Kekhusyukan Acep Zamzam Noor

  • 2022-10-30
COVER BUKU


Kumpulan sajak ini kembali memperlihatkan bagaimana Acep Zamzam Noor mengolah fitur alam sebagai metafora bagi tubuh, erotika, dan spiritualitas. Bedanya, kali ini dia tak lagi memperlihatkan situasi mencekam yang biasanya ditebalkan melalui strategi jukstaposisi.

 

SEJAK dekade 1980-an, Acep Zamzam Noor telah menghasilkan sajak-sajak yang mengolah fitur alam sebagai metafora bagi tubuh, erotika, dan spiritualitas. Meski pada era reformasi ia sempat menghasilkan sajak-sajak yang tegas dalam tanggapan sosial, kekhusyukannya pada tema pertama tadi tetap menjadi pilihan utama.

Kumpulan sajaknya yang terbaru, Gema tanpa Sahutan, kembali memperlihatkan kekhusyukan tersebut. Kali ini dengan sajak-sajak yang lebih ringkas dibanding, misalnya, sajak-sajak dalam Di Luar Kata (1996), Di Atas Umbria (1999), atau Membaca Lambang (2018).

Gema tanpa Sahutan dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama, Tak Kunjung Sampai (21 sajak), berisi sajak-sajak yang berpusat pada kerinduan dan pencarian aku-lirik untuk memahami hubungannya dengan subjek kedua (kamu), siapa pun subjek kedua ini. Aku-lirik melontarkan permenungan dan pembayangan atas hubungannya dengan subjek kedua.

Permenungan dan pembayangan yang tak pernah selesai selalu disusupi keragu-raguan yang kerap menimbulkan beban derita (…sekian lama cinta menjadi beban/Bagi punggungku yang renta, ”Batas Waktu”, halaman 15), selain juga menimbulkan tensi-tensi yang tajam (Tubuhmu kitab rahasia/Yang hanya bisa kubaca dengan mata terpejam, ”Kitab Rahasia”, halaman 18).

Hubungan dua subjek tersebut menjadi kompleks, tampak dari pengibaratan yang berubah-ubah, disebabkan situasi asimetris di mana cuma aku-lirik yang bersuara, sementara subjek kedua tak pernah hadir secara otonom tanpa melalui suara aku-lirik. Relasi seperti ini mengantar pada model relasi antara manusia dan Tuhan(nya) yang, apabila kita lepaskan dari lembaga-lembaga formalnya, akan mengarah pada laku spiritual; suatu pencarian terus-menerus, yang memang tak kunjung sampai.

 

Bagian kedua, Terdengar dari Jauh (25 sajak), melonggarkan pencarian di bagian pertama dengan menggeser perhatian ke momen-momen yang melintas sesaat; momen-momen yang menangkap gerak waktu dan alam yang kemudian menerbitkan penyimpulan-penyimpulan, sembari tetap berpijak pada model relasi sebelumnya.

Di bagian ini, sejumlah sajak dikosongkan dari subjek-lirik sehingga momen-momen sesaat dalam gerak alam yang subtil hadir secara otonom. Aku-lirik juga tampak lebih yakin dengan penyimpulannya meski tetap mempertahankan tensi yang tajam dalam penyimpulan tersebut, misalnya terbaca dalam sajak ”Satu”: Aku datang/Menjumpai diriku/Dalam dirimu//Kau pergi/Meninggalkan dirimu/Dalam diriku (halaman 48).

Kondisi mental yang lebih yakin ini cenderung membawa aku-lirik ke laku pemujaan ketimbang beban derita sebagaimana yang tampak di bagian pertama. Meski keragu-raguan tetap saja membayang (ditandai, misalnya, lewat penggunaan kata ”mungkin”), keragu-raguan seperti ini bukanlah keragu-raguan yang fatalistik.

Melainkan suatu kesadaran akan ketakmutlakan segala sesuatu yang pada akhirnya meredam obsesi pencarian dan mengubahnya menjadi kepasrahan (Tak perlu kuterjemahkan lagi sesuatu yang akan terjadi/Iman adalah napas yang mengendap bagi keseimbangan/Hidup dan mati, ”Warna Surga”, halaman 44).

Bagian ketiga, Gema tanpa Sahutan (30 sajak), lebih banyak berhubungan dengan tempat, dalam hal ini tempat-tempat tertentu di dunia faktual; Bali, Thailand, dan Malaysia. Meski begitu, perujukan soal tempat-tempat tersebut cuma tertangkap lewat judul.

Tampaknya apa yang penting bukanlah tempat-tempat tersebut, melainkan, sekali lagi, momen-momen sesaat yang menjadi refleksi dari laku spiritual sang subjek. Di bagian ini, ada perbedaan antara sajak-sajak dengan judul nama-nama tempat di Bali (Ubud, Tirtagangga, Kintamani, Batur, dll) dan sajak-sajak dengan judul nama-nama tempat di luar negeri (Chao Phraya, Hat Yai, Khlong Hae, Stadthuys, dll).

Pada sajak-sajak berjudul nama tempat di Bali, tak tampak adanya subjek-lirik. Apa yang tampak cuma gerak alam dan waktu sehingga memunculkan sugesti keheningan. Sebaliknya, sajak-sajak berjudul nama-nama tempat di luar negeri lebih riuh karena hadirnya subjek, baik aku-lirik maupun sosok lain, yang mengalami dan merasakan peristiwa.

Perbedaan tersebut mengarahkan pada dua medan yang bertentangan: keriuhan dan keheningan. Dua medan ini bisa dibaca sebagai pantulan dari dua bagian sebelumnya; motif pencarian dan kerinduan memantulkan keriuhan, sedangkan motif kepasrahan memantulkan keheningan. Keriuhan dan keheningan, pencarian dan kepasrahan, tak pelak merupakan motif abadi dalam upaya manusia menjalani kehidupannya.

Meski Gema tanpa Sahutan tetap memperlihatkan kekhusyukan Acep Zamzam Noor pada fitur-fitur dan tema yang telah lama digarapnya, dibandingkan sajak-sajak dalam kumpulan yang sudah disebut di atas, sajak-sajak dalam kumpulan ini tak lagi memperlihatkan situasi mencekam yang biasanya ditebalkan melalui strategi jukstaposisi.

Tampaknya, kekhusyukan Acep Zamzam Noor telah sampai pada titik tertentu dan menjadikan sajak-sajaknya, sebagaimana yang ditulis Tia Setiadi, kurator buku ini, ”seperti tetesan air yang membuat pertautan kita dengan dunia dipersegar kembali.” (*)

 

Judul: Gema tanpa Sahutan

Penulis: Acep Zamzam Noor

Penerbit: Diva Press

Tahun: Juni 2022

Tebal: 95 halaman

ISBN: 978-623-293-699-7

 

*) KIKI SULISTYO, Pendiri Komunitas Akarpohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat

Editor : dar
Reporter : jpc

Berita Terbaru