutinya, terutama fakta harus membayar biaya pendaftaran. Buat apa membayar jika mereka bisa bermain bola tiap sore tanpa mengeluarkan sepeser uang pun? Uang jajan kami tak seberapa. Sebagian dari mereka bahkan tak diberi uang jajan oleh orang tua.

Akhirnya kami membuat kesepakatan. Saya akan membayar uang pendaftarannya. Jika jadi juara, saya dapat bagian hadiahnya, seolah-olah saya salah satu pemain.

Kalau dipikir-pikir sambil tersenyum geli, saat itu saya telah menjadi pendiri klub sepak bola kampung, manajer, sekaligus investor. Klub itu hanya diberi nama kampung kami, tak punya jersey. Jadi, ketika main, salah satu tim terpaksa buka baju.

Turnamen dilaksanakan di hari Minggu, maraton dari siang ke sore dengan sistem gugur dan satu pertandingan hanya sekitar 15 menit. Seperti dugaan saya, kami juara. Sepanjang perjalanan pulang, kami berjalan kaki bersorak-sorai merayakan kemenangan.

Karier saya sebagai manajer dan pemilik klub berakhir hari itu juga. Alasannya mudah diduga: saya tak punya banyak sisa uang saku untuk ikut turnamen-turnamen lain.

Meskipun begitu, kawan-kawan saya tetap bermain bola. Jika kurang pemain, saya juga kadang ikut menambal. Mereka masih bertanding dengan kampung lain di acara-acara seperti Agustusan, nama klub berganti sesuai kehendak. Mereka pun masih mengikuti turnamen.

Melihat kegairahan anak-anak, tetangga kami yang kaya akhirnya mau memodali tim kampung ini. Pak RT meminjami mobil pikap untuk mengangkut pemain dan suporter ke tempat turnamen, yang kadang lintas kecamatan dan kabupaten.

Ayah saya pernah juga ikut ”mensponsori” mereka dengan memberi jersey gratis. Kebetulan usaha kami memang konfeksi. Di kampung-kampung, klub sepak bola, jika mereka layak disebut ”klub”, umumnya merupakan urun daya seluruh komunitas.

Saya sering kali membayangkan, klub sepak bola modern semestinya mendekati semangat seperti itu. Semangat bahwa klub ini milik komunitas di mana klub tersebut lahir dan tumbuh. Hidup-matinya juga ditanggung komunitas tersebut. Klub sepak bola sebagai ruang bersama.

Saya teringat pengalaman kecil saya itu dalam beberapa hari terakhir dipantik berita heboh tentang lahirnya Liga Super Eropa. Kompetisi yang digagas dua belas klub papan atas Eropa itu redup setelah dua hari diumumkan karena hantaman dari kanan-kiri.

Sisa-sisa kehebohan itu membuat saya bersimpati lebih kepada Real Madrid dan Barcelona, yang mendadak seperti iblis rakus. Bukankah kedua klub secara prinsip mendekati sebuah klub milik komunitas? Mereka dimiliki anggota yang membayar iuran tiap tahun. Mereka, dengan kata lain, sebuah koperasi.

Barcelona dan Real Madrid merupakan wajah kagok dari kapitalisme sepak bola. Jika klub-klub lain memilih menjual keberadaan mereka kepada investor, konsorsium, ataupun pangeran kaya, kedua klub masih mencoba mempertahankan akar ”kampung” mereka.

Tapi, dengan getir, kita harus bilang mereka jauh berbeda dengan klub-klub kampung yang dihidupi Pak RT, Pak Kiai, anak-anak sekolah, ibu-ibu yang bikin minuman. Jika hanya mengandalkan socio, nama anggota klub, Barcelona tak mungkin sanggup membayar pemain sekelas Messi, bukan? Begitu juga Real Madrid.

Dengan pikiran seperti itulah saya bersimpati dengan gagasan Liga Super Eropa. Terlepas dari pertanyaan tentang sistem meritnya, juga pola tertutupnya yang bisa diperbaiki, bukankah kompetisi baru ini mirip dengan gagasan sepak bola komunitas?

Bahwa kompetisi ini dibuat dan dimiliki klub sepenuhnya. Hasil komersialnya dibagi di antara klub peserta.

Apa boleh buat, gagasan urun daya tampaknya tidak mudah. Tak hanya kompetisi yang sepenuhnya dimiliki klub, bahkan di masa depan, klub yang dimiliki penggemar dan pemainnya mungkin juga akan dipaksa, diganggu, untuk menjadi tak relevan.

Jika mau bersaing di tingkat Eropa, Barcelona harus merangkul penggemar-penggemar (dan uang) dari luar Katalan. Dari Asia, Eropa, Afrika. Itu pun tak menjamin mereka bisa bertahan menghadapi rival dengan pemilik level sultan. Mengharapkan uang dari juara kompetisi? Maaf, kompetisi bukan milik klub, uang hadiah terserah yang punya acara.

Ah, pikiran saya tampaknya kejauhan dan mengawang. Bukankah ini seperti membayangkan para pengemudi ojek daring memiliki aplikasi berbagi tumpangan sendiri? Aplikasi pesan makanan dimiliki secara urun daya warung-warung? Memangnya mungkin? Kalaupun mungkin, memang tidak digempur para juragan yang sanggup bakar uang? (*)

(EKA KURNIAWAN. Penulis dan novelis, nomine The Man Booker International Prize 2016)

123

Editor : nto
Reporter : jpc/kpc