Sepak Cinta, Gila Bola

  • 2022-10-09
Oleh EKO TRIONO


Layaknya seorang pecundang, dia hanya bisa membayangkan melakukan tendangan salto, gol yang sempurna, gemuruh yang melampaui sejarah desa, dan senyum Atika di sisi lapangan. Di sana, di bawah pohon waru, adalah tempat para gadis memengaruhi jalannya pertandingan dengan teriakan-teriakan mereka yang terkenal menggemaskan, menggairahkan, dan mengacaukan strategi.

TERIAKAN itu terbukti membuat semua pemain ingin tampil mencetak gol. Menjadikan mereka lupa siapa kawan siapa lawan dan siapa menyerang siapa bertahan. Serta membuat lapangan seolah hanya berguna sisi baratnya.

Di depan gadis-gadis, para pemain pamer aksi dan mencari perhatian. Tidak jarang mereka sengaja membuang bola ke luar. Setelahnya, orang-orang menyaksikan mereka berebut melakukan lemparan ke dalam. Tak peduli walau mungkin harus mengambilnya dari kubangan comberan bau lumpur busuk jijik, yang berada di dekat kandang kambing dari rumah-rumah yang berjajar di sisi lapangan.

Apa pun. Asalkan dapat mencuri pandang pada gadis-gadis. Asalkan dapat melihat senyum Atika, yang meski hanya sekilas, tetapi bekasnya telah terbukti mampu mengubah semua mimpi buruk pada malam-malam mengerikan di Wariri menjadi mimpi yang sempurna.

Atika hanya akan keluar rumah salah satunya saat ada sepak bola. Ini karena ayahnya, Raden Broto, penggila sepak bola sekaligus pembenci pandangan terkutuk dari pemuda-pemuda miskin tak tahu diri yang mengincar putrinya.

Raden Broto yakin, dengan keyakinan paling dramatis, bahwa pemuda-pemuda tidak tahu diri itu hanya membidik harta dengan berharap menjadi menantunya.

Siapa bisa membantah tentang betapa beruntungnya kalau menjadi menantu Raden Broto? Proyek-proyek desa, semua dia yang pegang. Lahan pertanian? Jangan tanya luasnya. Peternakan? Jangan tanya jumlahnya. Bisnis? Jangan tanya jenisnya.

”Jangan menatap mata lelaki mana pun, jangan menerima barang apa pun, jangan memetik bunga, menangkap burung, belalang, atau kupu-kupu, dan sekali-kali jangan melangkah kecuali dalam pengawasan pembantu dan teman-temanmu,” Raden Broto mengingatkan setiap kali rombongan keluarga terkaya itu akan menonton bola di tempat khusus di sisi barat, di tribun dari papan, bersandar bantal-bantal kapas randu, di dekat pohon waru, dengan pengawalan yang belum ada tandingannya di Wariri pada era itu. ”Ingat, pemuda-pemuda gila di desa ini terbiasa dengan sihir. Jangan lepas topi besarmu.”

”Ayah melarangku jatuh cinta?” suatu hari Atika mulai berani bertanya.

”Ayah hanya tidak ingin kamu jatuh pada cinta yang salah dan menyihirmu.”

”Apa cinta itu sihir?”

”Kadang lebih dari sihir. Kalau sudah terperangkap, seseorang bahkan akan lupa siapa dirinya.”

”Kenapa bisa begitu?”

 

***

Layaknya seorang pecundang, dia hanya bisa membayangkan melakukan tendangan salto, gol yang sempurna, gemuruh yang melampaui sejarah desa, dan senyum gadis yang membuatnya jatuh cinta, meski hanya sekali pernah memandangnya pada suatu pagi yang dingin di musim kemarau, di dekat kandang kerbau.

 

Ketika itu dia harus menggantikan ayahnya yang terserang demam. Ayahnya pekerja di peternakan Raden Broto. Bersama sepuluh orang yang lain, ayahnya di bagian menangani seratus tiga belas kerbau.

Di musim kemarau seperti ini, ketebon atau tanaman jagung dan kelobot atau kulit pembungkus tongkol jagung menjadi pakanan utama kerbau-kerbau. Subuh itu dia harus mengusung ketebon dari ladang.

Dia sudah sampai. Buruh-buruh tani yang bertugas memanen jagung belum datang. Suara jangkrik masih ada di berbagai penjuru. Langit masih samar. Embun terasa lebih dingin saat dia menyentuh gulungan-gulungan ketebon seukuran gorong-gorong. Para buruh mengikatnya kemarin sebelum pulang sore.

Dia berusaha melawan rasa malas yang terbuat dari kemiskinan turun-temurun dan berkepanjangan, saat memindahkan gulungan ketebon ke kepala yang dilapisi gulungan sarung. Hampir-hampir terjengkang sebab bagian belakang lebih panjang dan terasa lebih berat.

