Wahana Hantu Pasar Malam Sekuel Pengabdi Setan

  • 2022-09-18
ILUSTRASI (BUDIONO/JAWA POS)


Demi keberlanjutan alur Pengabdi Setan (2017), keluarga Suwono dibuat berpindah dari rumah tua Belanda ke rumah susun suram yang jauh dari permukiman. Berbagai jump scare, teror visual, dan teka-teki diletakkan di sejumlah sudut bangunan ini. Menjadikannya semacam wahana hantu pasar malam berisi sekian kode sinematik yang tak berarti banyak selain gimik untuk menjajakan lebih banyak tiket agar khalayak berbondong-bondong masuk ke dalam universe filmografi Joko Anwar.

PENEMPATAN karakter ke dalam lokasi, bangunan, atau daerah yang terisolasi adalah landasan plot yang efektif bagi banyak film horor. Pertolongan sulit datang, kau hanya bisa mengandalkan satu sama lain –atau bahkan dirimu sendiri, dan tipis kemungkinanmu untuk bisa kabur dari bahaya yang mendekat.

Joko Anwar banyak memakai formula ini untuk membangun latar Communion (2022). Pertama, sebagai elemen naratif untuk melanjutkan kisah Pengabdi Setan. Kedua, sebagai lakon untuk menggariskan laku gerak keluarga Suwono –selaku protagonis utama cerita. Dan ketiga, sebagai fondasi untuk mengeksploitasi respons fisiologis penonton secara spasial. Joko mengikat ketiganya ke dalam tempat keluarga Suwono tinggal: sebuah gedung 15 lantai yang berdiri di pesisir pantai.

Taktik Joko mengisolasi para karakternya terbilang cukup sederhana. Ia mendatangkan badai dahsyat pada malam kultus penyembah setan melangsungkan ritual mereka.

Penonton sejatinya tak perlu ambil pusing soal apakah badai dan ritual punya hubungan sebab akibat. Apalagi mempertanyakan alasan kenapa rusun yang dihuni keluarga Suwono tersebut sekonyong-konyong merupakan markas dari kultus sama tempat Ibu (Ayu Laksmi) menjual jiwanya kepada setan di film pertama.

Karena yang terpenting dari premis ini adalah badai membuat air cepat naik dan merusak sirkuit listrik gedung. Sehingga film jadi punya dalih untuk memepatkan plot ke dalam ruang dan atmosfer yang mencekam sembari melunasi tagline dagang ”teror Ibu sepanjang masa”.

Horor Spasial dan Teka-teki yang Mengada-ada

Pengisolasian warga rusun adalah satu-satunya cara agar kita bisa memasuki –dan menikmati– dunia fantasi yang sedang dibangun Joko.

Pintu wahana Communion dibuka saat lift rusun ambruk dan terempas hingga menewaskan puluhan warga. Setelahnya, nalarmu akan ditangguhkan lewat serangkaian pemandangan mengerikan. Sebab, alih-alih menghadirkan tim SAR maupun aparat untuk segera menginspeksi kejadian nahas tersebut, atau misalnya kerumunan warga yang asyik menonton kecelakaan, kamera malah fokus pada jasad-jasad rusak yang sudah terbungkus kain kafan, gema tangis dan tahlilan, hingga rusun yang tetiba jadi sunyi senyap.

Beberapa kali penonton diberi aba-aba bahwa berbagai pertunjukan ini merupakan kresendo yang akan mengantarkan mereka ke pusat kengerian Communion, yaitu komuni itu sendiri. Dari sini, penonton hanya perlu patuh pada laku gerak keluarga Suwono dalam memecahkan teka-teki serta sumber dari teror Ibu yang masih berlanjut.

Rini (Tara Basro) bertugas untuk membongkar isi koper Bapak (Bront Palarae) yang rahasianya dijaga rapat-rapat sepanjang paro awal film. Tony (Endy Arfian) bertugas untuk memperkenalkan –serta menghubungkan– beberapa pemeranan dan trauma warga rusun yang lain. Sedangkan Bondi (Nasar Anuz) bertugas untuk menyingkap riwayat gedung milik sekte sesat yang entah kenapa bisa mereka huni ini.

Mudah saja bagi Joko memproyeksikan teror kepada penonton di sepanjang perjalanan tiap lakon para karakternya –utamanya lewat set dan logika cerita yang sudah ia bangun sedemikian rupa– dalam tempat di mana mereka hanya bisa pasrah pada opsi selain mati tersengat listrik atau jadi bulan-bulanan setan.

Penonton tidak pernah benar-benar diberi waktu untuk memahami –apalagi menghubungkan– sekian titik-titik maupun kode visual yang tergeletak secara acak selama keluarga Suwono memecahkan misteri. Teror tanpa jeda sulit memungkinkannya.

Kita dibombardir oleh segala respons tubuh yang muncul dari tiap teror visual yang disajikan. Mulai disorientasi karena pencahayaan yang sangat minim, pening dari kelap-kelip flashlight laiknya strobo polisi, mual dari shaky cam saat para karakter berlarian menyelamatkan diri, hingga rinding dari ketakutan terhadap tinggi.

Selain itu, Joko bereksperimen dengan horor tubuh. Sebut saja hantu gosong mendiang ayah Wisnu (Muzakki Ramadhan) yang ujug-ujug muncul tanpa diundang atau pocong hamil yang mengorek trauma aborsi Tari (Ratu Felisha).

Kita disibukkan dengan banyak jump scare dan teror visual agar Joko punya alasan masuk akal untuk mengajakmu membeli tiket masuk ke wahananya lagi, terutama sebagai dalih agar kita dapat memahami sekian referensi yang ia pakai sepanjang film.

Sebut saja metode dan alat hukuman Eropa abad pertengahan, Konferensi Asia-Afrika, penembakan misterius tahun ’80-an, kutipan ayat Alkitab, permainan angka yang merujuk ke film terdahulu Joko, dan lain-lain.

Draf tulisan yang tidak boleh melampaui 800 kata ini tidak akan cukup untuk menjelaskan semuanya. Bahkan lucunya, Joko sendiri pun masih butuh thread Twitter untuk menerangkan beberapa kode sinematik tadi.

Ia bisa saja menyerahkan interpretasi liar kepada penonton tanpa perlu memandu kita untuk mengartikan kode satu dengan kode lain di antara sekian materi yang dipakai –selayaknya sutradara normal lain. Tapi, bukan itu persoalannya.

Ini adalah soal hasrat Joko mengentaskan keterhubungan dalam universe filmografinya –mulai Kala (2007) sampai Modus Anomali (2012), serta taktik dagang agar franchise-franchise lain dapat lebih mudah diciptakan ataupun disebarluaskan.

Dan dari sinilah kau akan tahu bahwa sebenarnya kau tak butuh backstory yang mumpuni untuk bisa menikmati wahana Communion. (*)

DWIKI APRINALDI, Penulis dan kritikus film

Editor : dar
Reporter : jpc

Berita Terbaru