Ngaji Jalan

  • 2022-05-01
CATATAN ARIF AFANDI*


MENGAJI Alquran memang sangat dianjurkan di bulan suci Ramadan. Inilah satu bulan penuh yang dianggap istimewa bagi umat Islam. Inilah bulan yang tepat bagi penggodokan spiritualitas diri.

Tapi, mengaji kini bukan hanya ibadah personal. Dengan adanya gerakan mengaji Alquran di jalan dan jalur pedestrian. Yang belum lama ini dilakukan sekelompok orang di Yogyakarta dan Pekanbaru. Jadilah bisa disebut dengan ngaji jalan.

Aksi itu sempat ramai di media sosial. Yang setuju bilang aksi tersebut sebagai syiar agama. Yang tidak setuju mengatakan, masih banyak tempat yang lebih pas untuk mengaji. ”Ngaji kok di jalan,” kata yang menentang.

Menurut saya, gerakan mengaji di jalan itu tidak harus dilihat dengan perspektif keberagamaan. Mesti didekati bukan dengan pendekatan ibadah. Tapi lebih tepat melalui kacamata yang lain. Sebagai instrumen mengekspresikan sikap salah satu kelompok Islam.

Ini bukan aktivitas keberagamaan sebagai bagian dari peribadatan. Melainkan ekspresi beragama yang menjadi instrumen show off. Ini seperti unjuk rasa mahasiswa yang menentang wacana jabatan tiga periode presiden. Yang layu sebelum berkembang.

Jika itu ekspresi sikap, lantas pesan apa yang akan disampaikan dengan gerakan ngaji di jalan? Ini yang belum terang. Padahal, jika itu untuk menyampaikan aspirasi, pesannya perlu jelas. Misalnya karena ada larangan mengaji di masjid atau sebagainya.

Jika eksistensi umat Islam yang ditunjukkan, tentu tidak tepat sasaran. Sebab, umat Nabi Muhammad SAW itu telah menjadi mayoritas di negeri ini. Ikut andil besar dalam pembentukan NKRI. Bahkan, aspirasinya terakomodasi dalam berbagai undang-undang (UU).

Konteksnya berbeda dengan salat bersama di Time Square, New York. Di negeri yang Islamnya minoritas itu, bisa dimaklumi jika ada upaya menunjukkan eksistensi diri umat Islam. Apalagi, memang jumlah masjid atau tempat ibadah muslim juga masih sangat terbatas di sana.

Berbicara eksistensialisme ini, saya menjadi teringat di tahun 1980-an. Ketika jilbab masih belum menjadi mode kaum muslim di Indonesia. Bahkan, ada larangan siswa memakai jilbab ke sekolah. Larangan resmi yang datang dari pemerintah.

Kini perempuan muslim tak memakai jilbab terkadang malah dianggap aneh. Bahkan, jilbab dan hijab telah menjadi mode dan komoditas bisnis yang berkembang pesat. Kalau jilbab dan hijab menjadi salah satu simbol keislaman seorang muslimah, apakah masih perlu unjuk eksistensi?

Di zaman dulu, pengajian juga harus mendapat izin dari kepolisian. Kalau penceramahnya tingkat nasional, izinnya di Mabes Polri. Kalau lintas provinsi, harus izin ke polda dan seterusnya. Beragama tak bebas seperti sekarang. Meski muslim sudah mayoritas. Nah, apakah sekarang mendatangkan pendakwah harus izin kepolisian?

Telah banyak juga akomodasi nilai-nilai agama dalam sistem ekonomi dan politik kita. Ekonomi syariah menjadi salah satu program prioritas. Ini salah satu alasan kenapa Jokowi memilih KH Ma’ruf Amin menjadi wakil presiden untuk periode kedua jabatan presidennya. Bank Syariah Indonesia (BSI) menjadi bank milik pemerintah yang juga besar sekarang.

Masih banyak daftar akomodasi aspirasi Islam dalam sistem NKRI. Kementerian Agama, UU Perkawinan, UU Zakat, dan sebagainya. Warga bebas mendirikan masjid, menggelar kegiatan keagamaan, dan memfasilitasi berbagai aktivitas keagamaan.

Semua itu menunjukkan bahwa menjadi kurang nalar jika menyebut ada Islamofobia di negeri ini. Kecuali bagi mereka yang menginginkan sesuatu yang lebih dari konsensus para founding fathers kita. Yang menyepakati bahwa kita memilih negara kesatuan dengan Pancasila sebagai dasar ideologi kita.

Realitasnya, selama ini masih ada kelompok muslim yang menginginkan itu. Ini terbukti dengan masih munculnya wacana tentang NKRI bersyariah, ide negara khilafah, dan aspirasi Islam yang belum puas dengan sistem berbangsa dan bernegara kita. Apalagi, aspirasi politik itu dibalut dengan identitas keagamaan.

Tantangan masa depan kita akan lebih kompleks daripada sekarang. Menyiapkan diri menghadapi masa depan dunia yang terus berubah seharusnya menjadi agenda penting bangsa ini. Termasuk elemen-elemen keagamaan yang ada di negeri ini. Membangun peradaban yang kompetitif di dunia menjadi sangat penting.

Ini hanya bisa dilakukan dengan membangun saling percaya diri. Termasuk kepercayaan diri umat Islam yang bisa unggul dalam percaturan peradaban baru ini. Show off dengan ngaji di jalan dan trotoar hanya akan menunjukkan inferiority complex alias perasaan inferior dari mayoritas umat.

Saya lebih suka berpikir bahwa sebagai mayoritas umat bukan lagi saatnya merasa terpinggirkan, terpojokkan, dan dikalahkan. Tapi menjadi penentu untuk membawa bangsa ini menjadi pemenang dalam percaturan global dengan keunggulan kompetitif dalam prinsip Islam sebagai rahmatan lil alamin.

Caranya? Tentu bukan dengan gerakan ngaji jalan. Kata orang Jawa: iku ora empan gowo papan. Mengerjakan sesuatu tidak pada tempatnya. Lebih patut gerakan mendidik warga disiplin lalu lintas atau saling menghormati di jalan.

Saya yakin, kalau semua berpikir tentang peradaban, pasti olok-olok cebong dan kadrun akan hilang sendiri. Olok-olok itu marak karena syahwat politik identitas dengan memperalat agama masih tinggi. Termasuk model ngaji jalan ini. (*)

 

*) Pemimpin Redaksi Jawa Pos 2001–2005

Editor : dar
Reporter : jpc
Share on | Facebook | Whatsapp | Telegram | Twitter

Berita Terbaru