Novel Melukis Semesta:

Konflik Keluarga dengan Bumbu Asmara

  • 2022-10-05
Ilustrasi


BERANGKAT dari tulisan AU (Alternate Universe) di thread Twitter, novel Melukis Semesta karya Skysphire menyuguhkan kisah keluarga dan romansa yang kompleks. Kisah para tokoh utama yang asam-manis akan membawa kamu hanyut dalam ceritanya. Begitu pula yang terjadi pada Millya dan Azra, teman Zetizen yang berkesempatan membaca novel 300 halaman itu.

“Novel ini memang campur aduk banget. Sedih, senang, kecewa, kesal, dan marah jadi satu,” ungkap Millya. Bercerita mengenai dua keluarga yang awalnya harmonis, alur kemudian akan membawamu menemui konflik-konflik yang terjadi di antara keduanya.

Awalnya kamu mungkin akan mengira Melukis Semesta adalah karya romansa. Begitu juga yang dipersepsikan oleh Millya. “Awalnya aku kira akan menjadi kisah asmara dewasa dengan latar kantoran. Namun setelah membaca bab satu, aku salah besar,” tuturnya.

Ide awal atau premis yang disuguhkan novel terbitan Gagasmedia itu memang unik. Sebagai pembaca, kamu akan dibuat bertanya-tanya tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. Resolusi konflik juga dilakukan secara perlahan sehingga akhir ceritanya sulit untuk ditebak. Apalagi transisi dari konflik romansa ke konflik keluarga yang cukup intens.

Dengan kejutan-kejutan yang ada dalam kisahnya, kamu nggak akan bosan mengikuti perjalanan Rindu dan tokoh yang lain. Meski Melukis Semesta menyimpan enam tokoh yang masing-masing berpengaruh untuk cerita, keenamnya memiliki karakter yang kuat sehingga kamu punya pilihan untuk menentukan tokoh favorit.

“Tokoh favoritku Dissa sih, karena dia digambarkan sebagai orang yang sabar, baik, dan pengertian,” ujar Azra. Dari segi kepenulisan, Melukis Semesta menggunakan bahasa ringan yang mudah dipahami. Meski begitu, ada kerancuan dalam penggunaan perspektif tokohnya.

“Tulisannya bagus, tetapi kadang agak membingungkan terkait penggunaan kata ganti kepemilikan kayak memanggil diri sendiri dengan nama dan menyebut orang tua dengan nama,” imbuh Azra.

Kekurangan tersebut bisa menjadi pertimbangan buat kamu yang nggak terlalu suka bacaan dengan perspektif orang ketiga. Apalagi plot Melukis Semesta yang cenderung lebar dan nggak fokus ke satu tokoh saja.

Di semesta ini, bisakah kisah kita bahagia? Kalimat pembuka dalam sampul bukunya seperti mengundang pembaca untuk menuntaskan dan mengungkap akhir cerita. Apakah kamu juga tertarik bergulat dengan konflik runyam dua keluarga? 

Editor : hnd
Reporter : kom/jpg

Berita Terbaru