Rasuk

Oleh: W.S. Djambak

  • 2021-11-07
ILUSTRASI (BUDIONO/JAWA POS)


Sudah beberapa hari ini Pramesti menggelinjang hebat. Suaranya berubah seperti suara laki-laki dan terdengar parau seperti harimau. ”Arrrgh!” geramnya. Di hari lain, ia berteriak sambil menegangkan urat leher dan mata yang mendelik ke arah langit-langit kamar. ”Panaas… panas!” ceracaunya.

KETIKA fajar tiba, badannya panas tinggi dan mulutnya menceracau. Keringatnya keluar sebesar bulir jagung membasahi seluruh tubuhnya. Matanya membeliak hingga yang tampak hanya putihnya. Kemudian, napasnya satu-satu dan beraroma sangat busuk. Nyaris tidak ada yang mau mendekat melainkan ibunya menangis meratap-ratap –bila teringat anak gadis yang teramat dikasihinya itu. Sedang ayahnya, seorang tetua kampung dan juga sakti mandraguna, sudah hampir kehabisan akal. Entah bagaimana lagi cara mengobati anaknya itu.

***

Pramesti yang baru melewati usia remaja memang sedang ranum-ranumnya. Siang itu, Pramesti seperti biasa pergi ke Telaga Putri untuk mandi bersama teman-temannya. Padahal, sudah sering ibunya mengingatkan agar tidak mendekati telaga itu tepat pada waktu matahari meninggi. Belum lagi pohon beringin di tepi telaga yang katanya angker dan sering dijadikan tempat pertapaan oleh orang-orang yang ingin mengasah ilmu kanuragannya, tidak terkecuali ayah Pramesti.

Sedang asyik bermain air, entah kenapa tiba-tiba Pramesti merasa ada hasrat yang begitu kuat memanggilnya untuk mendekati pohon beringin di tepi Telaga Putri. Teman-temannya sudah meneriaki Pramesti, namun ia bergeming. Dengan mata terpaku, ia mendekati sebuah lubang seukuran kepala orang dewasa di bawah salah satu akar beringin yang tumbuh di atas bebatuan cadas yang menjadi dinding dari Telaga Putri. Di lubang ini biasanya segala bentuk pusaka melintas antardimensi dan jadi pintu keluar masuk alam jin –manusia. Pramesti merasa seperti dipanggil-panggil oleh sebuah suara yang tidak kelihatan wujudnya.

Tiba-tiba saja, ia berteriak nyaring. Lama dan panjang, kemudian rebah dengan kepala membentur batu dan tertelentang. Kawan-kawannya bergegas berlari menghambur menuju tubuh Pramesti yang sudah terbujur. Mereka membopong tubuh Pramesti yang sudah seperti rangka kosong.

Sesampai di rumahnya, Pramesti dibaringkan ibunya di kamar. Bajunya sudah diganti dan diselimuti. Ayahnya yang mengetahui kabar anaknya bergegas pulang dari pertemuan antar tetua kampung.

Dengan kepandaiannya dalam hal ilmu kebatinan, dicobanya untuk mengobati Pramesti. Diambilnya sebuah daun salam yang sudah dimantrai dan diletakkannya di atas kening Pramesti. Pramesti masih bergeming, lama hingga fajar menjelang, lalu ia kejang-kejang, menggelinjang dan berteriak-teriak serupa kebakaran. ”Panas… panas,” teriaknya. Ia meracau dan mengamuk hingga senja tiba. Lepas itu, ia kemudian terkulai lemah dan kembali kambuh saat fajar pada hari berikutnya.

Ayah Pramesti terduduk masygul. Telah diupayakannya merapal segala rajah dan mantra. Entah sendiri atau meminta bantuan tetua lain. Namun, kali ini ia seperti hendak menyerah. Telah dicobanya berkomunikasi dengan makhluk yang merasuki anaknya itu. Namun, agaknya komunikasi mereka belum membuahkan hasil. Hingga di suatu siang, Pramesti memuntahkan daun ilalang disertai darah yang kental mengepalang.

