Anwar dan Vespa Kongo

  • 2022-10-16
Oleh MURAM BATU


Suara azan Asar begitu nyaring, masuk ke rumahnya yang tak besar, membuat Anwar menghentikan gerak. Sesaat dipandanginya skuter tua, berpantat bulat yang bagian samping kanan kirinya mirip telur, berkekuatan 125 cc, dan berwarna kuning itu. Lap di tangannya pun dia lepaskan.

Kain serap air itu tersangkut begitu saja di jok vespa yang tak bisa lagi melaju.

TUKANG azan itu cucunya PKI. Syukur kakeknya gak ketemu aku. Kalau tidak, sudah mati dia kubuat,” kata Anwar pada lelaki muda berusia 30-an tahun yang menjadi tamunya. Sang tamu duduk manis di kursi teras rumah Anwar, tepat berhadapan dengan poster besar film Arsan & Aminah.

Suara azan berasal dari seberang jalan, tepat di depan rumah Anwar. Dan, moncong toa lonceng yang ada di masjid itu mengarah ke rumah. ”Kita salat dulu,” sambung Anwar sembari masuk rumah untuk membersihkan diri sekaligus ganti baju.Tak lama kemudian Anwar sudah tampak berbeda, tidak lagi berbaju kaus dan bercelana pendek. Rambutnya yang keriting dan berwarna putih tertutup peci hitam. Dia memakai baju koko putih dan sarung kotak-kotak hijau. Kulitnya yang hitam tampak mengilap.

Sang tamu tak membantah. Dia turuti saja lelaki yang berusia jelang 80 tahun tersebut. Pun ketika pertemuan pertama mereka pada 2011 lalu, dia tak membantah meski Anwar bercerita banyak yang sebagian besar tak masuk ke otaknya. Begitu banyak kisah yang dia dengar.

Bagaimana tidak, mereka berdua sekamar dalam sepuluh hari. Tapi, saat itu Anwar bukanlah tokoh utama. Dia hanya teman dekat seorang pengusaha yang sedang lelaki itu ikuti. Dengan kata lain, pertemuan dengan Anwar adalah sebuah kebetulan. Dan, Anwar sangat menghibur, jadi untuk apa dibantah.

”Kautahu Spiritesses?” tanya Anwar kala itu saat mereka duduk berdua menghadap Samudra Hindia di kawasan Salasiak, Mandailing Natal, belakang rumah sang pengusaha.

”Itu artinya hantu,” kata Anwar begitu melihat wajah bingung lelaki 30-an tahun tersebut.

Lalu, tanpa diminta Anwar pun bercerita tentang kisah hebat Pasukan Garuda III di Kongo pada 1962-an. Ceritanya, Pasukan Garuda diserang ribuan gerilyawan Kongo. Sesuatu yang tak imbang karena saat itu markas hanya dikawal 300 orang. Beruntung para gerilyawan dapat diusir.

Tapi, bukan itu masalahnya. Pasukan Garuda datang untuk misi perdamaian, kenapa diserang? Maka, dibuatlah serangan balasan. Pasukan menyerang malam hari dari Danau Tanganyika, dekat Albertville. Naik kapal dan hanya terdiri atas 30 orang terlatih.

Pasukan paham bahwa gerilyawan itu percaya takhayul. Mereka takut pada Spiritesses yang digambarkan berwarna putih dan melayang-layang di waktu malam. Maka lampu kapal dimatikan, gelap, pasukan tadi pun berjubah putih. Melihat pasukan yang seperti hantu, gerilyawan hilang semangat dan langsung menyerah. Tak ada kontak senjata yang berarti. Tak ada keributan. Sejak itulah Pasukan Garuda III dijuluki Les Spiritesses oleh orang Kongo.

”Makanya, aku pakai cara menghabisi orang PKI tanpa keributan. Cukup dengan kawat yang dililitkan di leher. Kalau pakai cara biasa, selain lama, terlalu banyak suara dan darah,” aku Anwar.

