Kepingan Sejarah Seorang Lelaki Hakka

  • 2022-10-16
COVER BUKU


Novel biografi Tjong Kie Lin dan keluarga ini disajikan secara periodik dan kronologis. Cara penuturannya agak berputar-putar. Tapi, setidaknya sang penulis bisa menunjukkan kepemimpinan heroik seorang lelaki Hakka yang sangat berdedikasi pada keluarga, masyarakat, dan Indonesia.

 

KHUANG Tzu, Bapak Taoisme, gemar menyamakan dirinya dengan kupu-kupu. Menjelang wafat, para murid sepakat hendak membaringkan guru mereka dalam peti indah. Agar jasadnya tidak dimangsa burung gagak. Khuang Tzu tak setuju, ”Kalian takut aku dimangsa burung gagak. Toh dalam peti kemilau sekalipun aku tetap dimakan cacing dan rayap. Yang kubutuhkan hanya beberapa lembar daun pisang untuk rebah selamanya.”

Khuang Tzu tidak mau terikat kefanaan dunia. Ia ingin terbang lepas bebas. Seperti kupu-kupu. Lambang cinta, pengorbanan, kerendahan hati, dan kebahagiaan. Sesampai di tujuan, kupu-kupu berjatuhan. Kematian serangga cantik itu menandai awal musim hujan.

Kupu-kupu metafora ketabahan Tjong Kie Lin, tokoh Tionghoa perantauan Indonesia yang dikisahkan Herry Gendut Janarto dalam novel Tjong. Kie Lin suri teladan adaptif dan tahan uji.

Novel biografi Tjong Kie Lin dan keluarga ini disajikan secara diakronis sekaligus sinkronis. Alur kisah diakronis dituturkan secara periodik dan kronologis. Periodisasi dipecah lima bagian.

Zaman Kaisar Qing runtuh. Zaman depresi besar dunia dan perang panjang Kuomintang-Komunis Tiongkok. Zaman Jepang dan revolusi kemerdekaan. Peristiwa 65 dan Orde Baru. Sinkronisnya berupa ketangguhan spiritual tokoh utama dalam mendidik dan membahagiakan keluarga.

Dia lahir 16 Oktober 1911 dengan nama Tjong Kie Gui di Desa Fu Yim Tong, Distrik Moiyen, Provinsi Guangdong, Tiongkok. Kelahirannya bertepatan dengan revolusi Xinhai yang di dalamnya diwarnai perseteruan tentara Kaisar Qing melawan pasukan pemberontak Sun Yat Sen. Konflik ini menandai transisi kekuasaan Kaisar Pu Yi pemerintahan republik.

Tjong Piang Yung dan Li Yu Fang, orang tua kandung Kie Gui, petani miskin Hakka. Komunitas etnis minoritas korban diskriminasi dan persekusi ketika Dinasti Qing berjaya.

 

Genosida anti-Hakka membuat etnis ini melakukan diaspora ke Guangdong, Fujian, dan Guangxi. Juga menyebar ke seantero Asia Tenggara. Mereka dikenal sebagai kelompok etnis yang berani, gigih, dan ulet menghadapi kesulitan.

Kie Gui saat bayi diramal kelak hidup makmur dan gemar beramal. Namun, tidak akan berkembang bila tetap diasuh orang tua kandung.

Karena itu, dalam usia tiga tahun, Kie Gui diadopsi keluarga pedagang kaya, Nenek Mu Lan dan Ibu Wei Ling. Ia pindah ke Desa Xian Lo Fu, diberi nama baru Tjong Kie Lin.

Usia 14 tahun, pada 1925, nenek angkat dan ibu tiri mengirim Kie Lin ke tanah Jawa. Menyusul Tjong She Kong, ayah adopsi, pedagang hasil bumi di Kutowinangun, Kebumen, Jawa Tengah.