Arya Keswari, ayah Pramesti yang hampir putus asa, tetiba teringat akan Tetua Panut, kepala suku di kampung mereka. Dengan segala pengharapan, ia kemudian meminta bantuannya. Gayung bersambut, Tetua Panut berkenan membantu dengan senang hati.

Ia kemudian disuruh menyiapkan buah-buahan, ayam hutan, dan sebuah kain beludru bersulam benang emas, lengkap dengan sebuah keris yang ditempah dari meteor yang jatuh di puncak gunung.

Tepat tengah hari, Tetua Panut mengusap wajah Pramesti dengan sebuah air yang telah dimantrai. Pramesti yang awalnya mengejang berangsur tenang. Ia terkulai lemas, namun matanya masih membeliak ganas.

”Siapa kau! Jangan ganggu urusanku!” pekik Pramesti kepada Tetua Panut.

Tetua Panut masih diam. Janggutnya yang tebal dan putih diusapnya dengan anggun. Seketika Pramesti yang dirasuki makhluk lain ini terlihat tertekan dengan wibawanya. Lalu, matanya yang semula nyalang menunduk, persis kucing yang kena siram.

”Apa maumu?” ujar Tetua Panut singkat.

Pramesti terdiam.

Tetua Panut kemudian menatap tajam. Baru saja ia hendak membuka mulut mau menggertak. Tiba-tiba saja Pramesti tertawa dengan suara yang membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengar menjadi merinding.

”Aku suka anak ini,” sahutnya.

Arya Keswari terkejut. Tidak disangkanya Pramesti akan disukai oleh makhluk hina tersebut. Tak rela rasanya jika anak yang disayanginya sepenuh hati itu menanggung derita dan menjadi incaran makhluk hina tersebut.

”Tidak bisa!” tegas Arya Keswari. ”Kalian dan kami berada pada alam yang berbeda! Lepaskan dia!” lanjutnya lagi berapi-api.

Tetua Panut mengangkat tangannya sebagai tanda menyuruh Arya Keswari diam. Ia menurut. Tetua Panut sesaat memperhatikan Arya Keswari, memaklumi amarahnya yang memuncak. Namun, masalah tidak akan bisa diselesaikan jika Arya Keswari terus saja emosional. Setelah minum seteguk, ia menyambung pertanyaan Arya Keswari, ”Apa yang kaumau agar keluar dari tubuh anak ini?”

Pramesti, atau setidaknya makhluk yang bersemayam di tubuhnya, terdiam sebentar, kembali tergelak terbahak-bahak. Suara tawanya memekak-menggelegak memenuhi kediaman Arya Keswari. Arya Keswari memeluk istrinya yang terisak melihat anak mereka yang tengah dikuasai entitas jahat itu.

“Aku mau sebuah pusaka sakti yang mampu menaklukkan apa pun. Juga harta kekayaan yang tidak habis tujuh turunan.” Ia diam dan berpikir sejenak. ”Lalu, aku mau kau!” Ia menunjuk ke arah Arya Keswari, ”aku mau kau menjadi budak ’tuk mengabdi kepadaku!”

Arya Keswari terkesiap. Ia sebenarnya tidak begitu kaget akan permintaan macam-macam dan serakah dari makhluk hina itu. Pun ia sudah menyiapkan mental jauh hari. Bukan sekali dua kali saja ia berurusan dengan mereka. Bahkan kerap kali ia membantu mereka. Tapi tidak untuk menjadi hambanya. Dibayangkannya bagaimana nasibnya kelak menjadi hamba makhluk durjana tersebut.

