Sukarman, menunjukan lahan jagung miliknya yang terendam banjir di sekitar rumahnya, di Kelurahan Kalampangan, Selasa (14/9).(FOTO: HAFIDZ/PROKALTENG.CO)


PALANGKA RAYA,PROKALTENG.CO – Sejumlah wilayah di Kota Palangka Raya terendam banjir. Tercatat, ada 12 Kelurahan terendam banjir. Air genangan tersebut tak luput melanda lahan pertanian di daerah Kalampangan, Kota Palangka Raya. Berdasarkan pantauan prokalteng.co, kondisi lahan bidang pertanian terendam banjir di Jalan Bereng Bengkel, Selasa (14/9) sore.

Menurut petani di wilayah Kelurahan Kalampangan ,Kota Palangka Raya, Banjir tersebut melanda sejak 15 hari yang lalu. “Kalau banjir tersebut 2 minggu lebih sudah, cuman kalau tanaman jagungnya, sekitar 3 hari setelah banjir baru datang mulai terendam, nah setelah itu baru mulai merata sampai terendam,” kata Sukarman, Petani Jagung di wilayah Kelurahan Kalampangan.

Dia mengungkapkan, akibat banjir petani jagung gagal panen. Padahal usia dari jagung yang ditanam ini sudah sekitar 50 harian ini. Artinya 10 hari lagi jagung tersebut bisa dipanen.Akhirnya, dari banjir yang merendam ini, dia mengalami kerugian kisaran 3 juta an untuk sekali panennya.

“Padahal tinggal 10 hari lagi panen, tapi timbul banjir, biasanya kalau dijual satu bungkus borongan itu 1.5 juta, tapi biasanya dapatnya 2 bungkus artinya 2 bungkus 3 jutaan, itu yang khusus jagung, belum lagi sayurnya yang lain” ucapnya.

Pria berumur 60 tahun ini mengakui, saat ini belum ada sentuhan perhatian  pemerintah setempat terkait bantuan berupa bibit dan pupuk untuk mengganti tanamannya yang terendam banjir tersebut. Dijelaskannya, walaupun pemerintah mempunyai program kartu tani tersebut, akan tetapi dia akui sulit menggunakan program tersebut.

“Harapannya pemerintah bisa memberikan bantuan berupa bibit dan pupuk, meskipun program pemerintah yang kartu tani tersebut bagus, akan tetapi sulit untuk mengakses, karena syaratnya kartu tani yang gesek itu 500 ribu untuk diisi paling enggak, kalau sekelas saya ini uang Rp500 ribu kebetulan ada ,kalau enggak ada ya mau gimana, jadi biasanya beli diluar, karena di luar kan bebas, walau harganya lain” jelasnya.

Diceritakan, sempat 3 kali gagal panen sejak bulan Juni kemaren. Hal tersebut akibat air genangan yang merendam lahan milik Sukarman tersebut.  Walaupun di Bulan Agustus dia sempat melakukan panen jagung tersebut. Dan akhirnya di bulan ini dia gagal panen kembali.

“Banjir sempat hampir sedada , jadi kalau motong batang jagung itu dilarut pakai terpal, walaupun hari ini agak surut airnya,” pungkasnya.

1

Editor : dar
Reporter : hfz