Kerikil Ajaib

  • 2022-09-18
Oleh ARAFAT NUR


Lantaran sangat geram, sehabis menerima telepon dari pacarnya, Marno yang lagi di jalan langsung menyepak sebongkah kerikil di depannya dengan sangat kuat.

Tanpa terduga, kerikil di badan jalan itu melesat tajam menghantam tengkorak belakang lelaki yang tidak jauh darinya dengan bunyi nyaring; kletak!

LELAKI itu tersentak sekaligus menjerit, lalu mengaduh kesakitan. Dia segera membalikkan badan. Menatap Marno dengan wajah tegang tak percaya disertai kemarahan menggelegak.

”Kau?” ucap Bajra tidak percaya, ”berani melemparku?”

Mendadak Marno terkesiap, tak percaya kalau batu kecil itu melayang begitu kuat dan bisa secara kebetulan mengenai kepala orang. Lagi pula sepatu kulit yang dipakai Marno untuk menemui pacarnya adalah sepatu kulit palsu murahan, tetapi memiliki sol yang keras.

Perasaan geram Marno terhadap pacarnya yang menolak untuk ditemui itu mendadak hilang, berganti ketakutan dan penyesalan. Dia sangat menyesal telah menyepak kerikil yang tergeletak di badan jalan aspal itu yang melayang kencang menghantam tengkorak belakang Bajra.

Bajra bukanlah orang biasa. Lelaki bertubuh besar dan gagah itu adalah seorang dukun berilmu hitam. Tidak ada sedikit pun ilmu putih padanya. Penduduk sangat menakutinya, terlebih Marno. Tidak ada yang berani melawannya. Orang-orang yang berani menentangnya akan mati, atau setidaknya muntah darah.

Tidak ada yang bisa menyentuh Bajra, bahkan hukum negara pun tidak berdaya. Polisi tidak punya alasan menangkapnya. Untuk meringkusnya polisi harus memiliki bukti kejahatan yang dilakukan Bajra. Namun, dalam dunia perdukunan, apa pun yang dimiliki Bajra tidak bisa dijadikan bukti kejahatan. Jadi, lelaki itu bebas berkeliaran dan melakukan tindakan apa saja tanpa perlu takut kepada siapa pun.

Namun, yang membuat Marno tidak habis pikir, kenapa tiba-tiba dukun itu ada di sana, tidak jauh di depannya saat dia menendang kerikil di jalan itu? Sebelumnya jalan itu memang kosong.

Jalan aspal itu jarang dilalui kendaraan. Marno sering menelepon pacarnya di sana karena sinyal teleponnya lebih bagus. Dan belum pernah sekali pun di situ dia berjumpa Bajra. Kali ini, secara kebetulan pula, dia sudah seperti sengaja mencari gara-gara dengan orang yang paling ditakuti di kampungnya.

”Beraninya kau melemparku,” tuding Bajra geram penuh kemarahan.

Mendadak wajah Marno pucat. Mulutnya tergagap, ”Bukan aku, Pak.”

”Lalu siapa?” tanya Bajra sambil menebarkan pandangannya. Tidak ada seorang pun di jalan situ. Bajra mengerang dengan wajah keras dan mata membelalak, ”Beraninya kau, bocah ingusan. Beraninya kau melemparku dengan batu!”

”Ampun, Pak. Ampuni aku. Aku tidak melemparmu,” Marno memohon.

 

”Sompret!” sembur Bajra geram dengan wajah semakin tegang dan amarah menggelegak. Tubuhnya gemetaran karena marah dan juga kesakitan. Sambil memegangi belakang kepalanya, dia menghampiri Marno dengan salah satu tangan mengepal kuat. Dia mengerang, ”Akan kubunuh kau, anak sundal. Anak perek kurang ajar!”

Dalam jarak sekitar sepuluh langkah, tiba-tiba Bajra mencabut keris dari balik pinggang belakangnya. Menyadari hal itu, bila masih tetap berdiri di tempat, Marno akan mati. Ketimbang mati, lebih baik aku lari, batin Marno langsung balik badan dan kabur sekencangnya.

***

Marno tiba di kota kecamatan sejam kemudian. Seumur hidupnya belum pernah dia berlari sejauh dan secepat itu dengan durasi yang hampir tanpa henti. Tenaganya terkuras habis dengan napas hampir putus dan mulut sangat kering. Dan seumur hidupnya, dia belum pernah mengalami ketakutan yang sedemikian hebat, yang sekarang membuat tubuhnya lemas terduduk. Jangankan untuk berjalan, bangkit saja tiba-tiba dia tidak mampu lagi.