”Kayak hantu…” balas lelaki itu.

”Ya, hantu… masa lalu.”

”Ayah menyesal?” tanya lelaki itu. Dia memang meniru orang lain yang memanggil Anwar dengan sebutan Ayah.

Anwar menggeleng. Dia menatap samudra dengan tatapan jauh. Terlihat kapal nelayan yang payah di kejauhan. ”Kaulihat perahu itu, kalau nelayannya tidak yakin ada ikan di sana, ngapain dia ke sana. Semua itu karena yakin. Yakin ada ikan, maka dia ke sana. Dan saat itu, aku yakin, memberesi PKI itu adalah sesuatu yang benar.”

”Saat ini?”

Anwar tak menjawab. Dia malah bercerita tentang seekor harimau yang mati ditembak pemburu. Si pemburu itu tahu membunuh harimau itu dilarang, tapi kalau tidak dibunuh harimau itu akan menerkam. Dan, bisa saja dia yang akan mati.

”Kan harimau itu tidak harus ditembak mati. Pun kalau harimau itu menyerang, ada kemungkinan tidak akan mati. Pemburu kan bisa melawan atau lari?”

”Siapa yang tahu? Saat itu pemburu dan harimau hanya berpikir soal kematian, sama sekali tidak tahu masa depan. Seandainya kita semua tahu masa depan, tak akan ada cerita soal masa lalu. Pun, kita akan langsung memilih masa depan kan? Menjadi sesuatu yang dimaui zaman.”

Lelaki itu diam. Dia sama sekali tak mau membantah Anwar. Dia biarkan saja bapak tua itu memandang laut. Tapi, ”Berarti Ayah ikut pasukan itu, makanya nama Ayah ada Kongo-nya?”

Anwar tertawa, terkekeh. Saat itulah pengusaha itu datang. Tubuhnya tinggi, persis Anwar. Namun, dia lebih besar dibanding Anwar yang lebih kurus. Pun, kulitnya jauh lebih putih dan bersih. ”Kaulihat laut itu, War. Luas kan? Tapi belum sebanding dengan kekuasaan Tuhan yang mahaluas. Jadi, apa lagi yang kautunggu, War?”

Anwar keukeuh saja mendengar wejangan kawannya itu. Ya, bukan rahasia lagi kalau sang pengusaha sedang mengusahakan agar Anwar berangkat ke Tanah Suci. Dan ketika Anwar masih saja tak menjawab dengan jelas, sang pengusaha lebih memilih jalan di tepi pantai ditemani ajudan, menyusuri pasir, sambil menanti matahari terbenam.

Malamnya, lewat tengah malam, Anwar menyantap tiga buah kelapa muda di kolong rumah panggung pengusaha itu. Dia minum airnya. Dia makan daging buah itu, yang belum keras dan berwarna sedikit bening. Jelang tengah malam dia tumbang. Sakit karena lupa usia.

 

Namun, ketika jam sarapan, Anwar sudah pulih. Usai makan dia kembali bercerita. Kenangan saat membunuh orang-orang PKI membanjir begitu saja. Dia pun bak bunga panggung. Orang-orang mengelilinginya, mendengarkan cerita yang bagi lelaki 30-an tahun masih patut disangsikan kebenarannya.

”Ayah itu sipanggaron, pantang diumbang langsung berlebihan,” kritik lelaki itu ketika orang-orang mulai sedikit mengelilingi Anwar.

”Aku orangnya happy, makanya umurku panjang. Aku suka lihat orang senang. Ketika orang senang, aku bertambah senang. Cerita tadi sudah berulang-ulang dan mereka senang kan?”

”Walau dengan mengarang?”

