Menjaga Momen Dampak Positif Mudik

  • 2022-05-09
Oleh Eko Listiyanto, wakil Direktur Indef


MOMEN mudik Lebaran selalu memberi dampak pada perekonomian domestik. Apalagi, tahun ini pemerintah memperbolehkan mudik setelah dua tahun dilarang karena pandemi. Dampak mudik tahun ini pada ekonomi sangat besar. Terutama bagi daerah-daerah tujuan mudik dan kota-kota besar. Sebab, ada peningkatan konsumsi masyarakat, bahkan sebelum momen mudik terjadi.

Antusiasme mudik tahun ini sangat tinggi. Bahkan sampai memecahkan rekor. Yang lewat jalur darat malah lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Dengan gambaran itu, tentu dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi cukup besar.

Saat perjalanan mudik, ada konsumsi energi. Itu berkontribusi positif pada sektor transportasi. Konsumsi pulsa yang tinggi saat Lebaran juga berdampak pada kinerja sektor telekomunikasi. Begitu pula sektor makanan dan minuman. Dampak lainnya pada sektor pariwisata. Terutama pariwisata yang berbasis hiburan keluarga. Hal ini bisa menjadi momentum titik balik sektor pariwisata. Dengan catatan, tidak ada lonjakan kasus Covid-19.

Jika tidak ada lonjakan kasus, situasi ke depan berangsur normal. Orang-orang menjadi tidak takut datang ke titik keramaian lagi. Itu adalah cerminan bahwa aktivitas ekonomi juga kembali pulih. Konsumsi lebih stabil dan kontinu.

Sumbangan aktivitas mudik pada pertumbuhan ekonomi cukup besar. Bank Indonesia (BI) menyiapkan uang tunai sekitar Rp 176 triliun untuk kebutuhan masyarakat selama periode Ramadan dan Idul Fitri tahun ini. Katakanlah ada Rp 200 triliun uang yang berputar di daerah, tentu efek ke pertumbuhan ekonomi cukup besar. Dari hitungan kasar itu, diperkirakan ada 1–1,5 persen dorongan ke pertumbuhan ekonomi pada kuartal ini.

Dengan kondisi itu, sangat mungkin pertumbuhan ekonomi kuartal II 2022 yang dirilis BPS hari ini (9/5) bisa lebih tinggi daripada kuartal I 2022. Sebab, pada kuartal I tidak ada momen-momen berarti yang bisa mendongkrak.

Namun, ada catatan lagi. Masih ada kekhawatiran kenaikan harga-harga energi. Sudah bukan rahasia bahwa Pertamina harus menanggung subsidi energi yang sangat besar. Kalau kabar kenaikan harga-harga energi terjadi dalam waktu dekat, itu akan menggerus lagi daya beli masyarakat. Dampak Lebaran yang sudah positif menjadi tergerus karena harga-harga naik.

Ke depan, ada dua hal yang harus diwaspadai. Pertama, kenaikan harga komoditas yang terus tinggi. Itu akan menekan pemulihan dan pertumbuhan ekonomi.

Kedua, agresivitas kenaikan suku bunga bank sentral AS The Fed juga harus dicermati. Memang capital outflow yang akan terjadi tidak akan sebesar dulu. Sebab, capital outflow yang cukup besar sudah terjadi pada awal pandemi. Tetapi, karena adanya tren kenaikan suku bunga di level global, itu akan mendorong bank-bank di dalam negeri untuk menaikkan bunga.

Kondisi itu akan menjadi tantangan, terutama bagi pemerintah dan regulator. Di tengah situasi tren suku bunga global yang naik, pemerintah dan regulator harus menjaga kebijakan yang masih pro-growth.

 

*) Disarikan dari wawancara wartawan Jawa Pos Dinda Juwita

Editor : dar
Reporter : */c6/fal/jpc
Share on | Facebook | Whatsapp | Telegram | Twitter

Berita Terbaru