Dampak dan Pengendalian Penyakit Mulut dan Kuku di Jawa Timur

  • 2022-05-11
Oleh MUSTOFA HELMI EFFENDI *)


PEKAN ini kita dikejutkan dengan letusan wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) pada sapi di Jawa Timur. Hal ini merupakan fenomena yang agak aneh. Sebab, sejak 1986 Indonesia sudah dinyatakan bebas dari PMK. Dampak PMK sudah menjangkiti ribuan sapi dan beberapa anak sapi yang mati.

Kita perlu mengenal PMK lebih terperinci dengan harapan dapat mengeliminasi dampaknya serta mampu menanganinya. PMK adalah penyakit virus menular dan terkadang fatal yang menyerang hewan berkuku belah. Termasuk sapi, kerbau, domba, kambing, babi, kijang, dan rusa. Virus tersebut menyebabkan demam tinggi yang berlangsung selama dua sampai enam hari, diikuti dengan lepuh di dalam mulut dan di kaki yang dapat menyebabkan kepincangan.

PMK memiliki implikasi yang sangat parah untuk peternakan karena sangat menular. Dan dapat disebarkan relatif mudah melalui kontak dengan peralatan peternakan yang terkontaminasi, kendaraan, pakaian, dan pakan. Penanganannya yang efektif adalah vaksinasi, tetapi diperlukan langkah awal untuk mengetahui serotipe yang menyebabkan wabah tersebut. Serta harus segera ada pembatasan pergerakan hewan terpapar PMK ke daerah lain.

PMK merupakan penyakit self-limiting disease untuk hewan dewasa. Sapi, kerbau, domba, dan kambing dapat sembuh dengan sendirinya dan menjadi pembawa setelah infeksi akut. Artinya, mereka masih terinfeksi virus dalam jumlah kecil, tetapi tampak sehat. Hewan dapat menjadi pembawa hingga 1–2 tahun dan dianggap sangat tidak mungkin menginfeksi hewan lain. Meskipun bukti laboratorium menunjukkan bahwa penularan dari pembawa mungkin terjadi.

Beberapa spesies, terutama babi, dikenal sebagai hewan yang mampu meningkatkan jumlah virus atau amplifier. Sebab, mereka sering mengeluarkan sejumlah besar virus PMK. Sapi yang terinfeksi tidak melakukannya pada tingkat yang hampir sama.

 

Penularan

Virus PMK dapat ditularkan dalam beberapa cara. Di antaranya, kontak dekat, penyebaran hewan ke hewan, penyebaran aerosol jarak jauh dan fomites, atau benda mati seperti pakan ternak dan kendaraan bermotor. Pakaian dan kulit peternak, genangan air, sisa makanan mentah, dan suplemen pakan yang mengandung produk hewani yang terinfeksi juga dapat menjadi sumber penularan virus. Sapi betina juga dapat tertular PMK dari air mani sapi jantan yang terinfeksi. Tindakan pengendalian, termasuk pelarangan keluar masuk dari kandang hewan terpapar PMK, harus diterapkan secara ketat.

Ada variasi kerentanan hewan terhadap infeksi dan kemampuan untuk menyebarkan penyakit antara spesies yang berbeda, strain virus, dan rute penularan. Misalnya, sapi jauh lebih rentan daripada babi terhadap infeksi virus aerosol. Dan babi yang terinfeksi menghasilkan 30 kali jumlah virus aerosol dibandingkan dengan sapi dan domba yang terinfeksi. Juga, babi sangat rentan terhadap infeksi melalui rute oral. Selain itu, virus dapat tetap aktif untuk waktu yang lama pada bahan pakan tertentu, terutama bungkil kedelai.

Penularan virus PMK dimungkinkan sebelum hewan memiliki tanda-tanda penyakit yang jelas. Kondisi itu menjadi faktor yang meningkatkan risiko persebaran virus secara signifikan sebelum wabah terdeteksi. Diperkirakan periode sapi yang terinfeksi menjadi 1–7 hari, tetapi sapi dapat menularkan virus selama beberapa jam sebelum mereka mengalami demam atau lesi pada PMK.

