S (mengenakan rompi tahanan), pelaku penganiayaan terhadap anak tiri


KATINGAN, PROKALTENG.CO – Kapolres Katingan AKBP Andri Siswan Ansyah membeberkan motif ibu rumah tangga berinisial S (34) aniaya anak tiri, AF (16). Berdasarkan hasil pemeriksaan polisi, pelaku menganiaya anak tiri karena kurang mendapat perhatian dari suaminya atau kandung dari AF.

Pelaku S menyiram anak tiri air panas hingga bagian tubuh korban melepuh. Tak hanya itu, pelaku juga menganiaya korban dengan menggunakan perabotan dapur, seperti pisau, penggoreng, dan cobek.

Korban awalnya disuruh mengerjakan pekerjaan rumah. Mulai dari mencuci pakaian, memasak, hingga mengasuh adiknya. Namun S menilai pekerjaan korban tidak becus hingga membuatnya marah dan berujung pada kekerasan fisik.

Pelaku berulang kali menganiaya korban yang masih duduk di bangku sekolah setingkat SMA.

AKBP Andri Siswan Ansyah mengatakan pada tahun 2018 hingga 2020, pelaku kerap menganiaya korban dengan menggunakan tangan kosong.

Akan tetapi, sejak tahun 2021, korban mulai dianiaya dengan barang-barang dapur hingga disiram dengan air panas.

Akibat perbuatan S, korban mengalami luka di sekujur tubuhnya. Bagian kaki melepuh karena disiram air panas, bagian mata sebelah kiri bengkak bekas dipukul, dan juga luka pada bagian tubuh lainnya.

Kurang Perhatian Suami

Berdasarkan hasil pemeriksaan polisi, pelaku menganiaya anak tiri karena kurang mendapat perhatian dari suaminya atau kandung dari AF.

Kapolres menceritakan, kasus ini terungkap setelah tetangga korban mengetahui adanya penganiyaan itu. Selanjutnya tetangga korban melaporkan kejadian itu kepada RT, lalu ditindaklanjuti laporan ke Polsek Katingan Tengah.

“Penganiayaan yang dilakukan pelaku ada yang menggunakan benda tajam seperti parang kecil, hingga pemukulan dengan menggunakan tangan kosong,” ucapnya.

“Pelaku sudah kita tetapkan menjadi tersangka, dan sudah kita tahan beserta beberapa barang bukti,” sambung AKBP Andri Siswa.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, kini tersangka dikenakan pasal 44 ayat 1 Undang-undang RI nomor 23 tahun 2014 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. “Ancaman hukumannya minimal lima tahun dan paling lama 15 tahun. Denda paling banyak Rp5 miliar,” tegasnya.

12

Editor : nto
Reporter : eri/ram