Harga Jual Murah, Perekonomian Petani Karet Terpuruk

  • 2022-09-22
Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Kotim Hj.Darmawati (kedua dari kanan) saat mengikuti rapat paripurna belum lama ini. (BAHRI/KALTENGPOS)


SAMPIT, PROKALTENG.CO- Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Hj.Darmawati meminta pemerintah daerah untuk lebih memperhatikan nasib petani karet, karena harga jualnya kembali sangat murah, dan mereka juga kesulitan untuk memasarkan hasil kebun mereka.

"Kami minta pemerintah dapat memperhatikan harga karet di tingkat petani, karena saat ini harganya sangat murah, hanya sebesar Rp 5.000 perkilogramnya yang sebelumnya mereka menjual dengan harga Rp.10.000 perkilogramnya, Dengan kondisi itu membuat perekonomian para petani karet di daerah kita kembali terpuruk," kata Darmawati, Rabu (21/9).

Dirinya mendapat informasi dari para petani, bahwa sejumlah pengumpul yang biasanya menjadi langganan petani saat ini menghentikan pembelian karena mereka  juga kesulitan memasarkan, maka dari itu pemerintah daerah diharapkan dapat membantu untuk memecahkan persoalan yang sedang dihadapi para petani karet di daerah ini.

"Campur tangan pemerintah daerah dalam mengendalikan harga karet sangat perlu, agar kesejahteraan petani karet di daerah kita dapat lebih terjamin, maka pengendalian harga, untuk jangka pendeknya pemerintah daerah juga harus segera mencarikan solusi terhadap permasalahan yang sedang dihadapi petani karet di daerah kita," ucap Darmawati.

Politisi Partai Golkar ini juga mengatakan selama ini pihaknya menilai upaya dari pemerintah daerah khususnya dinas terkait masih belum ada sama sekali. Akibatnya petani karet di Kabupaten Kotim hanya bisa mengeluh.

"Kita memang mengetahui saat ini kebutuhan akan karet di pasaran internasional memang menurun, tetapi yang terjadi saat ini bukan hanya keluhan turunnya harga saja yang terjadi, tetapi petani juga kesulitan memasarkan hasil kebun mereka," ujar Darmawati.

Sementara salah seorang petani karet, Sunarti (34) Kecamatan Cemapaga Hulu, Kabupaten Kotim mengaku, sampai saat ini dirinya masih kesulitan menjual hasil kebunnya, dan kalau pun ada pembelinya dengan harga antara Rp,4.000 hingga Rp.5.000 perkilogramnya.

"Turunnya harga karet di tingkat petani diduga akibat permainan para pengumpul karet. Akibat permainan para pengumpul tersebut petani sangat dirugikan," ucap Sunarti.

Dirinya juga menjelaskan bahwa sekarang ini musim penghujan, menyadap karet agak sulit karena mangkok penampungan terisi air hujan, sehingga getah karet tumpah keluar, maka dari itu ia berharap harga karet bisa naik kembali seperti semula.

"Kami juga berharap pemerintah daerah dapat membantu mengatasi permasalahan yang sedang kami hadapi saat ini agar para petani karet di daerah kita ini juga dapat bertahan hidup,"ucapnya.

Editor : dar
Reporter : bah

Berita Terbaru