Membaca Murakami Menulis Lelaki Kesepian

  • 2022-09-18
COVER BUKU


Murakami yang laki-laki sama sekali tidak kemeruh ketika membicarakan tokoh perempuan. Ia paham bahwa ada titik buta ketika berhenti pada ihwal ”membaca” perempuan atau orang lain secara lebih luas. Dia hanya menulis apa saja yang dilihat, dirasakan para tokoh laki-laki.

BARANGKALI saya tidak akan pernah genap membaca tulisan Haruki Murakami. Sebab, menangkap kebenaran, khususnya pada diri orang lain, sama halnya dengan menangkap bintang-bintang pada berkas cahaya, akan selalu lepas.

Murakami, dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga pelaku sampingan, terasa seperti bicara dengan cermin. Ia laiknya sedang membaca komedo dan bekas jerawat ia sendiri dalam kumcer terjemahan Lelaki-Lelaki tanpa Perempuan.

Kino, misalnya, pemilik bar di ujung gang kecil, apakah sedang bicara soal Murakami sendiri yang suka menyendiri dan pernah memiliki bar bersama istrinya? Pada saat Murakami menyelipkan judul-judul lagu, juga kaset lawas, menjadikan tulisannya terasa dekat dengan masa lampaunya yang pernah bekerja di toko kaset.

Samsa yang Jatuh Cinta menjadi satu-satunya cerpen yang tidak menggambarkan perselingkuhan meskipun Samsa juga pria kesepian. Tapi, bukankah Gregor Samsa adalah nama tokoh ciptaan Kafka? Sedang Kafka merupakan salah satu penulis yang hadir dalam proses tumbuh seorang Murakami.

Cara Murakami dalam menggambarkan unikorn-unikorn (lelaki kesepian) berhenti kemeruh (sok tahu) terhadap ”yang bukan dirinya” dengan legawa, menerima, menangis, gila, dan sebagainya membuat saya membaca itu sebagai praktik subjektivitas.

Ia sebagai laki-laki tidak sembrono menuliskan hal-hal yang jauh dari dirinya. Ini bukan berarti Murakami sedang curhat atau membicarakan dirinya, tetapi ia seperti sedang membicarakan sesuatu lewat dirinya.

Murakami yang laki-laki sama sekali tidak kemeruh ketika membicarakan tokoh perempuan. Ia paham bahwa ada titik buta ketika berhenti pada ihwal ”membaca” perempuan atau orang lain secara lebih luas. Dia hanya menulis apa saja yang dilihat, dirasakan para tokoh laki-laki.

Murakami sama sekali tidak mendeskripsikan bagaimana pendapat tokoh perempuan atau perasaan yang barangkali mereka rasakan. Dia hanya menggambarkan gerak-gerik, apa saja yang dilakukan tokoh perempuan, intinya segala hal yang bisa dilihat dengan mata.

Hal-hal yang sembunyi, disembunyikan dalam dada dan diri tokoh perempuan, sama sekali tidak diceritakan. Hal ini menarik sebab bukankah seharusnya begitu cara penulis laki-laki menulis tentang perempuan?

Soal titik buta, Murakami mengungkapkan anggapannya dengan gamblang pada cerpen pertama berjudul Drive My Car: ”Bukankah mustahil bagi kita untuk bisa mengerti sepenuhnya apa yang dipikirkan oleh kaum perempuan? Begitulah maksudku. Siapa pun wanita itu. Karena itu, kurasa titik buta itu tidak hanya dialami oleh Pak Kafuku secara khusus atau semacamnya. Andai itu memang titik buta, bisa dikatakan kita semua hidup dengan memikul titik buta yang serupa…” (halaman 35)

Jika benar ia sedang mempraktikkan subjektivitas, penggunaan sudut pandang orang ketiga justru membuatnya sedikit kontradiktif. Terlepas dari itu semua, tujuh cerpen yang keenamnya berkeluh perihal menjadi yang bukan pertama, Murakami secara terperinci menuliskan apa saja; motif kain, warna, rentetan kejadian, raut wajah, gerak tubuh, juga getar dada pada tokoh. Ini letak kelebihan Murakami.

Satu hal lain, Ryusuke Hamaguchi, sutradara asal Jepang, membuat film dengan judul Drive My Car tahun lalu yang berangkat dari kumcer ini. Film tersebut tak hanya merebut hati penontonnya, termasuk saya, tapi juga memenangkan beberapa penghargaan di berbagai festival film, salah satunya Festival Film Cannes 2021. (*)

 

 

JUDUL: Lelaki-Lelaki tanpa Perempuan

PENULIS: Haruki Murakami

PENERJEMAH: Ribeka Ota

PENERBIT: Kepustakaan Populer Gramedia

CETAKAN: Kedua, Juni 2022

TEBAL: v + 262 halaman

ISBN: 978-602-481-766-4

*) TINGKAR AYU, Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Negeri Semarang

Editor : dar
Reporter :

Berita Terbaru