Hewan yang terpapar PMK dan terinfeksi biasanya menampakkan gejala klinis segera (2–14 hari) setelah infeksi awal. Sangat jarang hewan peliharaan tidak menunjukkan setidaknya beberapa tanda klinis, yakni tanda-tanda yang segera mengingatkan pemilik bahwa hewan tersebut sakit.

 

Penanganan Daging Sapi Terpapar PMK

Pada fase akut infeksi PMK, virus biasanya menyebar cukup luas ke seluruh tubuh dan dapat diisolasi dari darah, susu, sekret oral, sekret hidung, dll. Hal ini menunjukkan bahwa virus dapat hadir dalam jaringan otot hewan di waktu penyembelihan. Terutama jika hewan secara klinis terpengaruh/sakit.

Hewan pembawa, yaitu hewan yang telah sembuh dari penyakit tetapi terus menampung dan melepaskan organisme untuk jangka waktu terbatas, cukup jarang, tetapi dapat terjadi. Infeksi biasanya berahan di saluran hidung dan faring pada hewan pembawa.

Setelah hewan disembelih, asam laktat terakumulasi dalam jaringan otot karena glikogen habis, yang mengakibatkan penurunan pH dari ~7,0 menjadi ~5,5. Lamanya waktu yang dibutuhkan untuk penurunan pH ini bervariasi karena sejumlah kondisi (misalnya pendinginan yang cepat menghasilkan penurunan pH yang lebih lambat), tetapi pada dasarnya selalu selesai pada ~24 jam pasca pemotongan. Proses ’’pengasaman’’ post-mortem ini unik untuk jaringan otot dan karena itu tidak terjadi di dalam tulang, jaringan kelenjar, seperti kelenjar getah bening, dan jeroan.

Teknik pelayuan daging setelah dipotong ini diperlukan untuk menurunkan pH daging yang berefek pada penurunan jumlah virus PMK yang mengontaminasi daging sapi tersebut. Di samping itu, virus PMK tidak menyerang manusia. Maka, daging sapi penderita PMK yang disembelih dan mengalami pelayuan aman untuk dikonsumsi masyarakat.

 

Pengendalian

Seperti virus RNA lainnya, virus PMK terus berevolusi dan bermutasi sehingga salah satu kesulitan dalam memvaksinasinya adalah variasi yang sangat besar antara, dan bahkan di dalam, serotipe yang sama. Tidak ada perlindungan silang yang terlihat antara serotipe. Artinya, vaksin untuk satu serotipe tidak akan melindungi terhadap yang lain. Itu berarti vaksin PMK harus sangat spesifik untuk strain yang terlibat.

Vaksinasi hanya memberikan kekebalan sementara yang berlangsung dari bulan ke tahun. Jadi, vaksinasi merupakan model pencegahan yang baik jika menggunakan virus lokal yang menyebabkan wabah PMK di daerah tersebut.

 

Virus PMK cukup sensitif terhadap pH di lingkungan mikronya dan bukti menunjukkan bahwa virus PMK dinonaktifkan di bawah pH ~6.0 dan di atas ~9.5. Virus bertahan cukup baik di lingkungan yang dingin dan untuk jangka waktu yang sangat lama di bawah titik beku. Virus PMK telah menunjukkan penurunan kelangsungan hidup pada suhu ~ 65oF dengan degradasi yang sangat cepat terjadi pada 122oF dan lebih tinggi. Virus ini juga cukup rentan terhadap sejumlah disinfektan yang tersedia secara umum, seperti natrium hidroksida dan asam sitrat.

Sehingga pemahaman yang akurat tentang parameter penularan merupakan komponen penting dalam membangun model epidemiologi yang dapat menginformasikan strategi dan kebijakan pengendalian PMK. Jadi, vaksinasi dengan virus lokal dan dikombinasikan dengan penggunaan disinfeksi yang tepat untuk pengeliminasian virus merupakan langkah yang tepat untuk pengendalian wabah PMK ini. (*)

 

*) MUSTOFA HELMI EFFENDI, Wakil dekan bidang kerja sama penelitian dan publikasi FKH Unair, guru besar di bidang kesehatan masyarakat veteriner

Editor : dar
Reporter : jpc
Share on | Facebook | Whatsapp | Telegram | Twitter

Berita Terbaru