”Tidak juga. Misalnya kawan kita yang jadi pengusaha ini, dulu dia sama denganku, hidup di jalan. Kemudian dia fokus ke bisnis. Dia pintar karena dengan semakin banyak uang, akan semakin banyak berbagi. Dan, dia senang melakukan itu. Orang-orang senang dengan pemberiannya. Makanya, umurnya panjang. Kalau aku kan dari dulu happy-happy saja, hidup di jalan, di klub malam, bodoh. Kalaupun berbagi, ya, berbagi cerita saja lah.”

Lelaki 30-an tahun itu tak membantah, tak ada alasannya untuk itu. Mau tak mau dia juga menikmati cerita tersebut. Dan kini dia hadir di rumah Anwar, menjadi tamu yang mengantarkan foto yang diminta, hasil jepretan pada 2011 lalu. Jadi, ketika Anwar mengajaknya salat, tak ada alasannya untuk menyanggah, bukan?

Usai salat Asar, Anwar dan sang tamu kembali duduk di teras rumah yang dipenuhi bunga. Mata sang tamu kembali menatap poster film Arsan & Aminah, sedang Anwar memperhatikan vespa yang sebelum salat dia bersihkan. Dia berdiri dan langsung menyingkirkan kain lap dari jok yang sudah tak asli lagi.

”Aku beli vespa ini dari tentara. Dulu kereta ini diberikan pemerintah sebagai hadiah karena dia jadi pasukan yang dikirim ke Kongo,” kata Anwar dengan bangga.

Pun tanpa diminta dia ceritakan tentang Pasukan Garuda atau yang lebih dikenal dengan Kontingen Garuda III (Konga III). Pasukan itu berjumlah 3.457 orang, di bawah pimpinan Kemal Idris. Pasukan yang terdiri atas Batalyon 531/Raiders, satuan-satuan Kodam II/Bukit Barisan, Batalyon Kavaleri 7, dan unsur bantuan tempur lainnya. Mereka berangkat sebagai pasukan perdamaian di bawah United Nations Operation in the Congo alias UNOC dan bertugas pada 1962 hingga 1963. Bertugas karena Republik Demokratik Kongo, negara di Afrika itu, sedang bergolak. Sebelumnya ada juga Konga II yang dipimpin Solichin G.P. dan diberangkatkan ke Kongo pada 1960.

Begitulah, setelah menyelesaikan tugas perdamaian itu, Pasukan Garuda menerima tanda penghargaan dari pemerintah. Ada yang mendapat uang, beberapa peti jarum jahit, dan juga vespa. Khusus vespa, mereka yang kepangkatannya tinggi mendapat vespa berwarna hijau dengan kekuatan 150 cc, sedangkan bagi kepangkatan yang lebih rendah mendapat vespa yang berwarna kuning dan biru berkekuatan 125 cc.

 

Pada vespa hadiah itu dipasangkan tanda nomor prajurit pada sisi sebelah kiri setang yang berbentuk oval terbuat dari bahan kuningan serta sebuah piagam penghargaan yang menyertainya. ”Sayangnya tak ada lagi nomor prajurit di setang kereta ini,” jelas Anwar.

Sang tamu tertawa. ”Pernah Ayah bawa jalan-jalan dia?”

”Aku dapat bangkainya,” balas Anwar tertawa. ”Tapi ini sejarah, patut dikenang,” tambahnya.

”Termasuk yang jelek-jelek?”

”Tergantung. Kalau kaulihat vespa ini jelek, ya, jeleklah dia. Kalau aku, melihatnya bagus, makanya terus kulap dia biar kilap. Tahu kau, yang ini rakitan Jerman, bukan Italia!”

Sang tamu tak membantah. Dia sama sekali tidak tahu soal vespa. Dia malah tertarik dengan poster yang tampak menonjol di dinding rumah Anwar. Dia pun langsung berdiri mendekati poster itu. Membaca sekian tulisan yang ada di sana, terutama nama-nama. ”Itu sebabnya nama Ayah pakai Kongo, eh, kok Congo? Pakai C dan bukan K?”