Tubuh Marno tergeletak di bawah sebatang mangga di halaman masjid kecil. Dia coba mengangkat tangannya untuk mengusap keringat. Aneh, tangannya tidak bisa digerakkan. Jangan-jangan dukun itu sudah menyantetku, pikirnya ngeri. Seandainya dukun itu tiba sekarang atau sebentar lagi, tentu dia bisa langsung membunuh Marno tanpa sedikit pun perlawanan.

Dalam kengerian yang membuat keringatnya terus bercucuran, Marno hanya bisa pasrah. Kalau memang aku mati hari ini, ya matilah. Mungkin lebih baik aku mati hari ini. Dia coba menutup matanya. Dan mata itu tertutup tanpa terbuka lagi.

Saat Marno tidak sadarkan diri, ada dua lelaki datang ke masjid untuk salat Asar. Kedua lelaki itu hanya menatap sekilas tubuh Marno yang tergeletak di bangku kayu tempat orang biasa berteduh, seperti melihat orang tidur biasa dan tidak punya keinginan untuk membangunkannya, apalagi mengusiknya.

Marno terjaga ketika hari sudah gelap, dan kebetulan tidak ada seorang pun yang datang salat Magrib. Masjid itu dalam keadaan gelap karena tidak ada yang menyalakan lampunya. Sedangkan nyala lampu-lampu yang ada di teras bangunan lain tidak sampai ke situ, dan lampu jalan di sekitar situ sudah lama rusak dan tidak pernah digantikan baru.

Apakah sekarang aku sudah berada di alam kubur? batin Marno begitu dia sadar dan mengingat kejadian siang tadi. Dia memandangi sekeliling seraya menggerakkan tangan. Tangannya terangkat perlahan. Dirasakan sekujur tubuhnya sakit dan pegal-pegal. Dia meraba dadanya.

Ini nyata, pikirnya ragu-ragu.

Dia coba bangkit duduk dengan susah payah. Oh, aku masih hidup, dengusnya. Sekarang dia yakin dirinya masih hidup. Karena masih hidup, masalah yang dihadapinya masih berlanjut. Masalah besar dan panjang. Mungkin tidak lama lagi nyawanya melayang. Jika tidak langsung ditancap keris Bajra, tentu jampi-jampi dukun itu yang akan membuatnya mati secara perlahan-lahan.

 

***

Setiap tahun di Desa Ketro selalu saja ada penduduk meninggal secara tidak wajar. Mukhsin, seorang pendatang yang menjadi tetangga Bajra, yang kehidupannya lebih baik dibandingkan penduduk umumnya tiba-tiba jatuh sakit. Sakit yang sulit dideteksi, bahkan oleh dokter spesialis. Berkali-kali Mukhsin masuk rumah sakit, tetapi tidak seorang dokter pun paham apa penyakitnya.

Semua dokter spesialis di bidang masing-masing, terutama dokter spesialis penyakit dalam yang sering menanganinya, berkesimpulan bahwa Mukhsin tidak bisa bangkit dari tidurnya karena kelelahan. Sang dokter menganjurkan jalan keluar yang bijak; yang perlu dilakukan Mukhsin hanyalah beristirahat sebanyak-banyaknya. Sebaiknya, kalaupun terjaga dan bergerak, tidak melakukan pekerjaan berat apa pun. Dia diminta untuk tidak bekerja.

Yang mengherankan kenapa Mukhsin bisa kelelahan, padahal dia tidak pernah bekerja berat? Sebagai guru olahraga SD Ketro tidak banyak yang bisa dilakukannya. Dia hanya mengajarkan teori di kelas, selebihnya menggiring dan mengawasi anak-anak yang main sepak bola di lapangan desa. Dia sudah tidak lari-lari pagi lagi ketika tubuhnya mulai cepat lelah. Bahkan di rumah, semua pekerjaan dilakukan istrinya. Dia lebih banyak tidur. Lalu kenapa bisa lelah?

Anehnya ketika jatuh sakit, di usianya yang hampir empat puluhan, Mukhsin tumbuh gigi baru di tempat gigi gerahamnya yang tanggal. Sungguh tidak masuk akal. Dan tak lama kemudian, dia meninggal dunia karena sesak napas. Ketika dokter memeriksa penyebab kematiannya, lagi-lagi dokter berkesimpulan Mukhsin meninggal akibat terlalu kelelahan. Padahal sebulan terakhir sebelum meninggal, Mukhsin mengambil cuti panjang dari mengajar dan kerjanya hanya tiduran.

Kasus semacam itu selalu saja menimpa seseorang setiap tahun, terutama orang-orang yang bersinggungan dengan Bajra. Memang tidak sama persis, tetapi gejala-gejala sangat serupa seperti yang dialami Mukhsin. Mereka semua jatuh sakit seperti tanpa sebab. Badan lesu, lelah, tidak bergairah, sesak napas, lalu mati. Ada yang muntah darah dulu. Ada yang kakinya luka tidak bisa sembuh, lalu mati. Ada yang tiba-tiba pusing langsung mati setelah tidak berapa lama bertengkar mulut dengan Bajra.

