Ilustrasi. (foto: net)


PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Salah satu korban PT Adhi Graha Properti Mandiri yang melapor ke Polda Kalteng, Kristiani mengaku mengalami kerugian mencapai Rp6,8 miliar, akibat investasi bodong yang dilakukan Direktur PT Adhi Graha Properti Mandiri Ari Respati (AR).

“Dulu saya juga ikut bergabung dalam grup perwakilan korban PT Adhi Graha Properti Mandiri, ikut juga melapor ke sana ke sini, tetapi sampai satu tahun tetap tidak ada kejelasannya. Jadi saya memilih keluar dari grup perwakilan dan berinisiatif melapor sendiri,beber Kristiani yang merupakan ASN pada salah satu instansi Pemprov Kalteng, Senin (3/5).

Kepada Kalteng Pos, Kristiani mengisahkan kronologi penipuan. Berawal pada Juni 2019. Saat itu ia mendengar kabar tentang rencana pembangunan pusat grosir Mal PTC dan perumahan di Jalan Tjilik Riwut Km 2,5 oleh PT Adhi Graha Properti Mandiri.

“Saya merasa tertarik dengan rencana itu, kemudian datang ke kantor mereka dan bertemu langsung dengan Pak AR,” katanya.

Kristiani mengaku awalnya hanya berniat memesan beberapa lapak di Mal PTC. Namun ia berubah pikiran setelah bertemu dengan AR. Ia terbuai mendengar janji yang ditawarkan oleh AR bahwa setiap pemilik  lapak dan outlet akan mendapatkan keuntungan besar di kemudian hari dari biaya penyewaan outlet.

Kala itu AR menjamin Kristiani bahwa dalam jangka waktu lima tahun, modal yang dikeluarkan pemilik outlet akan tertutup kembali. AR juga berjanji akan membantu para pemilik outlet  dan lapak  di Mal PTC untuk mencarikan pihak penyewa yang nanti akan mengisi outlet mereka.

“Pak AR bilang harga sewa outlet nanti bisa mencapai Rp50 juta per tahun, jadi paling lama lima tahun modal pembelian outlet sudah bisa kembali,” ucap Kristiani. Setelah mendengar penjelasan AR, ia pun memesan outlet lebih banyak lagi.

Ditambahkannya, pada waktu itu AR juga berjanji memberikan tambahan bonus potongan senilai Rp100 juta untuk pembelian tiap rumah yang rencananya juga dibangun. “Karena janji-janji yang begitu menggiurkan itu, saya jadi tertarik, saya pesan banyak outlet dan lapak,bebernya seraya menyebut dari sejumlah outlet yang sudah dipesannya itu, ia dijanjikan mendapat bonus 10 unit rumah.

Untuk meyakinkan Kristiani, tersangka AR menunjukkan master plan rencana pembangunan Mal PTC dan perumahan itu. “Bahkan waktu itu dia bilang, rencana pembangunan mal ini sudah mendapat persetujuan dari Gubernur Kalteng,sebut Kristiani.

Ditambahkan Deny, rencana pembangunan itu menarik minat masyarakat karena bertepatan dengan isu hangat pemindahan ibu kota negara ke Palangka Raya. “Rencana ini menarik karena momennya pas dengan adanya isu pemindahan ibu kota ke Palangka Raya,” ucap Deny.

Kristiani mulai menyadari adanya kejanggalan dan ketidakberesan pada Maret 2020. Kemudian Kristiani memutuskan untuk membatalkan seluruh pemesanan outlet dan terus menghubungi AR untuk meminta pengembalian uang yang sudah disetorkan.

Terakhir klien kami menghubungi AR lewat telepon sekitar Oktober atau November tahun lalu, setelah itu nomor telepon klien kami diblokirnya,” pungkas Deny.

12

Editor : nto
Reporter : sja/ce/ram