Waisak, Sriwijaya, dan Pariwisata Afinitas

  • 2022-05-17
Oleh DEWA GDE SATRYA *


PERAYAAN Hari Raya Waisak yang diperingati umat Buddha pada hari ini, Senin (16/5), mengingatkan akan kerajaan besar di tanah air, Sriwijaya (abad ke-7–12). Warisannya bukan hanya kejayaan masa lampau, persemaian iman Buddha, sekaligus jalinan persahabatan dengan negara-negara lain yang memiliki corak iman mayoritas yang sama.

Pada perayaan Waisak Nasional 2007 di pelataran Candi Borobudur, Presiden RI (saat itu) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyerahkan buku Trail of Civilization kepada para menteri pariwisata negara yang tergabung dalam Trail of Civilization. Di antaranya Laos, Vietnam, Kamboja, Thailand, dan Myanmar.

Maksud baik dari penjelajahan peradaban secara bersama-sama itu untuk menemukan dan menapaktilasi jejak leluhur masing-masing negara. Di sini ada ikatan historis yang tak ternilai harganya bahwa Indonesia memiliki pertalian sejarah keberimanan yang sama dengan kelima negara tersebut. Ketika penjelajahan itu melintasi batas-batas negara, terjadi perjalanan wisata yang menggugah kesadaran keterikatan sejarah antarnegara.

Affinity tourism (pariwisata berbasis kesamaan) menjadi konsep untuk menggarap pasar wisatawan mancanegara (wisman) segmented. Thirumaran (2009) mengeksplorasi turis India sebagai contoh di mana afinitas merupakan faktor kunci kedatangan turis India di Bali. Bagi pengunjung India, paradigma eksotis kurang relevan dibandingkan dengan rasa kedekatan budaya yang terjadi antara pengunjung (India) dan tujuan perjalanan (Bali). Pryce & Pryce (2018, dalam Putra, et al., 2018) menyatakan affinity tourism sebagai lawan dari pariwisata eksotis, yakni daya tarik wisata didasarkan pada kesamaan.

Lebih lanjut, Putra et al (2018) dalam penelitiannya di Garuda Wisnu Kencana (GWK) dengan perspektif wisata afinitas mengatakan bahwa GWK berfungsi sebagai atraksi budaya yang membangun hubungan budaya. Pengunjung India termotivasi untuk berbagi dan merayakan warisan budaya Hindu yang sama dengan tuan rumah mereka di Bali. Bagi wisatawan Asia yang merasakan kedekatan dengan budaya Bali, GWK berfungsi sebagai representasi budaya Hindu.

Dalam konteks itu, pertalian sejarah dan budaya menjadi value preposition menggarap pasar wisman ke Indonesia. Keberbedaan peradaban tidak selalu menjadi kekuatan dan alasan utama perjalanan wisman ke Indonesia. Tetapi, faktor kesamaan dalam hal pertalian sejarah yang selama ini tersimpan samar-samar seiring berjalannya waktu di antara negara bangsa yang memiliki pertalian sejarah dapat direkonstruksi, diceritakan kembali, dikenang, dan dikenalkan kembali pada peradaban kontemporer. Trail of Civilization menjadi produk pertalian sejarah Indonesia dengan negara lainnya yang menjadi produk affinity tourism.

Meski program Trail of Civilization itu tidak berkelanjutan, melihat komposisi negara-negara yang tergabung dalam Trail of Civilization, perlu upaya untuk menghidupkan kembali yang memberikan alternatif untuk memajukan pariwisata di tanah air khususnya.

Pertama, diyakini kelima negara sahabat merasa memiliki kesamaan tantangan pada masa pandemi Covid-19 saat ini. Kesamaan tantangan itu semakin terasa kuat setelah banyak negara di Asia semakin terpuruk sektor pariwisatanya oleh pandemi. Keinginan untuk memajukan lagi sektor ekonomi dan sektor kehidupan lain di negara masing-masing semakin menemukan peluang yang luas ketika rasa senasib sepenanggungan itu ditangkap sebagai kerinduan untuk menyatukan diri.

Karena itu, ada harapan yang besar masing-masing negara saling membantu dan menguatkan ketahanan sektor pariwisata. Jika saja persatuan enam negara itu berwujud nyata dan berhikmah positif dalam banyak hal, baik itu sosial-budaya, ekonomi, maupun politik, niscaya nama besar Sriwijaya dapat ditegakkan lagi dengan menempatkan Indonesia sebagai motor utamanya.

Mengapa Indonesia? Sejarah besar Sriwijaya menempatkan Indonesia sebagai pusat. Memang, lima negara yang lain lebih bercorak masyarakat beriman Buddha, tetapi dari segi sejarah, pusatnya di Indonesia. Dibandingkan dengan Thailand, situs-situs warisan sejarah persemaian iman Buddha tidak selama peninggalan yang ada di Indonesia. Di Thailand ada sekitar 400 kuil Buddha, beberapa di antaranya berada di tengah-tengah pusat keramaian.

Dari sekian banyak kuil dan candi, ada beberapa yang cukup dikenal. Salah satunya adalah Wat Arun Ratchawararam Temple yang merupakan kompleks candi warna-warni yang berdiri sejak 1872 dengan tinggi 66 meter. Situs peninggalan sejarah keberimanan Buddha lainnya di lima negara ASEAN antara lain Luang Prabang, Angkor Watt, dan Ayothaya.

Warisan iman Buddha di Indonesia mengundang decak kagum dunia pada Candi Borobudur yang mencerminkan peradaban tinggi dan teladan toleransi antarumat beragama yang sudah dihidupi oleh nenek moyang bangsa Indonesia. Bisa jadi, unsur toleransi antarumat beragama itu hanya dapat dilihat pada situs-situs peninggalan sejarah di Indonesia.

Kedua, persatuan atas dasar kedekatan geografis ditambah dengan pertalian persaudaraan yang didasari faktor sejarah dinilai jauh lebih strategis dan tulus ketimbang forum kerja sama bilateral atau multilateral yang hanya didasari kedekatan geografis. Ketika ada unsur pertalian sejarah, apalagi itu menyangkut sejarah keberimanan, niscaya ada energi yang lebih besar untuk mendinamiskan penyatuan diri dalam suatu wadah organisasi. Tujuannya agar benar-benar berhikmah positif pada banyak sektor kehidupan. Di sinilah pentingnya Trail of Civilization.

Meski pusat Kerajaan Sriwijaya ada di Palembang, Sumatera Selatan, bukan berarti daerah-daerah lain di Indonesia tidak memiliki situs peninggalan sejarah keberimanan Buddha. Surabaya, misalnya, memiliki patung Buddha Empat Muka (Four Faced Buddha Monument) terbesar di dunia yang terletak di kawasan Pantai Kenjeran, Surabaya, dengan tinggi 9 meter dan tinggi total 36 meter (termasuk kubah).

Bukan hanya itu, monumen ini dilapisi emas di seluruh bagian tubuhnya. Diharapkan, kebesaran sejarah Sriwijaya yang melekat dengan Indonesia juga berhikmah positif pada sektor pariwisata berbagai daerah di tanah air. Selamat Hari Raya Waisak 2022. (*)

*) DEWA GDE SATRYA, Dosen Prodi Pariwisata School of Tourism Universitas Ciputra Surabaya

Editor : dar
Reporter : jpc
Share on | Facebook | Whatsapp | Telegram | Twitter

Berita Terbaru