Pernikahan Dini Pemicu Utama Anak Perempuan Putus Sekolah

  • 2022-12-02
Ilustrasi Ijab Kabul dalam sebuah pernikahan. (Jpc)


PROKALTENG -  Angka putus sekolah di Indonesia masih sangat tinggi. Selain faktor ekonomi keluarga, putus sekolah juga disebabkan pernikahan dini. Pada anak perempuan, 12,27 persen pemicu putus sekolah disebabkan pernikahan dini. Sementara anak laki-laki umumnya putus sekolah karena membantu ekonomi keluarga.

Fenomena putus sekolah menjadi sorotan dalam pidato pengukuhan guru besar Clara. R.P. Ajisuksmo di Jakarta pada Jumat (2/12). Dosen dari Fakultas Psikologi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya itu mengatakan pendidikan adalah hak dasar anak-anak di Indonesia. Bahkan tertuang dalam UUD 1945.

’’Tetapi tidak semua kalangan mempunya kesempatan untuk memperoleh pendidikan,’’ kata Clara dilansir dari jawapos.com. Dia menjelaskan anak-anak adalah kelompok yang paling tidak berdaya dan rentan. Khususnya dalam pemenuhan hak pendidikan. Clara mengatakan faktor ekonomi keluarga menjadi pemicu terjadinya angka putus sekolah.

Dia mengungkapkan 31,99 persen anak yang putus sekolah karena tidak ada biaya untuk meneruskan pendidikan. Dengan kata lain anak-anak yang putus sekolah itu berasal dari keluarga miskin.

’’Pada anak perempuan, alasan putus sekolah lebih banyak karena menikah. Yaitu sebanyak 12,27 persen,’’ katanya. Yang membuatnya miris, pada keluarga miskin, anak perempuan kerap dijadikan menjadi semacam aset. Selain dinikahkan pada usia dini, tidak jarang juga anak perempuan dijual atau dilacurkan.

Dalam pidato bertajuk Pendidikan untuk Anak Marjinal yang Tidak Memarjinalkan itu, Clara juga menyinggung data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Dari data itu disebutkan bahwa dalam periode Januari-April 2021 ada 234 anak menjadi korban tindak pidana perdagangan orang dan eksploitasi. Dari jumlah tersebut, 217 anak diantaranya korban kasus prostitusi.

Clara menekankan anak-anak harus mendapatkan jaminan akses pendidikan. Diantaranya untuk masa depan ekonomi anak-anak itu sendiri. Dia mengungkapkan semakin tinggi jenjang pendidikan, maka potensi penghasilan ekonominya semakin tinggi.

Untuk itu dia mendorong supaya pemerintah terus berupaya memberikan akses pendidikan seluas-luasnya. Termasuk bagi keluarga miskin. Kemudian pemerintah juga harus aktif mencegah adanya pernikahan dini, perdagangan anak, dan praktik prostitusi anak-anak.  

Editor : pri/jawapos.com
Reporter :

Berita Terbaru