Perjalanan Mencari si Hilang, Salah Satu Variasi

  • 2022-09-07
ILUSTRASI (BUDIONO/JAWA POS)


Perjalanan Mencari si Hilang, Salah Satu Variasi

Jeka sedang mempersiapkan kebunnya untuk musim hujan,

untuk menyambut berkat ibu bumi sepanjang musim tanam,

ketika ia melihat dari arah timur empat orang –Maja,

Pulodo, Kenuhe, dan Ibu– bergegas ke arahnya.

’’Apa yang kalian cari?’’ tanya si Petani.

’’Kucari putraku, pelepah dari pohonku,

buah pertama yang terjulur dari tangkaiku,’’

jawab Ibu, dalam gulana.

’’Yang ada di sini hanya seorang penggarap

yang mengharapkan air susu ibu ditumpahkan

untuk anak-anak bumi yang sedang mendekam

dalam rahim gelap dan rahasia,’’ jawabnya

sambil menunjuk rumah kebunnya.

’’Jika kau berkenan meminjamkan lidahmu,

tenagamu, dan keberanianmu untuk perjalanan

kami, maukah kau mengikuti kami

mencari si Hilang?’’ tanya Kenuhe.

’’Betapa terhormat kudengar jawaban dari pengantara

kami dengan para leluhur. Tentulah pertanyaan itu

adalah bagian dari rencana leluhur untuk memuliakan

kaumku dan segala keturunanku nanti dan

mustahil rasanya kuabaikan kesempatan bakti

berharga ini. Izinkan aku menjadi mata bagi perjalanan

kalian. Karena pertanyaanmu berasal dari para leluhur,

aku pun kehilangan kebunku. Alam akan merawatnya.

Pada musim hujan nanti ia akan mengembalikan hidup

tumbuhan-tumbuhan yang telah kupangkas.’’

Dua gembala dan sepasang kawanan kambing

dan kerbau dilewati mereka berlima sebelum

Ibu memperoleh jawaban terbaik atas pertanyaannya

dari orang ketiga.

’’Telah kulihat seseorang begitu letih dan kering.

Dibopong tiga orang ke Raenadega. Di sana ada rumah

yang paling gelap, bahkan sinar matahari pun tak

mampu menembusnya. Di sana bayang-bayang kematian

mengancam setiap detik, di dalam gelap yang pekat.

Itu berjaga-jaga para pengikut si Penculik. Cerita ini

tentu tak akan bisa kusampaikan kepada kalian.

Jika anak seekor kerbauku tidak tersesat, dan aku

mesti mencarinya dengan berkeliling membunyikan

gong. Tepat ketika kulihat tali anak kerbauku, muncul

pula dari kejauhan tiga orang yang membopong

seorang pria yang begitu letih dan kering. Kupikir

kematian sedang mengisapnya,’’ kisah orang ketiga.

’’Pria yang pernah kaulihat itu adalah putraku. Si Penculik

mengambilnya dariku ketika malam paling gelap turun

di timur, ketika air susuku tidak bisa kugunakan untuk

menangkal mara dan maut. Dua orang sebelummu telah

kuganjar hadiah sebagai ungkapan terima kasih atas

jawaban yang mereka berikan. Terimalah imbalan

sebagai ungkapan terima kasihku atas cahaya harapan

yang telah kaubawakan,’’ balas Ibu.

Ini kisah terkenal, dan akhirnya menjadi sangat menggembirakan.

Ibu menyelamatkan si Hilang dari maut, dan membinasakan

gelap yang menaungi rumah si Penculik. Di sebuah tempat

di tenggara, akan kautemukan lebih banyak variasi,

Termasuk perhentian-perhentian yang ditempuh kelompok

tersebut setelah mereka menemukan si Hilang.

Dalam versi lain, si Hilang dikabarkan naik ke langit bersama

para pengikutnya dari puncak tertinggi pulau. Cerita

memuai dan menyusut, tetapi kita, kau dan aku, masih

perlu memutuskan, apa hadiah yang pantas diberikan

Ibu kepada orang ketiga?

 

MARIO F. LAWI

Bergiat di Komunitas Sastra Dusun Flobamora. Puisi-puisi ini adalah bagian dari manuskrip terbarunya berjudul Homo Narrans. Buku terbarunya adalah Rumah Kertas, Toko Buku dan Punica (Dusun Flobamora, 2019).

Editor : dar
Reporter : jpc

Berita Terbaru