Siasat Bahasa dalam Malim Pesong

  • 2022-10-09
COVER BUKU


Dari cerpen ke cerpen, kita akan melihat bagaimana Hasan kepincut setengah mati pada metafora dan personifikasi.

SECARA literer alias tradisi kepenulisan prosa, Hasan Al Banna dan gaya bahasa seperti dua sisi mata uang. Sepuluh cerpennya dalam Malim Pesong (Obelia, Agustus 2022) melahirkan dua pernyataan yang sejatinya sudah berdengung sejak Sampan Zulaiha (Koekoesan, 2010) dirilis, yaitu:

 

a) Hasan Al Banna menulis dengan strategi literer yang terpola.

b) Tubuh cerpennya justru menawarkan argumentasi moral yang bersibelakang dengan strategi literernya.

 

Metafora dan Personifikasi

 

Pantun, gurindam, petatah-petitih, hingga basa-basi Melayu yang kaya permainan bahasa bagai melebur, tentu tidak dalam arti harfiah, dalam narasi (atau bahkan dialog) dalam bunga rampai setebal 77 halaman tersebut. Dari cerpen ke cerpen, kita akan melihat bagaimana Hasan kepincut setengah mati pada metafora dan personifikasi, majas yang dengan tumpah ruah (untuk tidak menyebutnya ”berlebihan”) (ia) hadir(kan) dalam cerpen-cerpennya.

Perhatikanlah. Kalimat-kalimat pada paragraf kedua cerpen yang dijadikan judul buku ini bahkan ditulis menggunakan majas-majas tersebut.

….Tapi satu hal yang melorotkannya dari tampuk kemuliaan. Isi khutbah Ustaz Tohir seolah menggusurnya ke deretan akhir jemaah Jumat, bahkan menjungkalkannya ke luar masjid. Maka kini ia memilih menunduk, menjatuhkan sorot mata ke jantung sajadah (halaman 18).

Atau, empat kalimat pertama pada paragraf kedelapan cerpen ”Kematian Bob Marley”:

Pagi meniti nyeri. Hujan kandas. Di udara bertabur wangi air mata. Di dagu pintu, tepatnya di atas kursi kayu, diletakkan baskom bergunduk beras catu (halaman 46).

Periksalah delapan cerpen lainnya, dua gaya bahasa tersebut hadir dalam porsi yang lebih banyak dibanding majas lainnya. Akhirnya, personifikasi dan metafora tak hanya menjadi (salah satu) teknik literer yang mempermanis cerita. Lebih dari itu, cerita-cerita dalam Malim Pesong adalah parade narasi lokalitas yang ”menyihir” teks untuk menyajikan kata benda yang menjadi perumpamaan dan memiliki sifat, tindakan, atau perasaan layaknya manusia.

 

Aftertaste: Depersonifikasi

Tapi, yang menarik dari parade metafora dan personifikasi yang Malim Pesong pertontonkan adalah argumentasi moral yang diusungnya yang merupakan antitesis dari teknik literer yang membangunnya: depersonifikasi.

Sebagai versus dari gaya bahasa humanisasi, depersonifikasi menggambarkan manusia memiliki sifat dan atau berlakon –atau diperlakukan– sebagai kata benda nonmanusia. Berbeda dengan personifikasi yang langsung bisa terendus keberadaannya ketika teks sedang dibaca, depersonifikasi adalah luaran yang baru akan pembaca endus keberadaannya setelah tuntas membaca (aftertaste).

Kita akan melihat bagaimana Bapak Tio dalam ”Tio na Tonggi” didepersonifikasi menjadi pohon bargot (aren), Opung (Lasma) dalam ”Kapas-Kapas Desember” yang menjelma jadi kenangan dan harapan yang tanggal, Malim Esha dalam ”Malim Pesong” yang tidak ”utuh” sebagai manusia karena status ”sakit jiwa” yang ditabalkan masyarakat kepadanya, dan ”Guru Jabut” yang mengetengahkan Panangaran Bayo Angin sebagai benda mati (jenazah) yang tak dianggap.

 

Juga ”Kebohongan Ustaz Baihaqi” yang melahirkan Ujang Pelor sebagai kejahatan abadi, Jusmar Gazali bin Hoesij dalam ”Kematian Bob Marley” yang jadi tumbal aparat tanpa harga, ”Jaelani di Tangan Juru Cerita” yang memproduksi pengkhayal malang yang gagal menunaikan janji kemanusiaannya sebagai suami dan ayah, dan Palti dalam ”Pengkolan Buaya” yang ”mencapai” impiannya menjadi buaya dengan mulut yang menganga.

Serta Tugu (Selamat Datang) yang hanya bisa merutuk di hadapan kebejatan moral masyarakat Kota Terpelajar Sekaligus Religius yang ia saksikan setiap saat dalam ”Hikayat Lampion Jingga di Kota Kami” dan puncaknya adalah cucu Iblis dalam ”Buku Harian Cublis” yang menjadi antitesis kompleks argumentasi moral buku ini: Kaum Iblis tidak purna menjadi Iblis karena manusia yang terus menuduh mereka sebagai biang atas segala ketakpantasan, kezaliman, dan kekejaman di muka bumi.

Berbeda dengan efek yang ditimbulkan personifikasi (dan metafora) sebagai strategi literernya, depersonifikasi sebagai aftertaste-nya justru menjadi tawaran atau gaya khas prosa-prosa Hasan.

 

Kemonotonan atau Ciri Khas

Para pembaca (termasuk penulis, tentu saja) bisa saja bersolilokui tentang alasan cerita-cerita dalam Malim Pesong yang monoton secara siasat naratif, tapi tetap nagih begitu tuntas dibaca. Dan analisis kecil ini membentangkan alternatif jawaban dalam bentuk peta kasar yang menandai dua ”lokasi” vital tempat Hasan Al Banna, yang dengan sadar atau tidak, menyimpan teknik berceritanya: metafora dan personifikasi dan antitesisnya.

Percaya atau tidak, kedua karakter literer di atas sejatinya bukanlah tawaran baru nan segar dalam proses kreatif Hasan. Jauh sebelum itu atau sejak mula Hasan Al Banna ”sadar atau tidak” telah menemukan pola menulis (cerpen-cerpennya). Malim Pesong bahkan dapat dikatakan reinkarnasi Sampan Zulaiha yang dibungkus dengan story yang berbeda. Realitas teks demikian, di satu sisi, rentan menyaru jadi ketakbergerakan alias kemonotonan, tapi di sisi lain, bahkan di saat yang sama, bisa saja dianggap kebersetiaan dan ciri khas.

 

Yang Tak Terbantahkan

 

Ulasan ini sengaja tidak membahas lokalitas dalam cerpen-cerpen Hasan Al Banna karena terang sekali kehadiran unsur tersebut dalam Malim Pesong. Eksotika kampung halaman dan argumentasi moral sudah terlampau sering dijadikan pendekatan dalam membahas karya sastra lokalitas. Meskipun begitu, ulasan ini diharapkan tidak hanya membentang peta strategi literer Hasan Al Banna. Lebih dari itu, memudahkan kita untuk sadar sekaligus belajar bahwa kekuatan teks dapat dibangun dengan siasat-siasat bahasa. (*)

 

 

Judul: Malim Pesong

Genre: Kumpulan cerpen

Penulis: Hasan Al Banna

Tebal: 77 halaman

Penerbit: Obelia, Medan

Terbit: Agustus 2022

Editor : dar
Reporter : jpc

Berita Terbaru