Namun, demi membebaskan anaknya dari pengaruh makhluk itu, dengan tergagap, diiyakannya juga permintaan makhluk itu. Disepakati kalau segala permintaannya sudah harus terpenuhi tengah malam nanti. Ia harus menanam pusaka dan sebuah kantong yang berisi rajah –yang mendatangkan emas jika dibuka– dalam lubang di bawah pohon beringin pinggir telaga –tempat Pramesti kerasukan.

Dengan bantuan para anggota kaumnya, Arya Keswari mengumpulkan segala persyaratan yang diminta oleh makhluk tersebut. Pada sebuah keris pusaka keluarganya, ia menanamkan kesaktian dan sebagian dari jiwanya di sana –yang berarti– ia sudah sah menjadi budak.

Setelah upacara pelepasan pusaka, makhluk tersebut kemudian menunaikan janjinya melepaskan Pramesti. Pramesti yang ditinggal makhluk tersebut berubah menjadi linglung seperti orang bingung. Ia tak lagi berani keluar rumah. Ibunya semakin patah hati. Suami menjadi budak, anak menjadi bongak. Bahkan, Tetua Panut juga tidak kuasa lagi mengobati Pramesti.

***

Kabar mengenai Pramesti tersiar hingga seantero negeri hingga menarik perhatian sang ratu. Sang ratu –yang bersimpati– menugaskan tabib dan dukun istana yang tersohor kehebatannya untuk mendatangi kediaman Pramesti dan mengobatinya. Perlahan, kondisi Pramesti mulai membaik.

Namun, tugas mereka belum selesai sampai di situ. Mereka harus menutup gerbang antaralam. Meski tidak bisa membatalkan perjanjian antara Arya Keswari dan makhluk itu –sebab mengingkari perjanjian adalah aib yang menghinakan– setidaknya mereka bisa menghindari hal yang sama terjadi lagi. Lalu dengan kesaktiannya, dukun istana berhasil menutup perbatasan dua alam yang berada pada lubang pohon beringin sehingga ke depan tidak akan ada lagi yang bisa melintas satu sama lain.

Menurut ceritanya, ternyata Telaga Putri –di alam mereka– juga merupakan telaga sunyi di alam lain. Namun, kondisi dunia mereka berbanding terbalik. Jika di dunia Pramesti kanan, di dunia lain itu kiri. Jika di dunia Pramesti siang hari, di dunia mereka tengah malam. Begitu pun sebaliknya.

Lebih lanjut, dukun istana menceritakan bahwa semenjak dahulu kala, alam mereka dan alam lain sudah berdampingan dan tidak jarang saling bekerja sama. Namun, makhluk ini di alamnya merupakan makhluk yang ganas dan suka berbuat kerusakan. Kehancuran alam dan kekacauan adalah pemandangan sehari-hari. Sifat mereka yang tamak dan amat suka memperturutkan hawa nafsu ini membuatnya menjadi ancaman nomor satu di dunia mana pun.

Barangkali, Pramesti yang ketika itu keluar tengah hari diganggu oleh mereka yang kebetulan tengah melakukan tapa di sana. Seperti watak mereka pada umumnya, barangkali salah seorang dari mereka tertarik akan kecantikan dan kemolekan tubuh Pramesti sehingga kemudian merasukinya.

Melepaskan pengaruhnya pun bukan hal yang mudah. Hingga Arya Keswari, ayah Pramesti, terpaksa bersekutu siap menjadi budak mereka. Akhirnya terjawab sudah alasan kenapa orang tua melarang mereka untuk mandi tengah hari. Bahkan, bagi para orang tua yang ingin menakut-nakuti anak-anak, mereka akan bercerita tentang makhluk jahat ini yang –suka mengganggu– bernama manusia. (*)

(W.S. DJAMBAK. Saat ini bermastautin di Pekanbaru, Riau. Menyukai dunia tulis-menulis; puisi, cerpen, esai, dan novel)

Editor : nto
Reporter : jpc/kpc
Share on | Facebook | Whatsapp | Telegram | Twitter

Berita Terbaru