Spirit Bung Karno dan Disrupsi Profesi Guru

  • 2022-05-14
Oleh SUSANTO *)


SEJAK entakan Covid-19 melanda dunia, hampir semua sektor kehidupan manusia terdampak, sektor ekonomi, sosial-budaya, kesehatan, pendidikan, kegiatan keagamaan, dan lainnya. Pendidikan merupakan sektor esensial yang sangat terasa dampaknya hingga saat ini. Meski berbagai upaya dan intervensi telah dilakukan, mulai bantuan fasilitas, bantuan kuota untuk belajar, penyesuaian kurikulum darurat, bahkan terbaru telah terbit kebijakan kurikulum merdeka, tampaknya sisa-sisa dampak Covid-19 memerlukan langkah besar agar kualitas pendidikan di Indonesia tidak tertinggal dari negara lain.

Dampak Covid-19 juga rentan mendisrupsi profesi guru. Guru tak lagi dilihat seberapa lama ia mengabdi, namun seberapa mampu ia beradaptasi dengan tuntutan teknologi dan informasi. Sejak Covid-19 melanda, kultur pembagian jam mengajar bergeser, dari pola lama ke pola baru. Dulu kepala sekolah dalam membagi jam mengajar mempertimbangkan jumlah guru, kelas, dan pengalaman. Kini juga mempertimbangkan kompetensi teknis dalam mengoperasikan perangkat teknologi dan informasi. Tak sedikit guru yang terpaksa didampingi guru yang melek digital karena pertimbangan non-skill terkait teknologi. Semata untuk keperluan membantu teknis mengoperasikan media pembelajaran berbasis digital agar ia tetap mendapatkan jam mengajar.

Kondisi tersebut menjadi pertanda bahwa guru saat ini menghadapi tuntutan kompetensi teknologi dan informasi untuk mendukung kualitas layanan pendidikan yang lebih adaptif. Namun, guru yang literate dengan teknologi dan informasi bukan berarti segalanya. Karena ragam tantangan lain memerlukan bukan sekadar kompetensi teknologi. Namun, ketajaman jiwa seorang guru dalam mengabdikan diri di dunia pendidikan menjadi tagihan yang sangat fundamental.

Apalagi, akibat Covid-19, ragam kerentanan baru pada anak usia pelajar terus bermunculan. Kerentanan anak putus sekolah, kerentanan menikahkan anak daripada melanjutkan pendidikan, kerentanan anak terpapar media digital, kerentanan anak mengalami masalah psikologis, kerentanan anak menjadi pelaku bullying sebagai akibat lekatnya dengan akses kekerasan di media digital, dan kerentanan lainnya. Kondisi tersebut memerlukan guru yang memiliki ketajaman jiwa sebagai pendidik, sebagai orang tua, sebagai mentor, bahkan sebagai sahabat. Dan bukan sekadar sebagai pengajar yang andal teknologi. Namun tak peka terhadap masalah yang dihadapi peserta didik.

 

Spirit Bung Karno

Untuk mengatasi ragam tantangan di atas, diperlukan guru yang responsif sekaligus sebagai pelindung bagi anak. Pribadi yang demikian memerlukan spirit Bung Karno agar guru memiliki ketajaman jiwa sebagai pendidik sejati.

Menurut Bung Karno, tiap-tiap guru tidak saja memenuhi syarat-syarat ”technisch” yang orang biasanya tuntutkan dari seorang guru, tapi benar-benar Rasul kebangunan yang sejati, — Rasul kebangunan bukan saja secara ”formeel”, tetapi Rasul kebangunan di dalam tiap-tiap sepak terjangnya, di dalam segenap levenshounding-nya, di dalam sekujur badan dan tulang sungsumnya, — satu Rasul kebangunan sampai ke ujung tiap-tiap getaran rohnya dan jiwanya (Sukarno, 1964:613). Hanya guru yang benar-benar Rasul kebangunan dapat membawa anak ke dalam alam kebangunan. Hanya guru yang dadanya penuh dengan jiwa kebangunan dapat ”menurunkan” kebangunan ke dalam jiwa anak… (Sukarno, 1964:614-615).

Dari pandangan Bung Karno tersebut, setidaknya terdapat dua kata kunci; pertama, untuk menjadi guru sejati, tak sekadar mengandalkan syarat formil; kedua, guru yang memiliki idealisme dalam jiwanya sebagai pendidik merupakan guru terbaik. Dengan kata lain, untuk mewujudkan cita-cita pendidikan nasional, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (termaktub di Undang-Undang 20/2003 tentang Pendidikan Nasional), diperlukan guru yang dalam pribadinya dilandasi dengan panggilan jiwa.

Sejatinya pandangan dimaksud sejalan dengan Undang-Undang Guru dan Dosen Pasal 7 ayat 1 bahwa profesi guru merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan berdasar prinsip; memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme. Karena panggilan jiwa, guru perlu memiliki antara lain: (1) kasih sayang kepada peserta didik, (2) kesadaran akan profesinya sebagai tugas mulia, (3) sebagai pelindung anak tanpa diskriminasi, (4) melakukan tugas dilandasi dengan rasa tanggung jawab, (5) sarat dengan inovasi yang membahagiakan anak untuk belajar.

Panggilan jiwa adalah keinginan yang tinggi dalam diri seseorang untuk memilih salah satu profesi yang disenanginya. Panggilan jiwa semata ditujukan kepada tuntutan hati nurani terhadap satu perbuatan yang dianggap baik. Panggilan jiwa merupakan faktor utama yang membuat seseorang menjadi profesional untuk mengabdi pada profesi yang dipilih.

Secara sosio-humanis, panggilan jiwa seorang guru dapat dilihat dari motivasi mereka menjadi guru, baik motivasi yang mendorongnya (because motive) maupun motivasi yang diharapkannya (in order motive). Dua motif subjektif itu akan sangat menentukan profesionalitasnya sebagai seorang guru yang berdedikasi tinggi bagi masa depan pendidikan.

Menurut Yazici (2016), kunci keberhasilan pendidikan terletak pada hadirnya guru yang idealis. Tanpa guru yang idealis, sebaik apa pun sistem pendidikan akan terhambat oleh proses di kelas belajar. Sebaliknya, munculnya ragam masalah anak di kelas-kelas belajar dalam banyak kasus juga merupakan dampak dari gagalnya guru dalam melaksanakan tugas, baik secara individu, institusi, maupun pola kemitraan antara guru dan orang tua.

Puluhan tahun lalu, tokoh pendidikan karakter Lickona (1992) telah berpesan bahwa untuk membangun pendidikan yang berkualitas, guru tak hanya dituntut memiliki kompetensi hard skill, namun lebih dari itu mesti memiliki kompetensi soft skill berupa keikhlasan, kasih sayang, dan idealisme untuk mendidik. Inilah yang membedakan profesi guru dengan profesi-profesi lainnya.

Dengan hadirnya guru yang demikian, dunia pendidikan akan semakin memerdekakan anak untuk belajar dan berkembang sesuai dengan bakat dan potensinya, dunia pendidikan pun semakin kompetitif dan mampu menjadi solusi beragam masalah kehidupan. Hal tersebut relevan dengan pandangan Lyndon B. Johnson, presiden Amerika Serikat periode 1963–1969, bahwa: ”all the problem can be solved with one word is education”. Semoga kita semua terinspirasi. (*)

 

*) Susanto, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), founder Sekolah Karakter Genius Islamic School Kota Depok

Editor : dar
Reporter : jpc
Share on | Facebook | Whatsapp | Telegram | Twitter

Berita Terbaru