Tech Winter di Indonesia:

Studi Kasus PHK Karyawan PT Shopee Indonesia

  • 2022-09-26
Suci Awwalya Mahardini


SHOPEE merupakan salah satu dari banyak start-up yang berfokus pada bidang e-commerce atau penjualan online. Mengacu pada Tirto (2022), diketahui bahwa divisi yang mengalami pemutusan kerja pada layanan ShopeeFood dan ShopeePay. Penulis memandang bahwa aspek ini adalah salah satu dampak dari strategi membakar uang yang dilakukan oleh Shopee.

Pembakaran uang identik dengan startup di mana perusahaan menawarkan diskon kepada pengguna dan subsidi kepada mitra bisnis. Strategi ini dilakukan oleh Shopee sebelumnya diketahui dapat merugikan banyak aspek operasional yang akan berujung pada PHK. Situasi ini terjadi karena ekstensi peluncuran terlalu besar.

Di sisi lain, ternyata segmentasi pasar tidak bisa terbaca dengan benar. PT Shopee Indonesia memberhentikan beberapa karyawannya. Secara darurat, proses PHK yang dilakukan oleh Shopee juga dinilai tepat saat ini karena membuat perusahaan lebih sehat.

Keputusan ini merupakan langkah terakhir setelah beberapa kali perubahan kebijakan perusahaan, yang harus dievaluasi secara objektif. Ini adalah keputusan yang sangat sulit. Shopee berkomitmen untuk mendukung karyawan yang terkena dampak kebijakan ini. Pada aspek PHK saat Tech Winter ini, Shopee dijelaskan telah sesuai dengan aturan negara dan diberikan tunjangan pensiun serta gaji satu bulan.

Beberapa perusahaan e-commerce lain yang diketahui juga melakukan PHK sebelum Shopee adalah JD.ID pada bulan Mei 2022 yang memecat karyawan dengan tujuan melakukan adaptasi dan mengikuti dinamika pasar serta tren industri di Indonesia.

Informasi mengenai jumlah karyawan yang diberhentikan belum tersedia sejauh ini. Perusahaan start-up lainnya ada pada bidang pendidikan Zenius yang merumahkan 200 karyawan pada Mei 2022.

Hal ini tidak dapat dihindari karena kondisi makro ekonomi yang memburuk, memaksa perusahaan untuk mengintegrasikan dan mensinergikan proses bisnisnya.

Penulis memandang penyebab dari tech winter ini adalah semakin banyaknya startup baru di Indonesia, startup perlu bersaing di pasar yang semakin terbatas untuk meningkatkan persaingan.

Pendekatan kepada pangsa pasar diperlukan sebaik mungkin, rata-rata perusahaan e-commerce hanya mendapatkan maksimal 10% konsumen dari pangsa pasar di platform digitalnya, termasuk persaingan pada pasar offline.

E-commerce harus bersaing, karena pandemi telah memicu booming e-commerce. Penurunan tak terduga di toko online telah memaksa Shopee untuk mengkonsolidasikan semua bidang bisnis, terutama perekrutan, dukungan, dan penjualan.

Shopee Indonesia juga akan memastikan bahwa tahap ini tidak mempengaruhi bisnis atau layanan semua penjual, pembeli, dan afiliasi di Indonesia. Shopee Indonesia tetap berkomitmen untuk melanjutkan program UMKM yang saat ini berjalan di 9 lokasi UMKM Shopee.(*)

 

*) Penulis Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya

Editor : hnd
Reporter :

Berita Terbaru