Perihal Lukmanul Hakim dan Kisah dalam Kitab Suci

  • 2022-09-11
ILUSTRASI (BUDIONO/JAWA POS)


Sebuah nama yang terlalu berat untuk disandang manusia biasa, yang melambangkan kebajikan, yang dipenuhi hikmah, yang telah terstempel malaikat surga; itulah Lukmanul Hakim.

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika ia memberi pelajaran kepadanya, Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah, sesungguhnya itu adalah benar-benar kezaliman yang besar (QS Luqman: 13).

DEMI itu semua seorang lelaki kepala sekolah di Samalanga memberi nama putra bungsunya. Dan dari situlah kisah yang seharusnya kisah surga ini dimulai tiga puluh empat tahun lalu. Dan untuk alasan tertentu juga kisah ini ditulis melompat-lompat tidak keruan dan kamu bebas menebak, pihak mana sebenarnya yang menulis ulang kisah ini.

Dengan mata seruncing lembing, Lukmanul Hakim menatap perempuan di depannya, perempuan yang disebut istri tapi tidak layak disebut istri. Jalang pembangkang, yang menyebabkan malapetaka ini menimpanya, yang meruntuhkan dunianya.

Memang seorang teungku seperti dirinya tidak seharusnya memilih perempuan biasa. Ia seharusnya memilih seorang perempuan anak ulama atau paling tidak lulusan pesantren.

”Masak konsentrasi saja kau tak bisa?”

Bukannya menjawab, perempuan itu balas menatapnya setajam rencong, tatapan yang mengejar Lukmanul Hakim hingga ke dalam mimpi, tatapan menakutkan dari seorang perempuan yang disebut istri tapi tidak layak disebut istri.

”Kau tidak akan sembuh kalau seperti ini terus,” lanjut Lukmanul Hakim. Dua hari yang lalu, mereka mengunjungi orang pintar keenam. Dan seperti dalam kunjungan-kunjungan sebelumnya, perempuan itu tidak bereaksi apa-apa saat orang pintar membaca mantra sambil meletakkan kedua tapak tangan di punggungnya.

Sungguh tak termaafkan, perempuan itu dengan isi kepala kurang ajarnya pasti tidak meyakini metode orang pintar. Sesuatu yang tidak diyakini sepenuh hati pasti tidak akan menyembuhkan. Berbeda dengan reaksi Lukmanul Hakim ketika orang pintar yang sama meletakkan kedua tapak tangan di punggungnya.

Ia menjadi seringan kapas dan seperti melayang di udara, sebuah kekuatan seperti membimbingnya untuk meletakkan kedua tangan di depan dada, kemudian seluruh tubuhnya bergetar dan ia mulai melihat dengan kedua matanya sendiri siapa sebenarnya yang telah menaruh kesialan ini pada dirinya. Wajah tirus dengan garis-garis usia tua itu, sebuah kacamata bertengger di atas hidungnya, yang begitu akrab, yang sering disebut orang pintar sebelumnya, tak salah lagi itu memang wajah Miwa, adik bapaknya.

Miwa yang telah mendatangi dukun hitam, mengirimkan pelet tali nyawa ke Lukmanul Hakim dan seperti inilah nasibnya sekarang, senjata pemungkasnya tak berdaya menghadapi perempuan yang saat ini mematung di depannya. Ia telah dikhianati dua perempuan: adik bapaknya dan perempuan yang disebut istri.

”Kau tidak punya mulut untuk menjawab?” Lukmanul Hakim mendekati perempuan yang duduk di atas tempat tidur itu.

 

”Bodoh!” ujar perempuan itu seperti berguman pada dirinya sendiri, lalu bangkit dari tempat tidur. Telinga sensitif Lukmanul Hakim masih bisa menangkap suara perempuan itu, membuat darahnya yang sudah di ubun-ubun tersembur keluar tak terbendung.

Ia menarik perempuan itu sekuat tenaga sampai terbanting ke tempat tidur. Ia ikut naik ke atas tempat tidur dan menduduki perempuan itu. Berat tubuh Lukmanul Hakim mengimpit segala daya upaya perempuan yang disebut istrinya itu. Lalu kedua tangan Lukmanul Hakim mulai mencekik leher perempuan itu, ”Malam ini, aku akan membunuhmu!”

 

***

Masih demi meneladani kitab suci, setelah anaknya lulus SD, seorang bapak mengantar si anak ke Bustanul Ilmu, pesantren terbaik di Samalanga. Tanpa ia sadari, tepat saat itu kisah yang seharusnya kisah surga ini berubah menjadi sesuatu yang lain.

Anak laki-laki dua belas tahun itu tinggal di sebuah barak bersama dua puluh anak lainnya. Di antara dua puluh anak itu diselipkan empat anak kelas senior untuk menjaga anak-anak yang baru masuk di tingkat satu. Mereka semua tidur di ranjang bersusun.

