Ilustrasi. (foto: net)


HUJAN gerimis menemani senjaku kali ini, selain secangkir teh hangat dan koran usang yang aku baca untuk kesekian kalinya.

Koran itu terbit 10 tahun lalu, dengan headline tentang kecelakaan mobil di area parkir sebuah pusat perbelanjaan. Seorang pria tewas dalam kecelakaan itu, sedang wanita yang bersamanya luka parah setelah mobil sedan yang mereka tumpangi tertabrak mobil boks yang hilang kendali.

Pria itu suamiku. Beruntungnya, perempuan yang bersamanya bukanlah aku. Yang membuatku miris adalah, mereka berdua ditemukan dalam keadaan berlumur darah dan tanpa sehelai benang pun di tubuhnya.

Apa aku kaget melihat itu? Tidak, karena sebulan sebelum peristiwa itu, wanita muda nan ayu yang kecelakaan bersama suamiku itu mendatangiku, mengatakan dengan sombongnya jika suamiku mencintainya dan dia pun mencintai suamiku. Mereka ingin ikatan yang mereka jalin di belakangku menjadi ikatan yang sah karena perempuan itu telah mengandung anak suamiku.

Saat itu aku seperti dilempar dari dunia dongeng yang indah ke dunia nyata yang nestapa. Suami yang aku anggap setia, bahkan di umur pernikahan kami yang memasuki 19 tahun, nyatanya bisa dengan mudah mendua.

“Mungkin di mata orang tuamu kau adalah anak baik-baik, dan mungkin hari ini hanya aku yang tahu satu kebodohanmu. Tapi ingatlah, Tuhan tidak diam, Dia akan bekerja dengan cara-Nya agar semua orang tahu bahwa kau wanita murahan”. Aku ingat jelas kata-kata itu, kata-kata yang aku lontarkan saat dia akan pergi meninggalkan rumah yang aku tinggali bersama anak lelaki semata wayangku dan suami yang ternyata mengkhianatiku.

Dan doaku seperti dikabulkan Tuhan, kecelakaan itu tidak hanya merenggut suami dari sisiku, tapi juga membuka aib mereka. Membuat semua orang tahu bagaimana liarnya gadis cantik kebanggaan keluarganya itu. Gadis yang selalu manis di depan kedua orang tuanya.

Berita itu, menjadi bahan perbincangan hangat di seluruh kota. Bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi, bagaimana gadis muda nan ayu itu bisa terjebak dalam dunia fana lelaki tua yang sialnya adalah suamiku. Sepanjang hari dan hampir setiap hari peristiwa yang sempat membuatku tertawa bahagia itu menghiasi koran terbitan kotaku.

Sebulan setelah peristiwa itu, aku memutuskan untuk pindah ke luar kota, karena anak lelakiku yang saat itu berumur 17 tahun, tak tahan lagi dengan berita buruk tentang bapaknya. Semua orang membicarakan peristiwa memalukan itu. Orang jauh hingga sahabat-sahabatnya terus menerus menggali fakta tentang kecelakaan itu. Dia mengurung diri di kamar berhari-hari dan lebih parahnya, lelaki kecilku yang ceria menjadi pendiam karena sekolah pun bukan lagi tempat menyenangkan untuknya.

***

Tahun telah berlalu, kehidupanku dan anak lelakiku seperti kembali di kota ini. tidak ada yang mengenali kehidupan kami di masa lalu. Hingga tidak ada perbincangan tentang kecelakaan itu. Remaja lelakiku menemukan dunianya lagi. Menemukan keceriaannya lagi.

Hingga hati anakku itu terpaut pada gadis manis teman kantornya. Gadis cantik yang ramah, dia tidak hanya memikat hati anak lelakiku, tapi juga hatiku.

Gadis yang lahir dan besar di kota ini, yang telah menjalin asmara dengan anakku sejak masa kuliah. Menjadi alasan kebahagiaan terbesar anak lelakiku pindah ke kota ini.

Pagi tadi, dengan kebaya yang sudah aku persiapkan jauh-jauh hari, aku mengantar anak lelakiku melamar gadis pujaan hatinya. Dengan beberapa kerabat yang menemani.

Rumah gadis itu sudah dihias rapi, siap menyambut kami yang akan meminang sang gadis penghuni rumah ini. Semua berjalan baik pada mulanya, tapi tidak dengan akhirnya.

Semua menjadi berantakan saat kami, aku dan anak lelakiku, melihat wanita itu duduk di kursi roda di ruang tamu gadis itu. Yah, wanita itu. Wanita yang terlibat kecelakaan dengan suamiku.

“Saya sangat mencintai anak gadis bapak, sungguh. Tapi maaf, saya tidak dapat melanjutkan pertunangan ini. Saya tidak bisa menikahi gadis yang memiliki hubungan darah dengan wanita yang sudah membuat keluarga saya malu dan menderita,” ucap anak lelakiku sebelum dia pergi meninggalkan rumah gadisnya. Ah, mantan gadisnya.

Aku baru tahu jika wanita yang kecelakaan bersama suamiku itu adalah adik dari ayah gadis itu. Sunggu dunia sesempit itu.

Aku meninggalkan kotaku, merantau berkilo-kilometer ke kota yang bahkan berbeda pulau dengan tempat kami dulu tinggali. Nyatanya masa lalu tetap saja menghantui.

Anak lelakiku mengurung diri di dalam kamarnya sejak batalnya pertunangannya tadi pagi. Dan gadis pujaan hatinya harus pingsan saat tahu bahwa prianya membatalkan pertunangannya, bahkan karena hal yang dia tak mengerti.

Ah, wanita itu. Dia terlihat lebih tua dari umurnya, bahkan dia terlihat tua dari umurku yang mungkin berbeda 20 tahunan dengan gadis itu. Aku sempat mendengar kabar dari salah satu kerabat yang ikut mendampingi kami tadi, bahwa wanita itu harus kehilangan kakinya karena kecelakaan itu. Dan rahimnya juga harus diangkat beserta janin dalam kandungannya.

Sunggu malang nasib wanita yang kecelakaan bersama suamiku itu. Di usianya yang baru menginjak 20-an tahun. dia harus dipermalukan dan menderita begitu banyak.

Doa itu, sungguh aku menyesal pernah berkata seperti itu. Seandainya aku merelakan suamiku dengannya, aku dan anakku tak perlu menyembunyikan muka sejauh ini bertahun-tahun. Mungkin wanita itu juga tak perlu kehilangan kaki dan rahimnya.

Yang lebih penting lagi, anak lelakiku tak perlu menderita lagi karena harus mengubur perasaannya. Melepaskan orang yang dicintainya. Dan gadis manis mantan kekasih anakku, tak akan sakit karena acara pertunangannya batal begitu saja. Hatinya dicampakkan bukan karena kesalahnya.

Aku melipat kembali koran usang yang aku baca. Menyimpan kembali pada almari di dalam kamar. Perjalanan ternyata masih berat untukku dan anakku. Bukan hanya karena luka yang diberikan bapaknya harus terbuka lagi. Tapi, bagaimana menyembuhkan hati yang harus terkubur karena kesalahan bapaknya. Atau mungkin doaku. (*)

Lumajang, Januari 2020

(WINDY ESTININGRUM. Alumni Sastra Indonesia UNEJ, Pecinta Sastra)

Editor : nto
Reporter : jpg/kpc