Kepala Seksi Perlindungan Khusus Anak, Naimah Fitriyanuarty. (Foto: Diskominfomc.kalselprov.go.id)


PROKALTENG.CO-Akibat tingginya angka kematian Covid-19, di Kalsel ada ratusan anak menjadi yatim/piatu lantaran orang tua mereka meninggal dunia usai terserang virus mematikan tersebut.

Berdasarkan data sementara Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kalsel, hingga kemarin (14/9) tercatat sudah ada 215 anak usia 0 sampai 17 tahun yang kehilangan orang tua gara-gara Covid-19.

Kepala Seksi Perlindungan Khusus Anak, Naimah Fitriyanuarty mengatakan, dari 215 anak itu, 102 di antaranya menjadi yatim dan 89 lainnya jadi piatu. "Sedangkan 24 sisanya jadi yatim piatu," katanya.

Dia mengungkapkan, jumlah tersebut kemungkinan akan bertambah. Karena masih ada tiga kabupaten yang belum melaporkan data anak di daerahnya yang kehilangan orang tua lantaran Covid-19.

"Selain itu, kabupaten/kota yang sudah melaporkan juga masih belum selesai melakukan pendataan," ungkapnya.

Dari 13 kabupaten/kota, sudah 10 yang melaporkan jumlah anak yang orang tuanya meninggal dunia akibat Covid-19. Yakni, Tanah Laut, Hulu Sungai Selatan, Barito Kuala, Balangan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Banjarbaru, Tanah Bumbu, Banjarmasin dan Tabalong.

Sedangkan tiga kabupaten yang belum melaporkan yaitu Tapin, Banjar dan Balangan. "Dari 10 daerah yang sudah melaporkan, anak yang paling banyak kehilangan orang tua ada di Tanah Bumbu dengan 53 anak dan Hulu Sungai Selatan, 48 anak," ujar Naimah.

Pendataan sendiri kata dia terus dilakukan, guna mengetahui ada berapa anak di Banua yang kehilangan orang tua akibat terserang virus corona. "Kami juga terus berkoordinasi serta ingin melakukan asesmen kebutuhan mereka terkait pendidikan, kesehatan, dan pengasuhan," katanya.

Di samping itu, pihaknya secara lisan juga sudah menghubungi Ikatan Psikolog Klinis agar bisa memberikan dukungan psikologis awal dan pendampingan pengasuhan terhadap anak menjadi yatim/piatu lantaran orang tuanya meninggal usai terserang Covid-19.

Disinggung apakah ada anak yang telantar karena kedua orang tuanya meninggal dunia, Naimah menyampaikan, hal itu baru diketahui setelah pihaknya sudah melakukan verifikasi lapangan. "Sekarang belum sampai ke verifikasi lapangan," ucapnya.

Sementara itu, Koordinator Program Studi Psikologi FK Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Sukma Noor Akbar menyarankan agar pemerintah benar-benar menangani anak-anak yang mendadak kehilangan orang tua akibat virus corona.

"Karena psikologis anak akan terganggu. Sehingga perlu perhatian dari pemerintah terkait dan masyarakat untuk ikut membantu meringankan beban psikologis anak tersebut," sarannya.

Dia menjelaskan, bagi anak yang mengalami kesulitan dalam beradaptasi akibat ditinggalkan orang tua tentunya perlu pendampingan dan dukungan dari orang terdekat."Atau perlu penanganan para ahli, seperti psikiater atau psikolog. Terutama bagi anak usia di bawah 12 tahun," jelasnya.

Apabila terjadi gangguan-gangguan psikologis, seperti perubahaan mood anak, menarik diri, perubahan nafsu makan, mengompol, sulit tidur, dan sakit tanpa penyebab yang jelas, menurut Sukma gangguan psikologis anak akan menjadi lebih parah serta mengganggu masa depannya jika tidak segera ditangani.

Ditambahkannya, perlunya penguatan data terkait anak yang telantar oleh pemerintah akan memudahkan pemberian bantuan. Baik bersifat bantuan sosial, kesehatan fisik dan psikologis, beasiswa atau orangtua asuh.

"Tentunya pemerintah tidak bisa berdiri sendiri, pihak swasta dan masyarakat perlu bahu membahu agar kesejahteraan psikologis anak bisa semakin meningkat," pungkasnya.

12

Editor : ris/ran/ema/prokalteng.co
Reporter :