Demi kenyamanan dan sopan santun, anak kelas senior tidur di ranjang atas. Ada sepuluh ranjang bertingkat di ruang itu, dengan lemari baju ukuran lebar 40 cm dan tinggi 150 cm diletakkan berjejer di dekat dinding. Pada hari-hari pertama, anak lelaki dua belas tahun itu masih sibuk beradaptasi dengan peraturan pesantren. Bangun pagi pukul empat, dilanjutkan dengan antre untuk mandi, naik ke musala, membaca kitab suci, mendengar tausiah, salat Subuh berjamaah, bersiap ke kelas sekolah umum yang berada di dalam kompleks pesantren, salat Duhur berjamaah, makan siang, dilanjutkan dengan belajar kitab kuning sampai azan Asar berkumandang. Setelah magrib mereka melanjutkan mempelajari kitab kuning dan kitab lainnya atau memberikan setoran hafalan ayat Quran.

Bukan hanya jadwal yang padat, hukuman dan sanksi juga mengiringi, dipukuli di depan musala bila melanggar jam bahasa. Di antara santri ada yang bertugas sebagai penjaga bahasa. Jika ada yang melanggar jam bahasa, mereka akan melaporkan ke majelis bahasa.

Setiap hari selama dua puluh empat jam, tiga jam wajib berbahasa Arab, yaitu pukul 15.00–17.00, 3 jam selanjutnya wajib berbahasa Inggris dengan tulisan tebal di bawahnya, jam bahasa berlaku di luar kelas. Barang siapa yang melanggar akan dibariskan di depan musala dan dipukuli oleh ketua majelis bahasa dengan menggunakan penggaris kayu. Mengingat itu saja sudah cukup menyakitkan.

Bila kedapatan ada yang menyimpan surat cinta di dalam tasnya, jika laki-laki akan direndam di kolam ikan yang terletak di belakang ruang makan, jika perempuan tetap dipukuli dengan penggaris kayu. Jika melanggar jadwal yang telah ditetapkan tanpa alasan yang jelas, juga akan dipukuli dengan penggaris kayu. Jika tak bisa menyetor hafalan ayat Quran sesuai ketentuan juga akan dipukuli.

 

Dipukuli dengan penggaris kayu bukan hal yang asing bagi anak laki-laki dua belas tahun itu. Bapaknya di rumah menyimpan rotan sebesar telunjuk orang dewasa untuk memukuli anaknya yang tidak patuh.

Kalau telat pulang sekolah karena mencari buah teumeureu yang tumbuh di pinggir sungai bersama teman-temannya, sudah pasti sesampai di rumah punggungnya jadi sasaran rotan bapak. Kalau kesalahannya dirasa terlalu berat, bapak tak segan melayangkan lima jarinya ke pipi anak laki-laki dua belas tahun itu saat ia belum berumur dua belas tahun.

Memang ada hal-hal yang sangat dibenci anak laki-laki dua belas tahun itu dari bapaknya, tapi bapak tetaplah bapak. Bapak memukulnya di rumah, tak pernah dilihat teman-temannya, tapi di sini anak-anak yang bersalah dipukuli di depan umum disaksikan seisi pesantren. Itu sangat memalukan.

 

Karena kerap begadang untuk menghafal ayat dan kosakata baru dalam bahasa Arab atau Inggris, siang itu, bukannya ke kelas kitab kuning, anak laki-laki dua belas tahun itu malah meringkuk tidur di kamarnya. Tiga santri senior tiba-tiba masuk, mendapati salah satu santri tingkat satu sedang di dalam barak, mereka langsung memegang kedua tangan santri itu.

Satu orang menyumpal mulut anak laki-laki dua belas tahun itu dengan kaus kaki. Tidak diketahui siapa sebenarnya pemilik kaus kaki itu. Tidak jelas, anak laki-laki berumur dua belas tahun itu terbangun duluan kemudian terkejut, atau terkejut kemudian terbangun di siang yang tak pernah ia lupakan seumur hidupnya itu.

Mereka mencampakkannya ke lantai barak, membalikkan tubuh anak laki-laki dua belas tahun itu menghadap lantai yang dingin. Salah satu dari mereka menarik sarung, celana pendek, dan kemudian celana dalam santri tingkat satu itu. Dalam sekejab neraka masuk ke asrama pesantren, neraka yang kemudian mengiringi langkah kaki Lukmanul Hakim. Neraka yang masih menjadi neraka meski di dalamnya dilantunkan ayat suci. Anak laki-laki dua belas tahun itu merasakan nyeri yang tak pernah sembuh lagi. Ia tidak punya keberanian untuk melaporkan hal itu pada ustad atau bapaknya di rumah. Jika melanggar jam bahasa saja dipukul dengan penggaris, konon lagi jika ketahuan melakukan hal menjijikkan yang merupakan dosa besar.

Ada kejadian pertama tentu ada kejadian berikutnya, ketiga santri senior tidak melepaskan anak laki-laki umur dua belas tahun itu begitu saja. Alasannya, itu hukuman karena tidak ikut kelas kitab kuning. Sesuatu yang mulanya terasa nyeri perlahan mulai membangkitkan sesuatu dalam diri anak lelaki itu, sesuatu yang membuatnya candu. Ia tak bisa mendefinisikan apa itu dan kapan tepatnya mulai terjadi.