Dia berjalan sekitar lima belas menit, melewati jalur ladang, lalu memasuki batas desa. Suasana lebih gelap. Sisi desa dipenuhi rimbun pohon kelapa. Dia mengikuti jalan khusus kerbau yang telah mengering. Jika musim hujan, jalan ini adalah perpaduan antara jejak-jejak mendalam, bau lumpur, geliat lintah, dan kotoran hitam yang ditumbuhi rumput dan dirubungi lalat hijau.

Orang-orang di Desa Wariri memisahkan antara jalan kerbau dan jalan buat manusia. Peternakan pun ditempatkan di batas desa.

Dia mengucapkan salam pada penjaga tua keriput yang sedang menyiapkan air campuran gula kelapa di antara remang selepas subuh.

Dia terus melangkah. Dia tiba-tiba tidak mendengar saat penjaga itu bertanya dari kejauhan bagaimana kabar ayahnya yang sedang sakit. Dia bahkan tidak merasakan letih, ngos-ngosan, atau leher pegal. Dia seolah mengabaikan dengus kerbau, aroma busuk, suara mamah biak, atau kokok-kokok ayam di kejauhan.

Setelah menurunkan gulungan ketebon, matanya seperti terperangkap ilusi. Jiwanya mengembara ke arah lampu petromaks yang meredup dekat kerbau bule atau kerbau merah muda atau kerbau albino yang memang ada tiga di peternakan ini dan diberi kandang khusus. Di sana, dia melihat perempuan paling cantik yang pernah dia temui di desa ini. Sebagai penangkap burung-burung, dia telah mengelilingi sudut-sudut Wariri dan matanya belum pernah melihat seperti apa yang sekarang ada di depan sana.

Dia melangkah, mendekat dengan keberanian pemburu burung-burung yang memastikan bahwa itu bukanlah hantu yang menjelma, ”Kamu siapa?”

Yang ditanya terkejut, menghentikan memberi makan kerbau albino, kemudian berkata apa adanya, ”Aku Atika. Kamu siapa?”

Keduanya saling melihat sesaat. Bagi Atika, ini adalah saat-saat yang langka ketika dia bicara dengan orang asing di luar mereka yang mengawal atau bekerja di rumahnya. Dia ingin membuktikan benarkah dia cantik? Atau hanya orang-orang takut pada ayahnya hingga memuji.

Sementara bagi yang ditanya balik, mendengar jawaban siapa perempuan itu seketika membuatnya terdiam dan menunduk.

Hatinya memang bergetar seolah hutan telah tumbuh di sana, lalu burung-burung terbaik berkicau, berebut, dan bulu-bulu halusnya membuat membuat tubuh merinding, tetapi akal sehatnya mati kutu.

O, ternyata ini anak juragan yang sering dibicarakan orang. Dia masih menunduk. Dia melipat tangan di depan tubuh. Dalam hati dia mengutuk derajat hidupnya. Lalu berganti memuji pagi yang sialan dan membayangkan ayahnya demam untuk selama-lamanya.

”Hei, namamu siapa?” tanya Atika lagi yang dibuat semanis-manisnya seolah itu di hadapan lelaki terbaik di muka bumi.

Dia baru mau menjawab, tetapi dua perempuan pengawal Atika muncul. Mereka dari kandang sebelah, kemudian segera mengajak tuannya pergi.

”Tidak biasanya sudah muncul pekerja sepagi ini,” gumam seorang dari mereka.

Ketika melintas menebarkan wangi yang tak terlupakan sepanjang sejarah hidupnya sebagai pecundang, Atika bertanya, ”Apa kamu main bola juga?”

 

***

Layaknya seorang pecundang, dia hanya bisa membayangkan melakukan tendangan salto, gol yang sempurna, gemuruh yang melampaui sejarah desa, dan senyum gadis yang kini telah membuatnya bekerja lebih keras dari hari-hari lainnya, bahkan melebihi kerja keras kerbau-kerbau di musim bajak sawah. Orang tuanya menjadi saksi atas semua perubahan ini.

”Lihat, sejak kamu sakit, anakmu berubah rajin bekerja, jarang tidur, dan sebentar lagi rumah ini akan dipenuhi burung-burung, bahkan sampai ke dapur dan kolong tempat tidur.”

”Apa dia jadi suka sepak bola?”

”Iya. Kenapa?”

”Celaka! Dia pasti telah melihat apa yang seharusnya tidak dia lihat. Aku harus bangun dan kembali bekerja di rumah juragan.”

”Jangan! Tiduran saja. Harus dikompres, makan, dan minum obat. Jangan menambah masalah.”

”Bu! Anak kita itu berubah karena dia sedang jatuh cinta.”

”Lalu apa masalahnya? Asal dia bahagia dan berubah lebih baik.”

