Tentang Perempuan, Tanah Leluhur, dan Menjaga Semesta

  • 2022-09-25
COVER BUKU


Fanny J. Poyk berhasil meramu narasi, deskripsi, diksi, dan dialog dalam takaran yang pas. Membaca buku ini seperti mendengarkan cerita seorang oma cerdas, sarat pengalaman hidup, yang bertutur tentang dunia perempuan.

APA yang kamu lakukan jika suamimu pemabuk, ringan tangan, main gila, membawa perempuan lain, dan tidur seranjang di depanmu?

”Cuki mai, beta akan ambil parang, beta cincang dua-duanya sampai dong dua pung batang leher putus!” Artinya: aku akan mencincang mereka, jawab Mince, si tokoh perempuan dari Nusa Tenggara Timur, dalam cerpen Mince, Perempuan dari Bakunase.

Namun, alih-alih membunuh, Mince justru memilih meninggalkan suami terkutuknya dengan membawa kedua buah hati. Pilihan hidup yang dilakukan Mince setelah tak sanggup menjalani bahtera rumah tangga.

Pilihan terakhir karena pertolongan yang diharapkan pada lembaga layanan tiada menuai hasil. Nun di sisi lain, seorang perempuan korban pemerkosaan dan trafficking memilih memutilasi si pelaku dalam cerpen Juminten. Pada cerpen Catatan Harian Seorang Pelacur, hadir perempuan bernama Fla yang terjerumus bursa pelacuran, digerogoti penyakit HIV/AIDS, dan justru maut menjemputnya melalui tangan psikopat.

Fanny dalam Kupu-Kupu di Pusara Ibu sebagian besar berkisah tentang perempuan dengan berjuta persoalannya, tak terkecuali kekerasan yang dialami kaum hawa. Betapa masih banyak perempuan yang menjadi korban kekerasan, termasuk kekerasan dalam berumah tangga dan kekerasan seks.

Komnas Perempuan di tahun 2022 mencatat bahwa kasus kekerasan terhadap perempuan mengalami peningkatan signifikan 50 persen, yaitu dari 226.062 kasus pada 2020 melonjak ke 338.496 kasus di tahun berikutnya. Angka setinggi itu pun bisa jadi hanya fenomena gunung es karena banyak perempuan yang enggan melapor dengan berbagai alasan.

Jika Aristoteles menyatakan sastra bentuk tiruan dalam kehidupan, Fanny menghadirkan cerita-cerita fiksi yang sejatinya berupa fakta di dalam kehidupan sekitar kita. Pengalaman Fanny sebagai jurnalis terasa sekali pada sebagian cerpennya yang terasa seperti saat kita membaca laporan perjalanan yang beraroma sastra.

Fanny berhasil meramu narasi, deskripsi, diksi, dan dialog dalam takaran yang pas. Membaca Kupu-Kupu di Pusara Ibu seperti mendengarkan cerita seorang oma cerdas, yang sarat pengalaman hidup, bertutur dunia perempuan: di mata perempuan kencur, perempuan dewasa, hingga perempuan sepuh. Fanny menyuarakan harapan dalam cerpen Jika Kau. Fanny mengulik feminisme di cerpen Luka Erika. Fanny juga menuliskan kehidupan sosial perempuan sepuh, yang jarang ditulis pengarang perempuan, dalam cerpen Cake Pesanan. Saya tergelak saat membaca ending cerpen ini.

Tanah Leluhur

Tersebutlah adagium apabila ingin mengetahui biografi seorang penulis, bacalah karya-karyanya. Fanny J. Poyk dilahirkan di Bima, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, dan berdarah Nusa Tenggara Timur. Sastrawan yang kerap dipanggil Oma Fanny di kalangan seniman ini dibesarkan di Bali dan Jakarta. Dalam cerpennya, dia banyak menggunakan tiga kota tersebut sebagai sumber ide, termasuk latar cerita. Beberapa cerpen yang menggunakan lokalitas Bali: Aku dan Wayan dan Ateng sang Penari.