Anak laki-laki yang semula korban itu tidak pernah penasaran lagi pada santri perempuan, meski ia selalu bermimpi membunuh tiga santri senior yang mendatangkan neraka itu kepadanya. Salah seorang dari ketiga santri itu di kemudian hari menjadi teman sejawatnya di kantor Kemenag dan itu sungguh tak mudah bagi Lukmanul Hakim. Demi memuaskan area tertentu dari tubuhnya yang berharga, Lukmanul Hakim rutin mengunjungi seorang tukang pijat laki-laki, yang demi uang atau apa pun itu bersedia memuaskan bagian tertentu dari tubuh Lukmanul Hakim.

Ia begitu tergantung dengan tukang pijat laki-laki itu, kemudian ia juga mulai melirik seorang pemuda kekar, pegawai baru di kantornya. Yang paling menyebalkan, dunia tidak menerima hubungan seperti hubungan yang ingin dibina Lukmanul Hakim dengan si pegawai baru. Untuk menutupi segalanya, ia harus melakukan sesuatu yang tidak disukainya: menikahi seorang perempuan.

 

***

Delapan hari sebelum ke rumah orang pintar keenam, Lukmanul Hakim sedang menonton TV di kamarnya, Naruto sedang berjibaku melawan monster bertanduk dengan rambut panjang putih dan pakaian putih, Kaguya, musuh yang tak mudah dihadapi. Sosok itu sangat kuat. Naruto Uzumaki dan Sakura Haruno terlihat kewalahan membendungnya. Perempuan yang disebutnya istri sedang meletakkan baju yang sudah disetrika ke dalam lemari pakaian.

”Bang, kapan konsul ke dokter?”

”Apa?”

Perempuan yang disebut istri menghentikan kegiatannya, lalu menghadap ke arah Lukmanul Hakim yang duduk di kaki tempat tidur, ”Kupikir Bang Lukman harus ke dokter.”

”Yang sakit itu kau, bukan aku. Apa tidak kaudengar apa kata orang pintar? Mereka semua bilang yang bermasalah itu kau, bukan aku.” Suara Lukmanul Hakim meninggi. Perempuan yang disebut istri menghela napas. ”Sampai kapan, Bang? Sampai kapan mau begini terus?” Perempuan yang disebut istri mendekati Lukmanul Hakim.

Perempuan itu harus mematuhi suami. Suami ibarat wakil Tuhan di bumi, seperti dalam kitab suci, Aiyub memukuli istrinya yang tidak patuh, Aiyub melaksanakan perintah Tuhan. Lukmanul Hakim bangkit, ia teungku yang dihormati kawulanya.

”Kamu juga harus ke dokter, Bang. Kesabaranku….”

Sebuah tamparan mendarat di pipi perempuan itu, Dan, ambillah dengan tanganmu seikat (rumput) lalu pukullah dengan itu dan jangan melanggar sumpah (QS Shad: 44). Lukmanul Hakim hafal lebih dari separo kitab suci. Lalu ditinjunya perempuan itu dengan tangan kanannya. Perempuan yang sudah menangis itu jatuh tersungkur ke atas tempat tidur.

Di layar televisi, Sasuke sedang berusaha menemukan Naruto dan Sakura untuk membantu melawan Kaguya. Makhluk bertanda merah di keningnya itu sangat perkasa.

 

***

Tanggal 12 Jumadilakhir 1447 H, sesosok mayat yang mirip Lukmanul Hakim ditemukan 115 meter dari pondok pemancingan kuala, di antara pohon-pohon bakau yang tumbuh bergerombol. Dugaan sementara, dari luka yang menganga di belakang kepalanya, ia dipukul cukup keras dengan benda tumpul.

Belum diketahui siapa pelakunya, bahkan polisi belum memiliki tersangka penyebab kematian lelaki yang dikenal masyarakat sebagai sosok alim yang lemah lembut itu. Satu-satunya kesalahan yang dibuatnya hanya dalam memilih istri. Bertahun lalu ia digugat cerai oleh istrinya.

Beredar berbagai kabar terkait peristiwa itu. Istrinya berselingkuh dengan seorang dokter, istrinya berselingkuh dengan seorang pejabat, Lukmanul Hakim berselingkuh dengan mantan pacarnya, bahkan yang paling ekstrem, zakar Lukmanul Hakim tidak berfungsi.

 

Terlepas dari itu semua Lukmanul Hakim tetap seorang alim yang dihormati masyarakat, siapa yang tega membunuh lelaki sebaik itu? Namanya bahkan tertera dalam kitab suci. Atau ia seharusnya tidak dinamai Lukmanul Hakim? Sebuah nama yang membuat Tuhan iri. Luqmanul Hakim dalam kitab suci itu seorang bapak bukan seorang anak, dan kita tak bisa menamai bapak kita. (*)

IDA FITRI, Lahir di Bireuen pada 25 Agustus. Kumcer pertamanya berjudul Air Mata Shakespeare (2016). Kumcer keduanya Cemong (2017).

Editor : dar
Reporter : jpc

Berita Terbaru