Motif bintik-bintik putih pada kedasih hitam muda ini akan memudar menjadi hitam pekat ketika dewasa. (Salman Toyibi/Jawa Pos)


Banyak mitos buruk yang melekat pada burung kedasih hitam. Penggiat dan pelestari burung D.T. Wibowo mematahkan mitos-mitos negatif itu.

BURUNG pembawa sial lah, pertanda kematian, dan sederet anggapan jelek lainnya,” urai pria yang akrab disapa Om Bowo itu. Mitos-mitos yang dia temukan di media sosial sekitar lima tahun silam soal burung kedasih hitam itu membuatnya resah.

Apalagi, ada anggapan di masyarakat kalau bertemu burung dengan nama ilmiah Surniculus lugubris itu harus dibasmi, dibantai, hingga dibakar. “Banyak orang yang percaya gara-gara melihat di YouTube dan lainnya,” beber Bowo saat dijumpai di kawasan Sawangan, Depok, Kamis (19/8).

Berangkat dari keresahannya itu, akhirnya pria yang kerap me-rescue burung tersebut mencari kedasih hitam melalui media sosial. “Daripada dibunuh mending bawa ke saya. Nanti saya ganti uang,” ceritanya.

Awalnya banyak yang tidak percaya. “Sempat dibilang penipu,” ujar Bowo. Sampai akhirnya ada orang yang datang kepada Bowo membawa kedasih hitam. Sejak saat itu, burung kedasih hitam yang masih anakan tersebut dia rawat. Diberi pakan dan dipelihara hingga burung itu dewasa dan berubah bentuk. Yang tadinya memiliki bintik putih menjadi hitam pekat.

Bowo menceritakan, di antara kalangan kicau mania, tak sedikit yang menentangnya. Banyak yang khawatir, kalau suara kedasih hitam sampai masuk ke burung lain, bakal jelek. Kacau. “Suaranya tidak laku di lomba dan bikin burung mati. Itu kan katanya. Anggapan itu nggak bisa dipercaya,” tuturnya.

Banyaknya cibiran yang mengarah padanya tidak membuat semangatnya patah. Justru tekadnya makin kuat untuk bisa mengedukasi masyarakat. Perlahan-lahan dia buktikan bahwa asumsi yang ada hanyalah mitos belaka. “Sebelumnya kan dibilang kalau dengar suara kedasih ada yang mau meninggal. Nah, kalau ia gacor terus masa ada yang bakal meninggal setiap hari. Itu mitos yang mengada-ada. Kebetulan saja,” bebernya.

Selama dua hingga tiga tahun dia mengedukasi, kini orang-orang mulai melepaskan mitos-mitos yang melekat pada si kedasih hitam. Bahkan, tak sedikit yang terpikat keunikannya. Banderolnya pun cukup mahal. Sebagai perbandingan, jika anakan cendet sekitar Rp 50 ribu, anakan kedasih nilainya bisa Rp 100–Rp 150 ribu. “Karena kan jarang, mulutnya oranye. Saat masih kecil, bulunya berbintik putih, ketika dewasa hitam full,” ujarnya.

Selain itu, pria kelahiran Blitar tersebut mengungkapkan, burung kedasih tidak bisa dicari dan hanya bisa ditemukan. Kenapa demikian? Sebab, burung kedasih hitam kodratnya tidak bisa membuat sarangnya sendiri. Ia harus mencari inang untuk menitipkan telurnya di burung lain. Misalnya, di burung cendet.

Tapi, ia tidak asal menitipkan. Induk kedasih hitam akan lebih dulu mengamati. “Jika dia menitipkan anaknya di situ nanti aman atau tidak. Kalau sudah yakin baru dititipkan,” kata pria 40 tahun itu. Ia terus memantau hingga terbang. Lantaran pengamatan induk kedasih yang jeli, si burung pemilik sarang asli tidak sadar kalau ada yang bukan anakannya.

Lantaran sering dibantai sebelumnya, bagaimana populasinya saat ini? Pemilik kanal YouTube BDB Channel Indonesia itu meyebutkan, tidak banyak riset mengenai burung kedasih hitam. “Kembali lagi, orang yang menemukan burung ini biasanya tidak sengaja. Yang bikin misterius ya karena keberadaannya tidak bisa ditebak itu,” katanya.

Karena itu, alih-alih menyematkan label buruk pada kedasih hitam, Bowo lebih suka menyebutnya sebagai burung yang misterius. “Yang menemukan kedasih hitam itu orang-orang yang terpilih,” ujarnya.

GAHARNYA KEDASIH HITAM

– Sering ditemukan di pegunungan. Di Indonesia, keberadaannya banyak dijumpai di Gunung Gede, Papandayan, Cikuray, Ciremai, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Barat.

– Secara perawakan, kedasih hitam mirip sri gunting. Bedanya, di bagian bawah tubuh kedasih terdapat bintik-bintik putih.

– Ia bukan kategori burung koloni. Hidupnya sendiri-sendiri. Biasanya ditemukan secara kebetulan.

– Sering bikin insecure burung lain jika disandingkan dengan kedasih hitam.

– Burung ini tidak bisa dijinakkan. Ketika lepas, ia akan terbang tanpa melihat ke belakang. Ibaratnya seperti enggan kembali ke masa lalu.

– Bisa dibilang, ia punya inteligensia yang bagus untuk bertahan hidup. Mulai menemukan inang untuk telurnya hingga mengamati anaknya survive atau tidak.

*Sumber: D.T. Wibowo

123

Editor : raf/c13/nor
Reporter :