Ia menumpang kapal Belanda. Melewati rute Guangzhou, Batavia, dan Sam Pao Long (Semarang). Hanya setahun membantu ayah angkat mengurus toko beras dan palawija, dia minggat dari Kutowinangun.

Dia tidak tahan dengan perilaku kasar Tjong She Kong. Ayah angkatnya tersebut cemburu berat, bahkan hanya untuk relasi biasa Kie Lin dengan Yu Ke Ke, istri kedua She Kong.

Kie Lin pindah ke Gombong, juga masih di Kebumen. Bekerja serabutan di toko milik pedagang marga Tjong juga. Pada 1929 dia bertualang ke Bandung, ikut pedagang semarga.

Dia berbakat memasak menu khas Hakka. Juga dikenal mudah beradaptasi. Serta bertalenta pula menjadi poliglot. Dia fasih berbahasa Hakka, Belanda, Jawa, Sunda, dan Melayu. Keprigelan itu mendukungnya dalam merajut jejaring sosial.

Ketika itu perekonomian sedang lesu, dihantam krisis besar. Tapi, pada zaman sulit tersebut Kie Lin justru ketiban hoki. Menang lotre berhadiah besar yang kemudian dia jadikan modal buat membuka usaha sendiri.

Juga dijadikannya bekal untuk mudik. Di kampung halaman, ia menikahi Liong Djung Ing, yang ayahnya kelak dikenal sebagai saudagar kaya. Dia juga bereuni dengan orang tua kandung. Pernikahan mereka berlangsung di tengah perang kelompok Kuomintang melawan Komunis Tiongkok.

Apesnya, saat balik ke perantauan, dia ditipu mitra usaha saat transaksi jual beli tempat usaha di Bandung. Sejak 1939 dia pindah-pindah di Magelang, Wonosobo, dan Temanggung, mengembangkan usaha mertua.

Pada 1944 dia mendarat di Jogjakarta. Toko miliknya pada masa revolusi 1947–1949 difungsikan pula sebagai klinik korban perang. Juga gudang amunisi dan obat-obatan. Saat Kie Lin mengungsi ke Batavia, toko dan pabrik kaus jadi bancakan kerabat dekatnya. Harta ludes dijarah keluarga yang dipercaya mengelola.

Dia dikaruniai 12 anak sepanjang 1935–1960. Karena sering menjadi korban penipuan, Kie Lin dan Djung Ing terdorong menyekolahkan anak-anak mereka hingga perguruan tinggi. Agar tidak lugu dan naif seperti sang bapak yang hanya tamatan SD dan ibu lulusan SMP.

 

Novel ini ditulis berdasar kisah nyata. Woen Hau, anak ke-11, narasumbernya. Bersama Mi Koen, sang kakak, pada 2009 Woen Hau napak tilas ke kampung halaman orang tua. Kie Lin wafat 9 Agustus 1980 di Jogjakarta. Kini generasi ketiga keturunannya tersebar di Prancis, Belanda, Jerman, Amerika, Tiongkok, dan Hongkong.

Penuturan cerita novel ini agak berputar-putar. Mbulet. Terjadi anakronisme sejarah. Tokoh, tempat, dan waktu terjadinya peristiwa lebih mempresentasikan saat ini, bukan masa lalu. Ada lubang dalam menyajikan pernik-pernik dan detail mozaik tradisi dan kebudayaan Tiongkok. Terasa sangat kontemporer.

Kendati demikian, penulis berhasil menunjukkan kepemimpinan heroik lelaki Hakka. Seorang protagonis berintegritas. Sangat berdedikasi pada keluarga, masyarakat, dan bangsa Indonesia. Sekaligus tetap terpaut dengan negeri leluhur. (*)

 

Judul novel: Tjong

Penulis: Herry Gendut Janarto

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Tahun: 2022

Tebal: xix + 329 halaman

 

 

*) J. SUMARDIANTA, Guru sosiologi SMA Kolese De Britto, Jogjakarta

Editor : dar
Reporter : jpc

Berita Terbaru