”Itu kan cuma ejaan. Terserah, mau pakai K atau C, orangnya kan aku juga. Tapi, bukan karena vespa namaku dapat Kongo atau Congo. Ini lebih karena dulu aku niat kali ikut pasukan itu. Terus, rambutku kan keriting dan kulitku hitam, kayak orang Afrika lah. Jadi, kawan-kawanlah yang kasih julukan itu.”

”Ayah, gak terganggu dengan poster ini? Kok masih dipajang?”

Anwar tertawa renyah. Tak ada seram pada wajahnya. Padahal, belakangan dia lebih dikenal sebagai sosok yang mengerikan, yang membunuh orang PKI di Sumatera Utara, sosok jagal yang paling dicari. Ini semua karena film The Act of Killing yang menjadikannya pemeran utama.

”Aslinya kan filmnya yang diposter itu, bukan yang belakangan. Judulnya ya film itu, bukan yang belakangan. Seperti yang kautahu, aku kan suka bercerita. Dengan cerita aku jadi senang. Jadi dia minta aku cerita, ya sudah. Gak tahunya direkam, dijadikan film ceritaku itu. Sementara film aslinya, kayak di poster itu, entah apa jadinya. Ditipunya aku.”

”Ayah terlalu sipanggaron!”

Anwar tertawa lagi. ”Biarlah, biar orang-orang senang. Biar dia senang. Biarpun gara-gara film itu aku dibuat gak tenang. Yang penting, aku yakin dengan apa yang kulakukan tempo hari. Masalah itu benar atau tidak, itu kan urusan Tuhan. Siapa yang tahu? Aku menunggu itu, tidak lama lagi.”

”Ayah pasrah?”

 

”Enggak! Aku kan melawan soal penipuan yang dia lakukan itu. Kalau apa yang kulakukan di masa lalu itu, itu urusan lain. Membunuh adalah tindakan yang jahat, menghilangkan hak orang untuk hidup, tapi lihat dulu siapa yang kita bunuh. Apa yang telah dia buat dan sebagainya.

Terus kalau kita yang dibunuh, apakah ada jaminan yang membunuh kita juga akan dianggap sebagai penjahat? Jangan-jangan dia jadi pahlawan. Lalu orang yang korupsi saat ini, memakan hak rakyat dengan rakus, apakah ada jaminan dia tidak akan menjadi pahlawan di masa depan?” kata Anwar, kali ini suaranya agak meninggi.

”Sudahlah, Yah. Cuma kenapa tak dilepas poster ini?”

”Kenangan. Manis atau pahit kan tetap kenangan. Kukenang dia yang menipuku itu dengan poster ini.”

”Padahal, kalau dia jujur saja, Ayah pasti cerita yang lebih seram kan?” canda sang tamu.

Anwar tertawa lepas. ”Ya, kenapa harus menipu. Seperti vespa itu, kubeli dari anak tentara dan dia katakan sudah tidak hidup mesinnya. Pun BPKB yang bertulis ex Brigade Garuda juga sudah hilang. Jujur dia. Aku tetap mau karena yang kulihat sejarahnya, bukan fungsinya.”

Sang tamu diam. Dia tak tahu harus bicara apa lagi. Hari sudah mendekati senja dan dia harus pulang.

”Jadi berapa yang harus kubayar untuk foto itu?” cetus Anwar.

Sang tamu tertawa sambil buru-buru menuju skuternya yang bukan vespa. (*)

 Lau Mulgap, 2022

 

MURAM BATU

Lahir di Limapuluh, Sumatera Utara. Pengarang kumpulan cerpen Hujan Kota Arang (Basabasi, 2018), novela Tepi Toba (Basabasi, 2019), dan kumpulan cerpen Kartini Boru Regar, Tahi Kecoa, serta Walikota (Gading, 2020). Sejak balita tinggal di Langsa, Aceh, begitu tamat SMA merantau ke Jogjakarta, lalu sempat jadi jurnalis di Medan. Kini menetap di Deli Serdang.

Editor : dar
Reporter :

Berita Terbaru