Pada cerpen berlatar metropolitan, Fanny membidik kehidupan fenomena sosial yang terjadi di ”ruang bawah” kota besar. Kesibukan masyarakat kota sehingga tiada waktu menjenguk pusara orang tua (cerpen Kupu-Kupu di Pusara Ibu). Dalam cerpen Mimpi, Fanny menuturkan kisah miris anak jalanan korban kriminalitas, pelacuran, homoseksual, pedofil, dan bisnis jual beli organ tubuh manusia.

 

Karya Gerson Poyk berjuluk Pendongeng dari Timur kerap memasukkan unsur lokalitas Nusa Tenggara Timur dalam karya sastranya, Fanny pun melakukannya pada cerpen-cerpennya, dengan gaya bahasa yang berbeda, dalam Be’a, Cerita di Batik Tenun Ikat, Natal Pertama tanpa Bapak, Tanah Persawahan Bapa Yohanes, Mince, Perempuan dari Bakunase, Belis si Mas Kawin.

Jika Gerson Poyk menulis dalam gaya lincah, unik, kocak, dan ending terkadang mengejutkan, sang putri, Fanny, menuliskannya ke dalam bahasa lugas nan sederhana, dengan aroma lembut tapi meledak-ledak: tentang hidup nelayan kecil, petani, air, laut, sawah, mamar, lontar, bebak, tenun ikat, suanggi, belis, sopi, di dalam nuansa bahasa Rote.

”Biasanya sonde begini, puluhan tahun beta cari ikan di sana, sonde pernah ada yang tahan beta. Kitong tidak ambil ikan banyak-banyak seperti kapal-kapal pukat harimau itu, kitong hanya nelayan kici ana, kitong cuma cari makang untuk hari ini sa, karnapa dong tangkap beta pung anak eee…Tuhan tolong beta!” (Nelayan dari Pulau Rote Ndao, halaman 202).

 

Menjaga Semesta

Seperti isi semesta yang beragam, demikian pun tema dalam cerpen. Dalam buku ini, Fanny banyak membidik tema yang universal dan relevan di masa kini: problema rumah tangga tidak sebatas warna pelangi dan hitam-putih, intrik percintaan bukan melulu ala sinetron kumenangis, paham ideologi, isu sosial budaya, fenomena, bahkan perihal yang sangat dekat dengan kehidupan si penulis –dunia literasi–, tercantum dalam cerpen Sang Penyair. Tokoh penyair yang takut dengan istri terpaksa bekerja normal dan terpaksa pula ”membunuh” puisi-puisinya.

Pada hakikatnya karya sastra, cerpen yang bagus bukan melulu perihal akrobat jalinan metafora, teknis penulisan yang canggih, atau berpatokan nama besar. Cerpen-cerpen Fanny adalah kisah yang terinspirasi dari kehidupan sekitarnya, impresi perjalanan pergulatan hidupnya yang berwarna-warni dan berliku. Cerpen Fany memberikan efek atau menyampaikan sesuatu yang bersifat mendidik kepada pembaca. (*)

 

JUDUL: Kupu-Kupu di Pusara Ibu

PENULIS: Fanny J. Poyk

PENERBIT: Yayasan Gerson Poyk/Gerson Poyk Foundation

CETAKAN: Pertama, Juni 2021

TEBAL: viii + 219 halaman

ISBN: 9786025031151

*) KARTIKA CATUR PELITA, Menulis prosa dan puisi. Bukunya yang sudah terbit: Perjaka, Balada Orang-Orang Tercinta, Perempuan yang Ngidam Buah Nangka, dan Karimunjawa Love Story. Founder komunitas Akademi Menulis Jepara (AMJ).

Editor : dar
Reporter : JPC

Berita Terbaru