Pokoknya, kalau ada orang yang tidak disukai atau bermusuhan dengan Bajra, semuanya berakhir dengan kematian; kematian yang aneh, kematian yang tidak wajar. Sedangkan mereka yang tidak berurusan dengan Bajra semuanya meninggal secara wajar. Ada sebab dan tidak terlalu tiba-tiba. Kalaupun ada yang tiba-tiba, itu karena jantungan atau kendaraan yang ditumpanginya terjun ke jurang.

Nah, sekarang bisa ditebak kalau Marno segera meninggal. Tak lama lagi dia akan mati!

 

***

 

Marno merasakan kalau jampi-jampi Bajra sudah mengenainya. Tubuhnya sangat kelelahan dan berkali-kali dia mengalami sesak napas. Kadang dia harus menghentikan langkahnya agar bisa menghirup udara. Dadanya terasa perih dan sakit seperti dihunjami puluhan jarum.

Dia merasa bahwa dirinya akan mati malam ini. Sebelum mati, dia ingin mencari tempat mati yang tenang. Setidaknya bukan di jalan. Jadi dia bersusah payah menelusuri jalan ke rumah Suroso, teman sekolahnya yang tidak jauh dari situ. Dulu dia sering menginap di rumah Suroso untuk membuat pekerjaan rumah bersama, tetapi lebih sering mengobrol sampai subuh soal pacar masing-masing.

Begitu tiba, Marno membuka sepatunya, menerobos kamar Suroso dan langsung merebahkan tubuhnya di ranjang, menarik selimut kumal hingga menutupi wajahnya.

”Aku demam,” ucap Marno lemah. ”Mungkin aku akan mati malam ini….”

Suroso agak geli melihat kelakuan Marno yang konyol, seperti tingkah yang dibuat-buat. Suroso yang tidak bergerak di kursi kayunya hanya tersenyum simpul menatap tubuh Marno yang hilang di balik selimut tebalnya.

”Kau kenapa, Marno? Apa baru diputusi Mira?”

Karena sulit menjawab, Marno mengangguk malas, terlihat dari permukaan kain selimut yang menutup wajahnya yang bergerak perlahan.

”Aku punya kabar baik,” kata Suroso beberapa lama kemudian ketika dilihatnya Marno diam saja. Dia tidak yakin Marno tertidur. Namun, Marno tidak menanggapi.

”Ini tentang Bajra….”

Tiba-tiba saja kedua tangan Marno mengempas selimut yang menutupi wajahnya. Dia menunggu Suroso melanjutkan.

Lantaran Suroso diam saja, Marno bertanya, ”Kenapa?”

”Kau belum tahu?”

Marno menggeleng.

”Aku baru saja dari rumahnya. Sial betul dukun santet itu. Pasti ada seseorang yang mengetapelnya sangat kuat. Kerikil itu menghantam tengkorak belakangnya sampai pecah. Batu bersarang di otaknya. Tentu dia tahu siapa yang telah membunuhnya.”

Dada Marno berdegup kencang. Jantungnya seperti tiba-tiba lepas, ”Kenapa bisa?”

”Sebab, ketika ditemukan mayatnya tergeletak di pinggir jalan, tangan Bajra masih menggenggam keris.”

”Dia mati?” tanya Marno tidak percaya.

”Ya, matilah. Masak kau tidak tahu?”

”Mati beneran?” tanya Marno lagi kurang yakin.

”Iya, mati. Batu kerikil itu memecah tengkorak belakangnya dan tersangkut di dalam. Mungkin otaknya hancur.”

”Kok bisa?” tanya Marno sulit percaya.

 

”Mana aku tahu,” jawab Suroso dengan nada tinggi. ”Tadi sore aku baru dari rumahnya. Ramai sekali orang yang datang. Kulihat mayat Bajra tergeletak dengan begitu menyedihkan.”

Tiba-tiba, tanpa tertahan, Marno tergelak sendiri. Penyakit sesaknya mendadak hilang. Dia tampak begitu sehat dan kembali bersemangat yang membuat Suroso sangat terheran-heran. (*)

Ponorogo, 27 Juli 2022

*) ARAFAT NUR, Pengajar di STKIP PGRI Ponorogo. Novel terbarunya, Dunia Kecil yang Riuh (Diva Press, 2021), menjadi pemenang kedua Sayembara Novel Diva Press 2021.

Editor : dar
Reporter : jpc

Berita Terbaru