”Masalahnya dia pasti sudah jatuh pada cinta yang salah. Kalau dibiarkan, dia bisa menderita nantinya, bahkan bisa gila.”

”Sudahlah, Pak. Kita ini sudah tua, sudah waktunya menimang cucu. Lagi pula, yang selama ini mendewasakan orang, ya, jatuh cinta atau patah hati kan? Seperti tidak pernah muda saja.”

”Masalahnya bukan itu.”

”Lalu apa?”

 

***

Layaknya seorang pecundang, dia hanya bisa membayangkan melakukan tendangan salto, gol yang sempurna, gemuruh yang melampaui sejarah desa, dan senyum gadis yang ternyata menjadi mimpi malam pemuda-pemuda lainnya.

”Mengapa satu orang bisa muncul di dalam mimpi banyak orang?” Dia bertanya dengan nada pecundang.

”Bukan itu yang harus kamu pikirkan.”

”Lalu apa? Bagaimana agar dia hanya menjadi milikku seorang di alam mimpi dan di dalam kenyataan?” Dia bertanya dengan pertanyaan pecundang.

Yang ditanya telah mendengar ratusan kali pertanyaan semacam ini. Dia terlatih untuk memberikan jawaban yang runtut, sederhana, dan memikat seolah segalanya mungkin bagi siapa pun yang mau berusaha, seakan setiap yang ada di depannya adalah calon terbaik yang pantas menjadi menantu Raden Broto.

Dia mulai dari informasi paling mendasar dengan pernyataan yang jujur bahwa tuan tanah itu menginginkan menantu yang kaya. Kalau harus menabung sedikit demi sedikit, tentu perlu waktu lama, sementara Atika keburu tua atau dinikahi orang lain. Sementara itu, hanya tersedia dua cara paling jitu.

”Cara pertama adalah menjadi kaya sehingga orang tuanya tertarik dan memaksa putrinya menikah denganmu. Atau cara kedua. Dengan membuat Atika jatuh cinta setengah mati padamu, hingga memaksa orang tuanya untuk memilihmu. Dan jangan putus asa. Dengarkan aku,” kata orang itu dengan suara seorang pahlawan di hadapan seorang pecundang cinta.

Orang itu melanjutkan bahwa untuk memikat hati Atika, harus pandai bermain bola dan lebih-lebih mampu melakukan tendangan salto, lalu menciptakan gol kemenangan di piala bupati.

Persatuan Sepak Bola Sandikala, yang disponsori penuh oleh Raden Broto, pasti akan memilih, membawa ikut kompetisi antarkampung, dan truk-truk yang berisi para pendukung akan menyebut-nyebut namanya. Untuk bisa bergabung, harus memiliki sepatu bola, celana bola, kaus bola, dan sering latihan bola.

”Jangan khawatir, toko saya ini menyediakan semua perlengkapan itu.”

”Kamu pasang harga mahal sekali. Uangku belum cukup. Aku harus menangkap lebih banyak burung lagi. Di pasar banyak yang lebih murah. Aku jualan burung di sana. Aku tahu.”

”O, tidak bisa. Persatuan hanya mau menerima mereka yang membelinya dari toko ini. Atau, kamu bisa kaya mendadak dengan pasang ini. Jangan sampai sainganmu lebih dahulu pasang. Sekali dapat empat angka, kamu bisa jadi kaya mendadak dan Raden Broto pasti akan memandangmu. Bagaimana? Dengar, ini tidak kuberi tahu pada semua orang. Hanya yang kurasa pantas dan layak sepertimu.”

”Apa tidak ada cara lain?”

”Ada. Dengan sihir. Sebentar, aku juga jual paketnya. Mau yang hemat atau paket lengkap? Ini tinggal pilih daftar dukun-dukunnya.”

”Bukan. Aku ingin cinta yang tulus, suci, dan murni. Aku ingin kamu membantu mempertemukanku dengan Atika. Sejak pagi itu, aku belum pernah bertemu dengannya lagi dan itu sangat menyiksaku. Aku dengar setiap malam kamu ke rumah besarnya dan menyetor pendapatan toko ini pada Raden Broto.”

”Dasar pecundang! Sama saja dengan yang lain. Kalau itu aku tidak bisa. Aku hanya pekerja di sini. Pergilah! Aku sibuk.” (*)

 

EKO TRIONO

Lahir di Cilacap, 1989. Menulis kumpulan cerpen Agama Apa yang Pantas bagi Pohon-Pohon? (2016), Kamu Sedang Membaca Tulisan Ini (2018), Republik Rakyat Lucu (2018), dan Berapa Harga Nyawa Hari Ini? (2022). Menekuni pembelajaran sastra dan saat ini mulai menempuh program doktoral di Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Sebelas Maret, Surakarta

Editor : dar
Reporter : jpc

Berita Terbaru