Konten dari halaman ini Jejak Kecendekiaan yang Datang lewat Pelabuhan

Jejak Kecendekiaan yang Datang lewat Pelabuhan-Pelabuhan Kuno

- Advertisement -

Buku ini berupaya mengulas kecendekiaan Jawa yang mengartikan bahwa adanya kekuatan dan energi yang menggerakkan orang Jawa di dalam membangun peradaban, pengetahuan, kerakyatan-kebudayaan, dan pandangan atas dunia-akhirat.

BUKU terbaru Nur Khalik Ridwan, Kecendekiaan Jawa: Pesantren, Kitab, dan Tarekat Abad XV–XVI dengan tebal 561 halaman, merupakan buku penting untuk memetakan formasi pengetahuan Jawa. Dari Jawa sebelum Islam ke dalam kerangka Islam.

Pada periode yang termaktub di buku, para sufi di Jawa dan murid-muridnya, termasuk para bangsawan Jawa sendiri, berhasil memformulasi, melakukan transformasi, dan mendirikan beberapa dedhepokan di Jawa. Mulai di barat, tengah, hingga timur Jawa.

Buku ini berupaya mengulas kecendekiaan Jawa yang mengartikan bahwa adanya kekuatan dan energi yang menggerakkan orang Jawa di dalam membangun peradaban, pengetahuan, kerakyatan-kebudayaan, dan pandangan atas dunia-akhirat. Masa yang diambil di buku ini, yakni abad XV–XVI, berfokus pada zaman akhir Majapahit dan peralihan ke dalam masa Islam.

Para wali yang menjadi saka guru dalam peradaban Jawa dan didukung para bangsawan Jawa berupaya memformulasikan ulang Jawa. Itu dilakukan melalui metode-metode tirakat dan acuan-acuan yang digunakan.

Buku Kecendekiaan Jawa juga berusaha memetakan jejak-jejak para wali di tanah Jawa dalam perjalanan dakwah, keilmuan, dan sosial-kemasyarakatan yang terjadi pada abad XV–XVI. Jejak historis kecendekiaan Jawa, pesantren, kitab, dan tarekat yang diikuti para wali di tanah Jawa juga menjadi bagian penting yang dibahas dalam buku ini.

Di antara tokoh penting yang menjadi saka guru tanah Jawa adalah Sunan Gunungjati, Sunan Giri, Sunan Bonang, dan Sunan Kalijaga. Mereka merupakan sosok di balik munculnya beberapa dedhepokan, para wali di tanah Jawa, munculnya pesantren, dan berbagai tarekat yang tersebar di Jawa.

Di bagian awal, buku Kecendekiaan Jawa menjelaskan jejak masa lalu sebelum abad XV–XVI, di mana pada masa ini berbagai cerita muncul dari Begawan Shidiq Mulya hingga Syekh Jumadil Kubra. Bagian ini juga menyoroti perjalanan internasional laut dan muslim di Jawa, yakni tentang kuda sembrani Agastya, artefak-artefak erahu, dan komunitas Leran.

Lebih lanjut, Ridwan juga mengulas detail tentang bagaimana pintu masuk kecendekiaan Jawa dari pelabuhan-pelabuhan kuno dan jejak Islam di pesisir utara di abad XV–XVI. Buku ini dapat dikatakan sebagai upaya untuk menelusuri jejak-jejak kecendekiaan Jawa yang tidak diketahui kebanyakan orang. Awal mula pesantren-pesantren dari generasi yang lebih belakangan di abad XV–XVI dan karya-karya yang diacu generasi yang lebih belakangan di kurun abad tersebut.

Buku Kecendekiaan Jawa juga menyoroti karya-karya yang disusun generasi yang lebih belakangan di abad XV–XVI beberapa wewekas, ipat-ipat, dan piwulang-piwulang yang diproduksi Sunan Gunungjati, dan beberapa karya lainnya yang dihasilkan Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, dan beberapa wali di tanah Jawa.

Beberapa karya tersebut juga telah tersebar dan menjadi acuan bagi para wali dan cendekiawan Jawa dalam dakwah-dakwah mereka. Sementara di bagian selanjutnya, tarekat-tarekat yang diikuti beberapa sunan di tanah Jawa yang disebutkan beberapa sumber babad juga disebutkan dalam buku ini.

Terakhir, buku Kecendekiaan Jawa mengulas sebuah renungan bagi generasi baru, terutama tentang bagian penting, yakni soal menjala angin: berkhayal terus-menerus, atau mengandalkan semata khayal untuk menggambarkan apa yang dilihat, didengar, dan dibaui, lalu dinyatakan sebagai ”Kenyataan Hidup”.

Buku Kecendekiaan Jawa menyediakan khazanah dan cara pandang untuk melihat itu semua sebagai kenyataan hidup, bukan lagi khayal. Akan tetapi, khayal juga dibutuhkan untuk menggali imajinasi dan ide untuk melahirkan karya-karya baru untuk menebarkan manfaat. Khayal juga menjadi bagian yang ada dalam martabat akal dan tidak bisa hilang, tetapi dapat dilembutkan dan ditingkatkan terus-menerus secara berkelanjutan.

Secara garis besar, buku ini merupakan rujukan dan bacaan penting untuk menelusuri jejak-jejak kecendekiaan Jawa pada abad XV–XVI. Saya rasa belum ada buku yang begitu detail menjelaskan historisitas kecendekiaan Jawa dari pesantren, kitab, hingga tarekat sedetail dan selengkap buku ini.

Melalui serat, babad, dan literatur klasik hingga kontemporer, Nur Khalik Ridwan meramu buku ini dengan baik dan tersusun sistematis. Bagi siapa pun yang ingin mengetahui dan menjelajahi lebih dalam tentang persoalan kecendekiaan Jawa, terutama pada masa abad XV–XVI, buku Kecendekiaan Jawa merupakan literatur yang cocok untuk dibaca. Untuk memahami jejak-jejak para wali di tanah Jawa dalam upaya perjuangan mereka berdakwah dan mendirikan beberapa dedhepokan serta menyebarkan Islam di berbagai wilayah di Jawa. (*)

 

*) FIRMANDA TAUFIQ, Kandidat doktor kajian Timur Tengah Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta

 

Judul buku: Kecendekiaan Jawa: Pesantren, Kitab, dan Tarekat Abad XV–XVI

Penulis: Nur Khalik Ridwan

Penerbit: NDiko Publishing

Tahun: Maret 2023

Ukuran : 15 x 23 cm

Tebal: xiv + 561 halaman

- Advertisement -
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HUKUM KRIMINAL

Recent Comments