Dalam Bus Family Raya

  • 2022-09-05


Dalam Bus Family Raya

 di jalan pulang Jawa–Sumatera

aku kembali teringat Thendra

masih jalanan yang itu juga

tahun yang tak lagi sama

aku mengingatnya di antara bangku kosong,

Ramadan yang dipepet Lebaran,

padat jalanan sepasti kisah perjalanan kami

dengan pikiran dan hasrat yang menggebu:

pulang sebagai seorang yang merasa penting

yang kelak, di masa yang sekarang kini

kami jauh lebih penting lagi

tapi aku masih sendirian di bangku ini

tidak dengan minyak wangi

dan lirik kecil ke bangku manis

melainkan dengan minyak gosok,

obat masuk angin

dan masih bukan siapa-siapa.

April 2022

 

12 Mei 2022

 

 

malam ini seseorang merayakan hari lahirnya

 

aku mengingat dengan baik sebagai jarak

 

dan kehilangan

 

 

 

seseorang lain berbaring di sini

 

menunggu maut yang menjemputnya

 

tak lebih dari 24 jam lagi

 

 

 

kebahagiaan berdampingan dengan kesedihan

 

yang datang berebut tempat dengan yang hilang

 

 

 

aku kehilangan cara merayakan

 

aku juga tak ingin menangis karena kehilangan.

 

 

 

Keberangkatan

 

 

aku pulang, atau mungkin berangkat

 

dengan dada berlubang

 

pikiranku ikut terkubur

 

di makam belakang rumah yang masih basah

 

 

 

aku datang, atau sedang pulang

 

dengan kehilangan yang tak tertampung puisi ini

 

kosong yang belum cukup kata untuk dituliskan

 

lalu perkara-perkara lain yang membuatku

 

kehilangan cara untuk mengatakan apa pun

 

soal sawah dan sengketa, soal ladang dan tabungan

 

 

 

aku kembali atau mungkin pergi

 

dengan tangis yang terus diperam

 

air mata, aku tahu, tak selamanya bisa ditahan.

 

 

 

Mei 2022

 

Di Kaki Bukit

 aku kembali pada tebing-tebing curam

halimun petang dan embun pagi

dan malam menyelimuti kita dengan gelap

sehingga yang tersisa hanya gemintang,

lampu, kunang-kunang, dan matamu

 

peluk aku dengan hangat

di antara suara hutan dan bunyi batu memukul kali

lolongan anjing di kejauhan dan jalanan mulai lengang

suara ombak jadi panggilan sayang untuk lekas pulang

malam membuat kita tak perlu memikirkan apa-apa

biarkan aku tidur di pangkuanmu

dengan mimpi yang tak pernah mampu

kita gapai ketika jaga

ketika pagi datang

di antara halimun, kita menunggu

matahari memecahkan kabut

dan segalanya tampak hidup dan bercahaya

aku kembali, kau sudah tak ada

aku ingin dan selalu ingin

kembali dan membaringkan diri sepuas-puasnya

hingga malam dan hutan lebat menelanku bulat-bulat

peluk aku sekali lagi ibu, sekali saja

bawa masuk ke hangat masa kecil

di mana kita, dan kesepian, kawan karib

yang tak sekali pun saling meninggalkan.

 seperti pondok kita dan segala kenangan tentangnya

Kau lenyap dari pandangku,

tetapi akan kekal dalam doaku.

 

 

 

2022

 

INDRIAN KOTO

Lahir 19 Februari 1983 di Kenagarian Taratak, kampung kecil di pesisir selatan Sumatera Barat. Mengurus toko buku kecil jualbukusastra.com dan Penerbit JBS. Buku puisi pertamanya yang sudah terbit adalah Pleidoi Malin Kundang (Gambang, 2017). Sementara itu, Pusa-Pusa Orang Naik merupakan manuskrip cerpennya yang segera terbit.

Editor : dar
Reporter : jpc

Berita Terbaru